"Haaargh!" Jeff Lincoln menggeram kesakitan saat taring runcing makhluk berbulu serigala merobek tulang belikat lengan kanannya. Ia terus berontak mencoba lepas dari gigitan makhluk jadi-jadian berkemeja biru.
Srrraaakkk!
Gulp...
Sang manusia setengah serigala mengoyak lengan kanan lawan, menikmati tiap jengkal potongan kecil daging segar sang kawan lama. Ia kembali menatap Jeff yang masih ditindih. Lelaki yang semula kurus berambut pirang, mulai berubah total jadi manusia kekar berbulu hitam lebat. Kancing kemejanya mulai lepas satu persatu seiring tubuhnya yang membesar.
Jeff yang hanya memikirkan dendam atas kematian keluarga kecilnya, meringis menahan sakit. Ia segera meraih kembali alat penembak jenis revolver antik yang tergeletak di sebelah kiri, lanjut menekan pelatuknya setelah menodongkan moncong senjata pada badan si manusiajadi-jadian.
Dor!
"Aaaurgh!" Sang manusia serigala berlutut memegangi bekas tembakan lawan. Ia tak berkutik saat Jeff lanjut menembakkan timah panas pada badan kekarnya.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Lima butir peluru bersarang di d**a sasaran, sedang dua sisanya masuk menembus leher kekarnya. "You bastard!" Jeff yang berselimut emosi, kini membenturkan alat penembak di tangan pada wajah si manusia setengah serigala.
Bwaak!
"Aaaaurgh!" Nicole membalas cepat dengan mengempaskan tangan kanannya yang bercakar.
Srraakk!
"Hargh!" Jeff terpental membentur dinding sebrang ruangan. Ia nyingir kesakitan masih erat memegang revolver pada genggaman tangan.
Wiiiu... Wiiuuw... Wiiuuu...
Bunyi sirine mobil polisi tak meredam kebengisan sang makhluk hitam. Sosok bersimbah darah itu lanjut melesat cepat hendak menerkam Jeff. Hingga...
Dlaakk!
"Aurgh!" Sesuatu yang tak kasat mata menghantam manusia serigala. Makhluk bercakar tersebut terhimpit oleh energi tak terlihat.
"Kendalikan dirimu dasar makhluk burik berbulu!" suara seorang wanita menggema di ruang basemen. Disusul langkah pelan dari sosok manusia berjubah merah. Kepalanya tertutup tudung merah. "Enyah dari hadapanku!"
Bulu-bulu binatang pada tubuhnya rontok, tengkorak kepalanya kembali jadi manusia. Wujud Nicole utuh seperti semula, meski luka di perut belum kembali rapat. "Urghh..." Ia jatuh ke lantai menikmati nyeri luka peluru.
Wanita mancung berambut pirang membuka tudung. "Kubilang enyah dari hadapanku!" Ia mengacungkan tangan pada Nicole, menggenggam udara hampa di sekitar, kemudian menariknya ke belakang.
Whusss!
"Haargh!" Nicole yang tercekik oleh energi gaib, tertarik-melayang cepat ke arah pintu masuk basemen, melewati jasad putri kecil Jeff.
"Hmmm..." Wanita berjubah merah melangkah arogan menghampiri Jeff. Netranya tertuju pada luka oleh gigitan sang manusia serigala. "Sekarang, sepertinya kau hanya punya dua pilihan." Ia jongkok menyetarakan tinggi pada Jeff yang duduk bersandar pada dinding. "Menjadi monster dan membunuh semua orang yang ada disekitarmu hingga ajal datang, atau jadi sekutuku untuk melayani Raja sejati."
"Persettan dengan pilihanmu! Siapa kau!" Jeff melotot.
"Ahahahah!" Wanita itu bangkit, memandang rendah Jeff yang pucat kehabisan tenaga. "Aku yang mengantarkan kedamaian..." Ia balik kanan, tersenyum tipis seraya menoleh kecil ke belakang. "Pada keluarga tercintamu."
Mengerti bila wanita itulah yang membantai habis keluarganya, Jeff cepat menembakkan semua timah yang tersisa dari alat penembaknya setelah sejenak mengisi ulang peluru. "Mati kau wanita b*****h!"
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Sembilan butir peluru tak menyentuh punggung si wanita berjubah merah. Semuanya terhenti bak dihalau angin. Manakala sang penyihir menjentikkan jari kirinya, peluru-peluru itu balik melesat ke arah Jeff.
***
(Di tempat dan waktu yang sama.)
John Smith si pria berbusana hitam usai mengambil gambar dari mayat bocah lelaki dan wanita di lantai dua. Ia langsung menyiapkan alat penembak saat mendengar gema tembakan dari basemen. "Jeff?"
Ia terburu-buru hingga tak memperhatikan darah di lantai yang masih basah. Kemungkinan milik Nicole. Barulah usai menuruni tangga, matanya tertuju pada wanita berjubah merah yang berdiri di ambang sana. "Diam di tempat!" serunya menodongkan alat penembak.
"Heheh... John Smith sang pengkhianat. Apa kabarmu?" Ia bertanya santai.
"Elizabeth! Rupanya kau yang melakukan ini semua!"
"Segera, usaha Yang Mulia akan tercapai. Dan janjinya akan lekas terpenuhi. Sayang sekali kau justru membangkang dan berbalik melawan kami!" Ia mengibaskan tangan kanan dari atas ke bawah, menyulut tubuh John dengan api yang entah keluar dari mana.
Lhuuuwb!
John menjatuhkan alat penembak, mengusap-usap badan yang terbakar api. Bagaikan tersentuh es, api yang ia sentuh padam hanya menyisakan asap. Saat kembali memandang lurus, sosok wanita berjubah merah telah lenyap. "Sial!"
***
(Sebuah Apartment, Newyork.)
Raihan yang usai melaksanakan sholat subuh, perlahan merayap masuk ke dalam selimut putih tebal di mana istrinya terlelap. Pria yang kini telah berusia dua puluh delapan tahun tersenyum memandang gadis berbulu mata lentik. Ia lirih memeluk perempuan berusia dua puluh dua tahun tersebut. Perempuan yang kini terbaring tanpa hijab sudah lebih dulu melakukan salat sebelum suaminya bangun.
"Mas Raihan, habis subuh jangan bobok lagi, Mas..." ucapnya mencubit pipi pria beralis tebal.
"Heee... Bangun ya..." Raihan tersenyum sebelum mengecup kening sang istri.
Perempuan berbibir tipis, meraba lengan sang suami seraya membuka mata. "Mas..." panggilnya lembut.
Raihan menyahut dengan berdengung. Ia erat memeluk.
"Aku, barusan bermimpi, Mas..." ungkapnya lirih.
Raihan tersenyum. "Mimpi apa?"
"Mas Raihan menggendongku naik ke puncak gunung, dan di sana... Ada dua gadis kecil dengan pakaian seperti di film kerajaan."
Raihan yang sempat rileks, seketika tegang mengerjapkan mata. "Lalu?"
"Dalam mimpi kau memintaku menjaga dua gadis itu, lalu kau melompat terjun ke jurang. Dan kemudian, dua gadis itu justru ikut melompat menyusulmu." Mata jernih gadis berhidung mancung, membendung air mata.
Raihan yang masih mendekap istri, menggulirkan mata ke kanan dan kiri. 'Dua gadis kecil? Apa mungkin anakku kelak? Dan menyusulku, apa itu artinya mereka akan memiliki kemampuan untuk menolong dalam hal gaib sepertiku dalam usia belia?'
"Ini... Bukan pertanda buruk, kan... Mas?" tanyanya berbisik.
Pria bersorot mata teduh, sedikit bergeser mundur seraya mengelus pipi kanan dan kiri perempuan berwajah awet muda. "Sayang, tidak semua hal mengenai masa depan aku paham," ucapnya lembut. "Tetapi apapun yang terjadi di depan nanti, aku akan mati-matian membahagiakan keluarga kecil kita. Selain tugas dari beliau Ki Panca, hanya dirimu yang jadi kebahagiaanku."
Senyum manis mulai merekah pada bibir tipisnya. Ia lirih memejamkan mata jernih, memberi tanda pada lelaki tercinta.
Raihan yang baru memajukan kepala, segera menoleh ke meja manakala ponselnya berdering. "Hmmm..." Bermaksud tak acuh, ia lanjut menatap wajah sang istri.
"Ssstt.... Angkat dulu," pintanya menahan bibir lelaki berkaos hijau tua. "Siapa tahu penting," imbuhnya.
"Nggih, Bu Nyai... Sendiko dawuh... (Baik nyonya besar, saya laksanakan.)" balasnya tersenyum kecut.
"Halo, assalamualaikum..." sapanya usai menerima panggilan dari kontak bernama Raden R.
'Waalaikumsalam. Apa aku mengganggu bulan madumu dengan Syabila?'
"Hihh, sampeyan. Aku lhoh nembe arep mulai ronde limo," sahutnya terkekeh.
'Ahh... Maaf, tapi aku diminta Ki Panca untuk menyampaikan sesuatu padamu.' Nada bicaranya tegang.
Ia segera duduk, berwajah serius. "Ada apa, Kang?"
'Beliau berpesan agar kau segera pergi dan ambil gambar dari semua prasasti yang dipamerkan nanti malam secara langsung. Dan setelahnya, kau diminta pergi ke suatu tempat di mana legenda mengenai anak iblis berada.'
"Anak iblis?" Raihan mengerutkan kening. "Spesifiknya bagaimana,Kang?"
'Aku pribadi juga kurang paham, beliau hanya menyampaikan itu saja tadi malam.'
"Ngomong-omong, Kang... Apa LHA kembali melakukan pergerakan di Nusantara?"
"Sejauh ini belum, lalu bagaimana denganmu? Ada hal menarik yang kau temukan?'
"Di wilayah sekitarku tinggal, ada kasus pembunuhan berantai. Tapi, aku belum menemukan bukti jika ini juga ulah mereka."
'Berhati-hatilah. Bagaimanapun juga, kota yang kau tinggali itu cukup berbahaya. Bukan karena makhluk-makhluk gaib, tapi juga manusia-manusianya.'
Kyyaaaaaaa!
Syabila dan Raihan sejenak beku, saling memandang. Kepala mereka memproses jeritan apa itu barusan.
'Halo? Raihan? Apa yang terjadi? Kalian baik-baik saja?'
"M-Mas... Suaranya dari kamar sebelah..." Syabila mendekat, merangkul tubuh Raihan yang tengah duduk menelepon. Suaminya memejamkan kedua mata, lirih merapal doa.
"Sayang, kunci pintunya dari dalam, ya?" Raihan bangkit. "Kang, Mbah dukun meh tandang sik. Lanjut mengko maning ya, Kang! (Kang, Mbah dukun mau beraksi dulu. Lanjut nanti lagi ya!)" Pemuda berambut tebal, menggapai blangkon di atas meja kamar. Sejurus kemudian lanjut melangkah cepat keluar kamar apartemen. Ia memutus sambungan telepon, menaruh ponsel ke dalam saku.
Syabila yang bingung hanya menurut, ia menutup pintu dengan wajahnya yang cemas.
Drap Drap Drap Drap!
Laju kaki Raihan di lorong apartemen nan sepi menggema. Ia berhenti pada kamar yang berjarak tiga ruangan dari kamarnya berada. Netra pemuda berblangkon dengan celana hitam panjang, terbelalak saat ia berdiri di ambang pintu apartemen tetangga. "Ealah Gusti... Apa ini?"
Dari tempat ia berdiri, sesosok perempuan yang hanya berbalut kain putih, terpasung di dinding kamar. Tangan kanan dan kirinya ditusuk logam yang membuatnya terpajang di dinding. Begitu pula dengan kedua paha dan perutnya. Ruangan yang Raihan saksikan, dipenuhi darah segar.
'Innalillahi... Manusia laknat mana yang berbuat begini?' Ia memasuki kamar apartemen yang sunyi. Sepasang netra jernihnya tertuju pada korban pembunuhan tak berperi kemanusiaan. Tanpa ia sadari, sesosok pria bersenjatakan alat penembak, tengah menodongnya dari belakang.
Lelaki cepak pirang berkacamata hitam, membidikkan alat penembak hitamnya pada punuk pemuda berkaos hitam.