Rupanya selain memesankan teh hangat, Marco juga membayar makanan Mika. Alih-alih merasa tersentuh karena diperhatikan, Mika justru merasa sesak lantaran terlalu marah. Merasa dicintai tapi tak diinginkan, apa coba maksudnya? Entah Marco memang tidak menginginkannya atau sebenarnya hanya gengsi saja. "Kak, Kak, barusan makan bareng sama Bang Jovan, ya?" Bayu berhambur menyambut Mika di teras toko. Mika melirik Bayu dan mendecakkan lidah malas, lalu memberi isyarat agar tidak menghalangi jalannya. "Makan semeja nggak bisa dibilang makan bareng." "Tadi Bang Jovan nyariin Kak Mika, lho." Langkah Mika berhenti tepat saat tangannya hendak menarik gagang pintu. "Dia yang bilang atau lo yang cuma tebak-tebakan?" Mika banyak belajar, utamanya tentang seberapa tinggi ia harus memasang ekspekta

