Prolog

239 Words
Terkadang, seberapa kuat hatimu menolak, seberapa keras usaha yang kaulakukan untuk menjauh, perasaan yang muncul, tetap tidak terhindarkan —Affair With CEO _______________________________________ Aku menggebrak meja dengan marah dan menunjuk salah seorang tim divisi pemasaran sambil meneriakinya. “Kerjamu tidak becus! Kau kupecat!” Anggota tim divisi pemasaran itu pun keluar ruangan sembari mengucek matanya karena menangis.Lagi, aku melempar laporan mingguan kepala divisi keuangan di hadapannya dan berteriak marah. “Tulis ulang laporan ini! Satu jam lagi serahkan ke ruanganku!” Sama seperti anggota tim divisi pemasaran sebelumnya, wanita yang menjabat sebagai kepala divisi keuangan juga keluar ruangankusambil menangis. Bahkan, sebelum membuka pintu ini, aku mendengar celotehannya. “Ya Tuhan, padahal aku hanya typo tiga kata saja.” Aku menekan interkom yang terhubung dengan telepon di kubikel sekretaris. Sesibuk apa pun dan bagaimanapun keadaan sekretaris, dia harus segera mengangkatnya. Suaraku bergema. “Mana proposal pertambangan batu bara yang kuminta? Bawa ke ruanganku sekarang juga!” Hanya suara penuh kemarahan yang keluar dari mulutku. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung memutus interkom secara sepihak. Karena sudah jelas, setiap kalimatku merupakan perintah dan suatu keharusan untuk mematuhinya. Beberapa detik berikutnya, sekretaris baru mengetuk pintu. Setelah aku memerintahkannya untuk masuk, dia berjalan ke mejaku dan menyerahkan proposal yang kuminta. Berikut, aku menyuruhnya keluar. Namun, sebelum wanita berambut pirang yang berstatus sebagai sekretaris baru itu mencapai pintu ruanganku, aku melempar proposal pertambangan yang baru saja diberikannya hingga kulihat dia tersentak. “Kau kupecat!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD