Kenapa hanya mendengar wanita cantik itu menyebut nama atasanku, jantungku langsung berdebar-debar?
—Mia Oswald
_______________________________________
Musim gugur
Brookly, 20 Oktober
11.30 a.m.
Aku membaca ulang surel balasan dari Cozivart Company yang mungkin sudah kuhafal setiap kata yang menyusun beberapa baris kalimat itu. Hanya untuk memastikan kebenaran isi surel itu, bahwa aku diterima bekerja di sana sebagai sekretaris. Hingga benar-benar yakin tidak ada satu ejaan suku kata pun yang salah atau bagian yang terlewat oleh kedua iris kelabu terangku, aku baru membiarkan diriku terperangkap rasa senang.
Aku bersikap seperti beberapa saat lalu ketika baru mendapat balasan surel itu. Hingga aku harus lebih menekan mulut dengan kedua telapak tangan agar suara pekikanku tidak keluar dan mengganggu karyawan lain yang sedang bekerja di jajaran kubikel sekelilingku.
Kutatap dinding kaca dan menembus pandangan ke luar. Cuaca penghujung musim gugur yang cerah seperti turut menjadi teman dalam mengekspresikan perasaanku. Mungkin juga gembira bersiap menyambut datangnya musim dingin.
Aku memang suka musim dingin dan tidak ada yang lebih baik dari musim dingin tahun ini. Bagaimana tidak? Aku akhirnya bisa menabung untuk operasi ayah dan tak perlu melakukan hubungan jarak jauh lagi dengan kekasihku.
Beralih, kuarahkan pandangan ke pigura penghuni mejaku. Membalas senyum orang berharga yang kuanggap sangat berjasa atas keberhasilanku meski hanya membantu dalam bentuk dukungan.
Sampai tak terasa, waktu telah menunjukkan jam makan siang. Aku bergegas menuju tangga darurat untuk menelepon orang tuaku terlebih dahulu sebelum Hansel. Kuceritakan tetang surel itu pada ayah dengan penuh semangat.
“Selamat, Mia. Aku selalu tahu kau bisa mendapatkan pekerjaan itu.” Suara ayah terdengar antusias begitu mendengar kabar dariku. “Maaf, Dad secara tidak langsung memaksamu jadi seperti ini.” Mendadak suaranya memelan.
Kutarik napas dalam-dalam. “Tidak perlu dipikirkan, Dad. Itu sudah menjadi tugasku.” Lagi pula, dia yang paling bertanggung jawab atas semua ini sudah kuanggap mati. Kendatipun, kami sebelumnya pernah dekat satu sama lain. “Yang terpenting, Dad dan Mom sehat. Oh, ya, mungkin sebelum ke Phoenix aku akan pulang. Tolong katakan pada Mom aku ingin cookies buatannya.”
“Aku sudah mendengarnya, Mia.” Teriakan ibu terdengar jauh, tetapi berhasil merakit senyumku.
“Hei, Mom … pastikan Mom menaburkan choco chip yang banyak di cookies-ku!” kataku penuh semangat.
“Ya … aku sudah hafal kesukaanmu. Ngomong-ngomong, jangan lupa makan siang, Nak!” Teriakan ibu kembali bergema.
“Baiklah, kututup teleponnya. Jangan lupa minum obat, Dad. Aku tahu, Mom pasti sudah mengingatkan Dad tanpa kuminta. Tapi aku tetap ingin melakukannya.”
Tawa ayah pun terdengar. “Baiklah. Selamat makan siang, Mia.”
Setelah mengabari orang tuaku, aku segera menelepon Hansel. Pada dering kelima, dia baru mengangkatnya. Langsung saja kuceritakan seperti yang kukatakan pada ayah.
“Selamat, Honey. Akhirnya kau berhasil mendapatkan posisi itu,” kata Hansel setelah aku selesai bercerita. Suara bersemangatnya terdengar timpang tindih dengan suara obrolan. Kutebak, dia sedang makan siang di kantin.
“Terima kasih. Ini semua juga berkatmu. Kau yang mendukungku waktu itu. Aku jadi semangat dan percaya diri. Astaga … aku hampir melompat-lompat karena senang. Sekarang yang harus kulakukan adalah mencetak surat pengunduran diri lalu memberikannya pada Mr. Erlang dan segera mencari apartemen di Phoenix dekat kantor. Bagaimana menurutmu, Honey? Ngomong-ngomong, apa kau sedang makan siang? Aku mendengar suara berisik di telepon. Aku tidak mengganggumu, ‘kan?”
“Pelan-pelan, Honey. Aku jadi bingung harus menjawab pertanyaanmu yang mana dulu.”
Aku tersenyum lebih lebar. “Maaf, kau tahu … aku terlalu bersemangat. Well, kau bisa mulai menjawabnya dari pertanyaan yang mana saja. Ini bukan sesuatu yang harus dijawab berurutan, Honey.”
“Baiklah … baiklah … iya aku sedang makan menu dietku di kafetaria kantor bersama teman-teman. Akan kukenalkan mereka padamu nanti kalau kau sudah pindah ke sini. Dan kau sama sekali tidak menggangguku. Malah, aku senang kau menelepon. Lalu … kau bisa tinggal di apartemenku.”
Aku seketika berdebar ketika Hansel mengatakan hal itu. Aku melihat kuku-kukuku yang beberapa saat lalu dicat oleh Alexa. Kami memang sempat bertemu dan makan bertiga pasca aku wawancara kerja. Alexa kemudian mengecat kukuku sebelum terbang ke Brooklyn. “T-tapi aku tidak ingin merepotkanmu.”
“Aku tidak merasa direpotkan sama sekali, Honey. Bukankah ini justru bagus untuk menghemat biaya hidup di Phoenix?”
Hansel benar. Kalau kami tinggal bersama, biaya akan lebih ringan karena ditanggung berdua. Aku pun bisa menabung untuk ayah, sementara Hansel bisa menabung untuk kuliah Alexa dan dirinya sendiri nanti. Akan tetapi, sekali lagi aku tidak ingin bergantung pada siapa pun. Aku bisa berdiri sendiri. Sekarang, aku sudah memiliki pekerjaan bergaji lebih tinggi dan itu cukup membuatku tenang. Jadi, kurasa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Selain alasan itu, aku juga masih merasa agak aneh bila melakukannya. Sejujurnya, baru pertama kali ini aku berpacaran. Sangat tidak wajar untuk ukuran wanita Amerika yang berumur dua puluh lima tahun dan masih perawan.
Ada kejadian lain yang sebenarnya membuatku trauma dan selalu enggan menerima bantuan orang lain. Tepat sebelum ayah kecelakaan di bengkel beberapa tahun lalu. Semenjak saat itulah, aku mengalami yang namanya krisis kepercayaan terhadap orang lain. Aku takut mereka akan melakukan hal yang sama seperti orang itu. Sampai setahun lamanya berhubungan dengan Hansel pun, aku masih belum siap menceritakannya dan hanya mengatakan kalau ayahku sakit parkinson. Lalu, jadilah aku yang berlagak seperti wanita yang sangat mandiri.
Aku juga sangat jarang bersentuhan fisik dengan Hansel. Hanya sesekali berpelukan, lalu … ciuman pertamaku yang sudah pasti direbutnya, dan semua itu tanpa ada paksaan. Aku memilih berjalan lambat dalam proses itu. Tidak ingin terburu-buru. Beruntungnya, Hansel bersedia menunggu dan itu membuatku merasa dia sangat pengertian meski kami sering kali berbeda pendapat. Semuanya kami lakukan untuk proses saling mengenal satu sama lain, sehingga aku bisa meletakkan seluruh kepercayaanku padanya.
Mungkin aku terdengar seperti wanita yang belum memiliki perasaan terhadap pasangannya. Akan tetapi, kenyataannya tidak seperti itu. Aku menyayangi Hansel. Dia pria yang baik. Tidak ada lagi yang harus dipertanyaan tentang perasaanku. Oleh karenanya, sesuai janjiku beberapa saat lalu, aku akan melakukannya dengan kekasihku.
“Baiklah. Aku hanya memberi pendapat, Honey. Tidak memaksa.”
“Terima kasih,” ucapku singkat.
“Tidak perlu berterima kasih, aku tidak melakukan apa pun. Kalau begitu, beritahu jadwal penerbanganmu, aku akan menjemputmu di bandara—aku tidak ingin kau menolakku kali ini, Honey.” Hansel segera mengubah kata-katanya. Dia pasti telah sangat hafal tentang kebiasaanku yang selalu menolak bantuan. Jadi, kali ini aku biarkan diriku menerima bantuan Hansel.
Kemudian, proses yang kulalui untuk memulai kehidupan baru di Phoenix pun berjalan dengan cepat. Surat pengunduran diri yang sempat kutulis dan masih kusimpan di flash disk kucetak, lalu kuserahkan pada Mr. Erlang Eclipster. Aku juga melihat ekspresi kagetnya yang sekilas sebelum pria itu kembali memasang ekspresi tenang dan berwibawa.
Kendatipun dari Indonesia, calon mantan atasanku di Utama Raya ini tidak terlihat seperti orang Asia pada umumnya. Malah, kupikir dia orang Inggris karena memiliki kelopak mata dalam dengan iris biru cerah, hidung bangir, rambut agak kecokelatan, bercambang, dan aksen British sempurna—yang bisa membuat para wanita lajang pingsan dalam sekejap ketika mendengarnya.
“Anda karyawan yang baik, Miss Oswald. Saya harap Anda sukses di mana pun Anda berada,” ucap pria itu menenangkan.
Demi Neptunus! Aku pasti akan lebih memilih bekerja di sini seandainya jabatanku tinggi atau bisa naik dalam waktu dekat, sehingga aku tidak perlu melamar di perusahaan lain demi bisa membiayai operasi ayah sesegera mungkin. Untuk sementara, nominasi atasan paling baik hati serta mengayomi semua karyawan kantor jatuh pada Mr. Erlang Eclipater.
Ugh … maafkan aku Mr. Erlang Eclipster. Kuharap segala urusan yang akan Anda lakukan semuanya diberi kemudahan dan dilancarkan.
***
Musim gugur
Phoenix, 28 Oktober
13.30 p.m.
And … here I’m. Berdiri di salah satu sudut apartemen tipe loft studio yang terletak di Gilbert, dekat Cozivart Company sambil mengagumi seluruh isinya. Mulai dari pintu masuk yang disambut dapur sempit, kamar mandi, toilet, mesin cuci lengkap dengan pengering, barulah ruang tamu mini di bawah loteng terbuka. Loteng itu sendiri merupakan kasur tanpa dipan dan sangat nyaman setelah kutata sedemikian rupa.
Walaupun bangunan ini hanya berlantai empat dan kebetulan kamarku berada di lantai itu, bagian yang membuatku memilih apartemen ini adalah balkon kecil yang menyuguhkan lanskap kota Phoenix.
Semuanya sempurna, sebelum aku menyadari uangku sudah hampir habis. Uang pisah dari Utama Raya sebagian sudah kuberikan pada orang tuaku dan sebagian lagi untuk deposito apartemen ini serta membeli segala perabot kecil yang kubutuhkan. Belum lagi biaya transportasi dan lain-lain untuk pindah ke sini.
Oh, ya, setelah menjemputku di bandara, Hansel mendapat telepon dari kantor. Pria itu pun meminta maaf padaku dan harus segera pergi. Katanya, semua divisi masih sibuk mempersiapkan acara peresmian lini baru dan welcome party pegawai baru. Semua harus dicek berkali-kali karena sang CEO tak kenal ampun jika persiapannya tidak sempurna. Maka dari itu, mereka harus bekerja juga di akhir pekan yang dihitung sebagai lembur.
Aku sudah sering mendengar, bekerja di Cozivart berarti harus siap pasang badan 24 jam dalam seminggu dan itu sesuatu yang telah kulihat sendiri sekarang. Aku jadi semakin berdebar tak karuan memikirkan hari kerjaku nanti.
Beberapa waktu lalu, aku sempat mencari wajah Mr. Dominic Molchior alias Mr. CEO di internet. Sayang sekali tidak ketemu. Dalam perjalanan dari bandara Sky Phoenix menuju Gilbert, aku pun bertanya pada Hansel. Namun, pria itu malah tersenyum. “Mr. Dominic melarang semua pegawai lama untuk memberitahu atau memublikasikan fotonya khusus pada pegawai baru,” jawabnya.
Posisiku yang semula masih menghadap jalan raya, spontan kuubah menghadap Hansel sepenuhnya. “Apa? Ini tidak masuk akal! Beritahu aku agar tidak salah orang nanti.”
“Kau akan segera bertemu dengannya nanti.”
“Really? Kau sungguh tidak ingin memberitahuku?”
“Maaf, aku tidak bisa,” jawab Hansel sambil tersenyum ramah.
“Hah! Alright. Let me describe him. Mungkin dia berwujud pria tua dengan perut buncit, rambutnya agak tipis beruban, lalu bau dollar-nya tercium sampai jarak satu mil. Oh, kau pernah cerita kalau Mr. CEO sangat kejam, diktator, dan otoriter. Aku akan menambahkan kumis tebal dan codet di pipinya yang bercambang lebat untuk memperkuat asumsiku. Mungkin dia seperti Mr. Boogie,” karangku tanpa dasar. “Oh, tidak! Bagaimana bisa aku bekerja dengan Mr. Boogie?”
Oh, ayolah. Predikat CEO paling baik hati dan tampan serta muda masih menjadi milik Mr. Erlang Eclipster.
Tawa Hansel menguar dan memenuhi mobil yang kami tumpangi. Sesekali dia menggeleng, dan menyeka matanya yang berair. Setelah berhasil meredakan tawanya, Hansel baru menanggapi. “Kau sangat kreatif. Tapi kau jelas keliru, Honey. Di luar sifatnya yang dingin, kejam atau pemarah, aku justru sangat menganguminya. Mr. Dominic bisa mengatasi semua permasalahan perusahan. Auranya berbeda. Dia berkarisma.”
Ha? Omong kosong apa itu? Aku yakin, Mr. Dominic pastilah mirip Mr. Boogie yang hobi berkeliaran untuk menculik anak-anak karena tidak tidur siang. Em atau mungkin fantasiku yang terlalu berlebihan. Akan tetapi, siapa tahu itu benar, ‘kan?
***
Musim gugur
Phoenix, 29 Oktober
18.30 p.m.
Pesta pernikahan salah seorang teman kantor Hansel bernama Benita Meyer—calon teman kantorku—sangat megah dan membuatku berkali-kali takjub. Hiasan-hiasan emas kombinasi hitam memenuhi gedung. Lampu-lampu menggantung indah dan tamu undangan yang sangat elegan dengan kode pakaian yang sudah ditentukan.
Aku menggamit lengan Hansel sepanjang waktu. Berjalan beriringan menuju pelaminan. “Kau yang akan menggantikan Mrs. Benita Thompson sebagai sekretaris,” kata Hansel kemudian.
“Oh, ya? Tidakkah gajinya sangat banyak sampai bisa membuat pesta semegah ini?”
“Suaminya pewaris perusahaan alat berat yang juga bekerja sama dengan Cozivart.”
Hanya anggukan yang menjadi jawabanku, sebab kami telah sampai di depan pasangan yang sedang bahagia. Aku pun memasang senyum tulus ketika Hansel memeluk mereka secara bergantian. “Selamat atas pernikahan kalian,” ucap kekasihku.
“Terima kasih, Mr. Hansel Brent. Ngomong-ngomong, kau tidak datang sendirian,” kata sang mempelai wanita yang juga melirik ke arahku sambil tersenyum menggoda.
“Ya. Namanya Mia Oswald, kekasihku.” Hansel merangkul pinggangku dan memperkenalkanku pada mereka.
Aku pun memeluk pasangan pengantin itu secara bergantian dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
“Dia sekretaris baru.”
Pengakuan Hansel jelas membuat Benita membelalak. Rona bahagia dan senyum lebih lebar kemudian membingkai wajahnya. “Oh, wow! Jadi kau yang akan menggantikanku?”
“Mr. Brent … kau pasti sudah memberitahukan bagaimana kejamnya atasanmu, ‘kan?” Aku mendengar sang mempelai pria berbicara pada Hansel. Sesekali dia melihatku seperti seekor kelinci yang hendak diterkam burung elang.
Apakah Mr. CEO memang sekejam itu? Kalau iya ... fix, dia persis Mr. Boogie. Mungkin juga bertaring seperti vampir. Sepertinya aku harus menyiapkan banyak bawang untuk penangkal vampir.
“Ya, Tuhan! Jangan menakutinya!” Benita memukul pelan lengan suaminya. Kemudian beralih menatapku. “Jangan memikirkan omongannya. Well, selamat datang di Cozivart, semoga kau betah bekerja dengan Dominic.”
Oh, Tuhan. Kenapa hanya mendengar wanita cantik itu menyebut nama atasanku, jantungku langsung berdebar-debar?