Jam dinding telah menunjukkan pukul enam sore tapi batang hidung Marco belum menampakkan diri. Mika terus mengingatkan diri untuk bersabar serta tahan diri, tak peduli segeregetan apa dirinya menunggu aksi nyata dari lelaki bernama asli Jovan tersebut. Kalau tidak bisa menjenguk, setidaknya telepon kan bisa. Ah, atau mungkin kata yang lebih tepat digunakan adalah 'belum'. Iya, Marco hanya belum datang karena kesibukan di toko. Mungkin dia akan datang nanti malam seperti kemarin. Mika sedang fokus mempelajari skript film yang akan dibintanginya, tapi terganggu oleh suara embusan napas panjang Erlin. Sebagai seorang pengidap Disleksia yang berkecimpung di dunia seni peran, Mika harus bekerja berkali-kali lebih keras untuk memahami cerita dan menghafal setiap dialognya. Itulah salah satu al

