Sejak saat itu Bosku berubah menjadi pendiam, dia yang dulu perhatian dan murah senyum padaku tak pernah lagi menyapa. Biasanya dia suka mampir ke meja kerjaku untuk menanyakan kabar tapi sekarang dia seperti hilang ditelan bumi. Sehari-hari dia pergi bersama staf kepercayaan dan mengunci dirinya di dalam kantor pribadinya. Sibuk memeriksa berkas dan kontrak tanpa memperdulikan apapun yang ada di luar dinding ruang kerjanya. Tidak ada petugas yang boleh masuk kecuali orang yang dia inginkan atau tamu yang diundangnya. Meski aku berusaha menemui untuk menyerahkan laporan atau sengaja membuat alasan agar bisa minta maaf, tapi dia tak mau menjumpaiku. Aku seperti berada di tengah timbangan, berdiri di antara dua laki-laki problematik yang tak mau lepas dariku. Salah satunya mantan suamiku

