Chapter 5

2285 Words
Siap tidak siap, aku harus siap Selain terikat janji yang kubuat sendiri, aku juga sudah mempersiapkan segalanya —Mia Oswald _______________________________________ Musim dingin Phoenix, 1 November 18.02 p.m. Aku suka pesta jenis apa pun karena bisa mencicipi hidangan yang disajikan, lalu akan mencari cara membuatnya di internet agar bisa mempraktikkannya. Demi menyalurkan hobi memasakku dan tentu saja itu berlaku untuk welcome party yang diadakan Cozivart. Hansel Brent sudah berangkat lebih awal untuk memastikan acara berlangsung sempurna bersama pegawai lama lainnya. Sementara aku, datang sendiri naik taksi. Lagi pula, ini wajib. Selangkah memasuki ballroom yang sudah dihias sedemikian rupa, alunan musik klasik di ruangan itu menyambutku. Usai menitipkan mantel, segera kucari sosok Hansel Brent. Kenyataan itu tidak semudah yang kubayangkan karena ballroom disetel sedikit temaram. Ditambah sekumpulan orang berlalu-lalang yang secara tidak langsung berkomplot untuk menyembunyikan sosok kekasihku. Hingga bermenit-menit lamanya, Hansel masih belum nenampakkan batang hidungnya. Jadi, kuputuskan untuk berkenalan dengan beberapa orang di sana, baik calon pegawai baru sama sepertiku maupun pegawai lama. Untuk waktu yang tidak terlalu lama, seorang pramusaji pembawa minuman melintas di samping kelompok kecil yang terbentuk dari beberapa orang termasuk aku. Tanganku pun mengambil satu gelas benili berisi sampanye diikuti yang lainnya. Aku lantas pamit memisahkan diri. Sambil membawa minuman itu, aku berjalan menuju meja kudapan. Berniat mengambil beberapa canapé[1] yang kelihatannya akan enak jika dimakan bersama sampanye ini. _______________ [1] Salah satu jenis hidangan pembuka dengan ukuran dan bentuk yang agak kecil dan menarik ini diketahui memiliki ukuran makan dengan bite size (satu gigitan) Sebelum mengambil salah satu canapé paling menggoda yang bertabur kaviar, kusesap cairan kuning berbuih dalam genggamanku terlebih dahulu. “Oh, God, this is so good,” gumamku agak keras begitu bulir-bulir sampanye mengaliri tenggorokanku yang sedikit kering. “Tentu saja. Itu sampanye paling mahal. Kau boleh memuntahkannya jika tidak enak.” “Oh, My God!” Aku terlonjak kaget dan refleks memegangi d**a dengan tangan yang bebas. Gelas benili hampir terlepas dari genggamanku akibat seseorang yang baru saja mengagetkanku. Sebenarnya, ada masalah hidup apa orang ini? Kenapa bicaranya sangat ketus? Darah tinggi? Iya? “Ini gratis, tentu saja enak,” kataku jujur nan logis, sama ketusnya seperti pria yang sedang berdiri beberapa langkah di sampingku. Siluet pita-pita dempet di bawah chandelier menyembunyikan wajahnya dengan baik sehingga terkesan sedikit misterius. Dilengkapi posisi tubuh menyamping sambil memegang gelas benili di tangan kanan, sedangkan tangan kiri dimasukkan dalam saku celana. Posturnya menjulang, auranya juga benar-benar bisa membuat seseorang lari terbirit-b***t. Begitu pula denganku, andaikan rasa ketakutan itu tidak berganti menjadi sebuah kekesalan dalam diriku. Memangnya dia tahu segala macam minuman? Mantan penjual sampanye, huh? Tergoda sekali untuk melontarkan kalimat-kalimat itu padanya. Namun, terurung sebab aku mendengarnya mendengkus sebelum menyesap minumannya. Betapa itu semakin menambah pundi-pundi kekesalanku. Padahal sedikit sumbu yang dia sulut, tetapi mampu membakar emosiku juga. Sekarang siapa yang darah tinggi? Ck! Selera makanku jadi hilang, gagal pula mengambil canapé kaviar. Tidak ingin mendengar komentar lain atau berurusan dengannya lagi, jadi kuputuskan menjauh dan beruntungnya menemukan Hansel Brent sedang berjalan ke arahku. Oh, Tuhan! Tadinya aku memang ingin bertemu dengan Hansel secepatnya. Sekarang, setelah melihatnya, kegugupan kontan menyerangku tanpa ampun. Malam ini merupakan malam yang akan menjadikanku pribadi baru dan itu akan kulakukan dengannya. Secara langsung, aku telah bisa meletakkan kepercayaan padanya. Kata orang, pengalaman pertama memang harus dipersiapkan baik-baik, apalagi dengan orang yang kita sayangi. Secara pribadi, aku menyetujui pendapat itu. Jadi, aku melakukan banyak persiapan. Mulai dari atas hingga bawah dan dari A hingga Z. Aku ingin semuanya tepat. Baik dari segi tempat maupun waktu. Jantungku mengentak-ngentak tidak karuan melihat Hansel semakin mendekat. Sepertinya, aku butuh lebih banyak alkohol untuk menenangkanku. Jadi, aku meneguk kembali sisa sampanye yang masih berada dalam genggamanku hingga habis dan mengambil segelas lagi saat ada pramusaji yang melintas. “Honey, kau selalu cantik. Gaun malam ini sangat cocok denganmu.” Pria itu berkomentar saat kami berpelukan dan entakan jantungku semakin terasa. “Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjemputmu.” “Terima kasih. Tidak apa-apa, aku tahu kau sangat sibuk. Aku mengerti.” Hansel melepas pelukan kami dan melihat gelas yang kugenggam. “Terima kasih sudah mengerti. Oh, ya, jangan terlalu banyak minum. Kau tidak seberapa kuat terhadap alkohol.” Aku pun berusaha mengukir senyum, yang kuyakini terlihat kaku dan terpaksa. “Kau terdengar seperti ayahku. Well, aku berusaha menikmati pesta ini. Dan … ekhm … berusaha … meredakan gugup untuk nanti.” Hansel mengumbar tawa ramah. “Aku sungguh tidak akan memaksamu kalau belum siap melakukannya, Honey. Pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru.” “Aku—” “Maaf, aku harus ke sana dan menyapa seseorang. Apa kau keberatan kalau aku tinggal ke sana sebentar?” potong Hansel begitu matanya melihat ke arah belakangku. Aku pun berbalik, lalu mengikuti arah pandangannya dan menemukan seorang pria dengan posisi membelakangi kami tengah berbincang dengan orang lain. “Oh, tentu tidak. Tenang saja, Honey.” Aku terpaksa mengatakan itu. Hansel lantas mendekatkan diri dan berbisik di pelipisku. “Kalau begitu, sampai jumpa di kamar nomor 3013. Ini kartu kuncinya.” Tangan pria itu memberikan sebuah kartu kunci. “Kalau kau benar-benar siap,” tambahnya. Aku tersenyum, melihat punggungnya menjauh kemudian memasukkan kunci itu ke dalam tas tangan kecil yang terselempang di bahuku dari tadi. Bersamaan dengan perasaanku yang menjadi semakin tidak karuan, akhirnya minuman dalam genggamanku pun menjadi sasaran empuk. Siap tidak siap, aku harus siap. Selain terikat janji yang kubuat sendiri, aku juga sudah mempersiapkan segalanya. Aku pun mastikan lagi penampilanku sebelum ke kamar. Jadi, aku pergi ke restroom untuk merapikan rambut yang sengaja kutata bergelombang dan tergerai menutupi bagian punggung gaun yang sedikit terbuka. Juga mengolesi lagi lipstick nude-ku yang sudah sedikit memudar. Setelah kurasa sempurna, barulah aku keluar dari sana. Karena teringat kembali yang akan kulakukan bersama Hansel selepas ini bukanlah sesuatu yang menenangkan, maka sekali lagi aku mengambil dan menenggak sampanye. Aku merasa senang pikiranku menjadi lebih ringan dibandingkan tadi. Aku tidak peduli soal mantelku dan langsung melenggang ke elevator, lalu menekan tombol nomor lantai 24 usai menempelkan kartu kunci. Well, yeah, kadang-kadang hotel memang suka menamai kamar dengan jumlah banyak untuk variasi dan membuatnya lebih menarik. Tidak mungkin, ‘kan, hotel ini berlantai 3000? Dentingan elevator terdengar nyaring. Aku pun membawa tubuhku menuju kamar 3031. Saat baru akan menempelkan kartu itu ke pengunci pintu, benda krusial itu sudah tidak ada di tanganku. Mungkin terjatuh. Entahlah, aku tidak peduli. Hansel tadi bilang akan menungguku di kamar ini, jadi aku tidak perlu khawatir tidak bisa masuk. Tanganku lantas berusaha mencari tombol bell, tetapi tidak ketemu. Akhirnya, kuputuskan mengetuk pintu di hadapanku dengan mata setengah terpejam dan menahan tubuhku yang terasa sedikit melayang. “Ini aku, tolong bukakan pintunya!” seruku dengan kepala bersandar di pintu. Tak mendapat jawaban, kuketuk lagi pintunya beberapa kali. “Buka pintunya,” lolongku. Tidak lama kemudian, pintu tiba-tiba terbuka. Tubuhku langsung terjungkang ke depan dan menubruk tubuh Hansel Brent. Aroma musk? Ini berbeda dari parfum yang Hansel kenakan tadi. Aku juga merasa pria ini memegangi kedua lengan atas untuk mendongakkanku. Tasku terjatuh, tetapi aku mengacuhkannya. “Kau ganti parfum?” Aku lantas berjinjit dan mencium bibirnya. “Kenapa tidak membalas ciumanku?” tanyaku polos sambil berusaha membuka simpul dasinya. “Bukankah kau sudah tidak sabar untuk melakukannya?” Aku mengecup lehernya dan merasakan gerakan meneguk ludah. Pria itu langsung menghimpitkan punggungku ke dinding di belakangku, lalu memenjarakan tubuhku di antara kedua tangannya. Meski penerangan kamar disetel remang-remang, aku masih bisa melihat tatapannya yang menghujam. “Cepat keluar, atau aku tidak akan membiarkanmu pergi,” katanya dengan suara serak, berat, dan dalam. Terdengar begitu seksi. Aneh, suaranya berbeda. Apakah karena menahan gairah? “Kenapa kau mengusirku? Bukankah kau juga menginginkannya? Aku sudah janji akan membuat pengalaman pertamaku bersamamu, jadi aku tidak akan pergi. Asal kau tahu, aku sudah siap. Jadi jangan meragukanku.” Aku menunduk malu-malu dengan tangan kembali memainkan dasinya. Berusaha membuka simpul benda itu yang tadi belum sempat terlepas sempurna. “You had chosen!” Pria ini lantas meraih daguku, mendongakkannya kemudian menciumku. Lagi-lagi ada yang aneh. Biasanya rasa ciuman kami tidak semanis ini, tidak sedalam ini, juga tidak seintens ini. Namun, aku menyukainya. Ciuman yang awalnya perlahan, semakin lama semakin dalam dan menggebu. Jiwaku rasanya seolah ikut terisap kala dia menjelajah dan membelit indra pengecapku tanpa ampun. Apa karena kami sama-sama menginginkannya? Jadi seperti ini? Aku semakin merasa gila ketika kurasakan tangan besar dan hangatnya menelusup ke kepala bagian belakangku, sedangkan tangannya yang lain meraih pinggangku dan menarikku untuk merapat padanya. Tangan-tanganku yang sudah berhasil melepas simpul dasi dan membuangnya asal, kini berpindah melingkari di leher pria itu. Jantungku pun terus memukul kencang. Tangannya yang semula berada di belakang kepalaku mulai mengambil gelombang-gelombang yang tergerai di punggungku dan menepisnya ke samping untuk meraih, lalu menurunkan zipper gaun malam hitamku. Tangan itu mulai membelaiku, menimbulkan sensasi dingin seolah ada bongkahan es yang hinggap di sepanjang tulang belakang dan menjalar di setiap inci tubuhku. Anehnya, tubuh bagian dalamku terasa panas dan terbakar. Kobarannya harus dipadamkan oleh sesuatu yang lebih, seperti kelembapan yang tiba-tiba menggelincir turun dari dagu, leher, kemudian d**a, dan kembali menyerang bibirku. Aku hanya mampu memejamkan mata, menikmati serangan-serangan itu dengan napas memberat. Mungkin aku sudah mabuk, tetapi rasanya aku mabuk lebih berat lagi karena perlakuannya. Hingga kakiku rasanya lemas. Seandainya dia tidak memegangi pinggangku lagi, aku yakin sudah roboh sejak tadi. Seakan mengerti yang sedang kurasakan, dia lantas membawa tubuhku melayang, menggendongku ala bridal style dan membaringkanku di kasur tanpa melepaskan pagutan kami. Aku tidak bisa mempertahankan suara erotis yang sedari tadi mendobrak paksa keluar dari tenggorokanku, tetapi tertahan membentuk dengungan akibat bungkamannya. Tangan besar nan hangat pria itu menangkup bagian tubuh depanku dan meremasnya lembut. Aku merasakan sesuatu yang lembab menyerang leherku kembali, perlahan turun melintasi tulang selangka dan berhenti pada bagian d**a, melepas paksa penutupnya lalu menyerang dengan membabi-buta. Seharusnya aku merasa kesakitan, tetapi ada sesuatu yang membuatku menggelinjang senang seakan menerbangkan kupu-kupu dalam perutku dan menciptakan desahan-desahan yang keluar dengan bebas dari mulutku yang tidak lagi terbungkam. Aku menjerit, mendongak sambil menekan kepala serta menjambak rambutnya kala dia menggelincirkan gigi-giginya pada kedua puncak merah mudaku yang sudah mengeras secara bergantian. Tidak adil rasanya bila aku nyaris polos sedangkan dia masih utuh. Jadi, aku mengambil inisiatif membuka suit, vest, berikut kemeja putih yang dia kenakan. Tampaklah tubuh kekarnya. Mungkin, diet dan olahraganya telah membuahkan hasil. Aku jelas menyukai dirinya yang baru. Karena penasaran, aku menyentuh perut six pack-nya. Kurasakan tangan besarnya menyentuh tanganku yang hinggap di sana. “Suka dengan apa yang kau lihat?” bisiknya. “Yah … aku suka.” Tangan pria itu langsung beralih mengusap genital string ungu menyala yang kukenakan, kemudian menarik paksa dan membuangnya sembarang. Aku memang sengaja mengenakan celana dalam kurang bahan dan menggoda itu untuk momen ini. Agar dia lebih b*******h dan aku senang ketika itu berhasil. Pertanda dari lututku, tangan besar itu merayap ke atas dan membuka kaki-kakiku yang terkatup malu. “So wet down here, can’t wait to taste of yours.” Suaranya serak dan dalam, tetapi terkendali dilengkapi sentuhan-sentuhan yang membuatku limbung. Terlebih ketika dia mencapai lipatan tubuhku dan menggoda kelembapan di sana dengan menggerakkan jari seduktif. Semula pelan, lambat laun berubah cepat dan tak terkendali. Hingga rasa asing itu singgah, meledak dalam diriku seirama dengan semua ototku yang menegang, kemudian melemas setelah ledakan itu habis. Aku tidak tahu kapan persisnya pria itu mengatasi kepala ikat pinggangnya sendiri hingga meloloskan dirinya. Tahu-tahu, kasur lebih menelanku ketika pria itu sudah menjulang di atasku dan kembali menyerang dengan ciuman rakus serta tergesa-gesa. Kemudian, dia menelusuri lekuk tubuhku menggunakan hidungnya secara perlahan, serta beberapa kali menggigit kecil dan mengisap kuat untuk membuat tandanya di banyak tempat. Desahan demi desahan keluar dari bibirku. Apalagi ketika lidahnya berpindah ke lipatan inti yang secara praktis membuatku menggelinjang lagi. Dia lihai menggodaku sehingga tidak lama kemudian ledakkan itu menyerang tubuhku kembali, mencapai pelepasanku yang kedua. Saat itu pula, aku merasakan inti tubuhku yang berkedut disentuh dengan miliknya. Kemudian, dia memaksa masuk secara perlahan. Aku memeluk serta mencakar punggungnya ketika merasakan kesakitan luar biasa di bawah sana. Namun, dengan segera dia membungkam mulutku yang hendak menjerit dengan ciumannya. Juga membangkitkan gairahku dengan bekerja di bagian tubuh atasku. Dalam sekejap, rasa sakit itu berganti menjadi erangan erotis. Dengan sekali sentakan, milik pria itu yang ukurannya membuatku tercengang melesak semakin dalam, meruda paksa selaput hymenku. Kali ini aku melepaskan diri dari bungkamannya untuk meloloskan jeritanku karena kesakitan. “Argh! It’s hurt so much ….” Pria itu berdiam diri sambil mencium pelipisku. “Hold on, I will move,” katanya lembut dengan suara lebih berat dan serak dari beberapa saat lalu. “Slowly please,” pintaku masih berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa pada bagian pusatku yang terisi penuh dengan miliknya. Aku bersyukur karena dia menurut. Secara perlahan, dia mencabutnya lalu mengisinya kembali. Mulanya memang sangat sakit dan erangan itu tak tertahankan. Namun, lambat laun gerakan seduktifnya yang teratur membangun kenikmatan dalam tubuhku. Desahan penuh gairah lolos lagi dari mulutku. “That’s good …,” racauku. Mataku terpejam dan membelalak bergantian, seirama tarian tanganku di rambutnya yang sebagian terjuntai. Kemudian menyugarnya lembut. Sejujurnya, aku ingin melihat wajahnya. Namun, pencahayaan kamar ini benar-benar tidak mendukung sehingga hanya membentuk siluetnya. “You like it huh?” tanyanya, dengan wajah membayang tepat sejengkal di atas wajahku sehingga napas kami berbenturan di udara. “Yaahhh …. I like it so much.” Tak luput dari jamahannya, leherku digarapnya lagi, kemudian rasa yang sekarang sudah tak asing itu akan meledak lagi dalam tubuhku. Dia tampak mengerti, ditandai dengan gerakannya yang semakin cepat. Lalu sekali lagi, ledakan itu menyerang seluruh tubuhku yang panas-dingin serta dibanjiri keringat. Kurasa, bukan hanya aku yang mendesah keras, tetapi dia juga. Sehingga memberiku kesimpulan, bahwa kami mencapai pelepasan bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD