Mika hanya mengurung diri di kamar, nafsu makannya semakin gila kalau sedang sedih. Bayangkan saja, Marco sama sekali tidak meyanyakan kabarnya. Satu pesan singkat pun tidak ada yang dikirimkan. Memangnya dia tidak penasaran saat bangun-bangun tapi Mika tidak ada di apartemen? Sikka tiba-tiba masuk ke kamarnya, wajah gadis itu sama mendungnya seperti wajah Mika. Sikka ikut berbaring di samping Mika. "Kamu kenapa?" Mika bertanya, tidak benar-benar peduli sebenarnya. Ia hanya penasaran karena Sikka bukan orang yang mudah menunjukkan kesedihan. "Cowok memang menyebalkan ya, Kak." "Ya, mereka memang terlahir seperti itu." Nampaknya mereka punya masalah dalam urusan yang sama, apa lagi kalau bukan perkara asmara. "Tapi, ada apa? Roy dan Nathan membuat masalah?" Mika menyebut dua orang lel

