12

1018 Words
Dengan hati remuk redam, aku duduk di sisi tempat tidur berusaha untuk meredakan tangisan dan berpikir dengan jernih, ada koper pakaian yang kusimpan di atas lemari menunggu untuk kuisi lalu kuseret pergi dari tempat ini. Aku sadar perjuanganku sia-sia, hidupku seperti sandiwara yang penuh dengan omong kosong. Rumah tangga yang kujalani seperti panggung yang harus diisi dengan kepura-puraan bahwa aku bahagia padahal hatiku tertekan. Aku mendedikasikan diriku sebagai istri yang setia tapi suamiku tidak bisa menjaga sikapnya. Aku menunggu sesuatu yang tidak mungkin berubah, yakni perubahan Arman yang terlalu mementingkan iparnya tanpa memperdulikan perasaanku. Menurutnya aku terlalu cemburu padahal sebenarnya dialah yang buta. Selagi mencoba untuk meredakan gejolak hatiku ibu mertua di luar sana sedang memarahi anaknya, dia mengomel pada aruni dan Arman, dia mencecar mereka panjang lebar, dan meminta Mas Arman untuk lebih menjaga sikapnya. Ibu mertua, berusaha memberi pengertian pada anaknya bahwa dia jangan sampai menyakiti istri dan mencampakkanku. "Hanifah adalah tanggung jawabmu jadi tugasmu menjaga hati dan jiwanya. Dia istri yang telah kau terima akadnya, jadi tolong jaga amanah yang telah dipercayakan ayahnya Hanifah kepadamu." "Tapi sikapnya berlebihan Bu, aku tidak nyaman." "Hanya karena kau tidak nyaman, Jadi kau ingin mendepaknya?" Mas Arman terdiam. "Kau boleh berhubungan dengan siapapun tapi tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi istrimu. Dia melayani semua keperluanmu, pakaian, makan, hingga tempat tidurmu jadi, jangan buta, Arman!" "Jangan menghakimi seakan aku melakukan sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan! Aku hanya menafkahi dan membantu kehidupan kakak iparku, aku berusaha membantunya disaat orang lain sibuk semua!" "Ibu tau itu." "Lalu apakah ibu akan menilaiku bersalah?!" "Itu bukanlah dosa, tapi kau juga harus menjaga hati istrimu." "Menjaga hatinya dari apa?! Aku tidak berselingkuh! Aku juga tidak meniduri aruni! Apa yang harus kujaga sementara semuanya berjalan dengan normal?!" Mas Arman berusaha membalik logika, berusaha membela dirinya sendiri dengan pembenaran yang luar biasa. "Apapun bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu dan kebersamaan." "Ibu...ini keterlaluan, aku menantu ibu, teganya ibu berpikir kalau aku akan menggoda Arman!" Aruni langsung buka suara untuk membela dirinya, seperti biasa, wanita yang pandai bersilat lidah dan cari muka itu, benar-benar luar biasa. "Bukan begitu, ibu berusaha memberi pengertian pada kalian berdua agar interaksi kalian bisa dijaga dengan baik, agar kalian menjaga perasaan Hanifah. Bagaimanapun dia adalah istri Arman!" "Menjaganya dari apa? Kecemburuan yang ada di hatinya seharusnya dia sendiri yang mengendalikannya. Dia yang harus berubah demi keberlangsungan rumah tangga kami, bukan kami yang terpaksa saling menjauhi karena prasangka buruknya Hanifah!" Mas Arman menekankan pada semua orang bahwa akulah yang harus mengubah diriku, bukan dia atau aruni. "Ah, ibu pusing terserahlah!" Dari celah pintu aku melihat ibu mertua menjatuhkan dirinya di sofa sambil memijiti keningnya. Wanita paruh baya itu kehilangan kata-kata untuk memberi pengertian pada putranya. Disaat beliau mencoba untuk menyadarkan putranya, malah putranya yang berceramah dan membuat ibunya kehilangan kata-kata. Mungkin benar aku yang harus mengendalikan prasangka dan kecemburuanku, mungkin aku sudah salah paham selama ini, tapi melihat bagaimana interaksi dan dekatnya mereka, bagaimana aruni bergantung padanya dan dia yang selalu ada untuk wanita cantik itu ... siapapun pasti akan berprasangka. Jadi, daripada makan hati lebih baik aku mengalah pergi. Iya kan? Dan ... kuturunkan koper pakaian dari atas lemari. Kuisi dengan pakaian dan jilbabku, juga barang-barangku. Aku tidak bisa lagi menahan diri dan buang-buang waktu. Namun, sesaat sebelum menyeret koperku, bayang anak-anak terlintas dalam pikiran ini. Lalu terpikir, jika aku pergi dari rumah sekarang, lalu siapa yang akan memperdulikan mereka, siapa yang akan mengurus kebutuhan dan memberikan mereka kasih sayang. Jika aku membawa serta mereka sekarang juga, maka Mas Arman dan ibu mertua akan menghalangiku. "Jadi, aku harus bagaimana?"dalam kebimbangan langkah kakiku terasa begitu berat, hatiku juga berat. Kutinggalkan koperku di kamar lalu aku keluar, orang-orang yang ada di ruang tamu menatap padaku saat membuka pintu, ketika pandanganku bertemu dengan suami, aku hanya bisa membuang napas kasar, sambil beralih ke kamar anak-anak. "Kalian mau ikut bunda atau mau tetap di sini?" Tanyaku pada kedua anakku yang sudah berbaring di ranjang mereka. Rupanya Inayah dan Dika belum tidur, mereka menyimak percakapan yang terjadi di ruang tamu dan ketegangan yang ada. Sesaat anakku terlihat bingung, mereka saling menatap satu sama lain dan sedih sekali. "Emangnya kita mau ke mana Bunda?" Dika bertanya padaku. "Ke tempat nenekmu! Ayo kita pergi dari rumah ini!" "Hei, mau kau bawa ke mana anakku!" Ujar Arman yang langsung berjalan cepat dari ruang tamu untuk menghampiriku. "Apa yang kau katakan pada inayah dan Dika?" "Aku sedang memberi pilihan pada anakku tentang siapa yang mau mereka ikuti! Aku tidak bisa bertahan denganmu jika kau selalu egois dan mementingkan kehendakmu sendiri." "Aduh, Nak, jangan begini...." Ibu mertua panik atas keputusanku yang mau hengkang dari rumah kami. Termasuk keputusan untuk membawa anak-anak menjauh dari ayahnya. Wanita itu nampak cemas dan segera meraih tanganku. "Ibu sudah dengar bagaimana Mas Arman rela mendebatmu demi membela keberadaan aruni. Sebenarnya, permintaanku tidak banyak pada suamiku, Bu, aku hanya ingin dia menjaga jarak, mengurangi pertemuan, meski dia akan selalu mengirimkan jatah rutin. Aku tidak keberatan tentang pemberian, tapi aku hanya ingin suamiku memprioritaskan keluarga Karena masih banyak yang harus dibenahi di sini!" "Kau tidak salah Nak, tolong tenanglah, kembalilah ke kamar lalu cobalah untuk berpikir jernih." "Aku sedang berpikir jernih ibu, bahkan aku lebih menemukan kesadaranku setelah perdebatan panjang ini. Aku telah mencoba mencari kata-kata dan cara terbaik agar suamiku mengerti maksudku. Tapi semakin diberitahu, semakin meradang saja." Ibu mertua hanya menarik nafas panjang, kali ini dia menatap anaknya dengan tajam sementara lelaki itu terlihat takut pada ibunya. "Arman, tolong selesaikan masalah ini, Ibu tidak mau ada yang bercerai, ada yang kabur dari rumah membawa anak-anak dan membuat ibu malu di mata besan ibu. Tolong Arman!" "Tapi Bu...." Mas Arman ingin menjawab perkataan ibunya tapi ucapan itu hanya mengambang di udara. "Tidak Arman, yang terjadi sekarang sudah terlanjur rumit jadi selesaikan semuanya. Aku akan mengajak aruni pulang." "Tapi aku belum mau pulang," jawab aruni dengan wajah tidak tahu malu. "Mau ngapain di sini, biarkan suami istri itu menyelesaikan masalah mereka. Kamu ikut ibu!" Ucap ibu dengan tegas. Merasa tidak punya pilihan wanita itu langsung mengambil tasnya dan membalikan badan dengan cemberut. Lalu ia pun meninggalkan rumah kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD