Mika menatap sedih sepuluh kuku jarinya yang cantik dengan cat kuku warna ungu muda dan aksen gliter keemasan, baru kemarin jadwal rutin meni pedi sekalian nail art di rumah kecantikan langganannya. Kuku-kuku ini adalah kuku asli, bukan kuku palsu yang tinggal tempel. Untuk orang ceroboh dan pemalas seperti Mika, dapat memanjangkan kuku dan menjaganya tetap bersih adalah prestasi luar biasa. “Aku benar-benar harus memotongnya?” tanya Mika pada Bayu dengan mimik wajah sedih. Dan dengan sedih pula Bayu menganggukkan kepala. “Sama harus dihapus juga cat kukunya.” “Harus banget?” tanya Mika lagi, berharap mendapat jawaban lain. “Wajib banget kalau mau masuk dapurnya Bang Jovan.” Mika mendesah lemah. “Ya udah, deh. Mana gunting kukunya. Cuma demi Marco gue rela sampai sebegininya.” Walau b

