Baby Blues - 04

2045 Words

“Maru mana?” Mika melirik Marco dengan sebal. “Di kamar Bunda kali,” jawabnya tanpa merasa perlu repot-repot menyembunyikan perasaan dongkol. “Oh …,” gumam lelaki itu mengerti. “Kamu sedang apa?” “Yang kamu lihat apa?“ balik tanya Mika ketus. Lagi-lagi yang terdengar setelahnya hanyalah helaan napas Marco, suaminya itu sama sekali tidak mendebat. Ataupun sekadar bertanya mengapa Mika terlihat marah, mungkin juga karena belakangan mood swing Mika separah itu. Ia bisa kesal dan menangis tanpa sebab, Mika akui itu. Tapi kali ini sungguh ia kesal karena ada sebabnya. Jujur saja, Mika kecewa dengan Marco. Saat Marco berkata ‘cuti’, ia pikir suaminya itu benar-benar hanya akan berada di rumah saja dan meninggalkan pekerjaan sepenuhnya. Bukan fisik berada di rumah, tapi kepala masih s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD