48

1105 Words

Mengingat perkataan Nyonya Siska, hatiku remuk redam. Aku berusaha menghapus jejak air mata sambil menghibur diriku sendiri, alih alih naik taksi, aku ke stasiun MRT terdekat lalu naik kereta api cepat, sengaja menumpang moda transportasi tersebut agar aku bisa menghibur hati sambil melihat pemandangan kota dari atas. Ingin kuulur waktu, agar tidak berjalan lebih cepat, agar aku bisa menghapus bekas kesedihan dan menyunggingkan senyum di hadapan orang tuaku. Aku tahu mereka sudah begitu terbebani dengan rangkaian hidupku yang penuh derita, drama perceraian dan betapa memalukan mantan menantu mereka yang telah menjalin hubungan dengan iparnya sendiri. Sebenarnya aku tidak ingin menularkan kesusahan itu pada mereka, tapi, yang namanya orang tua, pasti akan tahu apa yang terjadi pada anakn

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD