Entah mengapa saat gue lihat dirinya tengah tidur berpelukan dengan sahabatnya kenapa gue harus cemburu? Padahal itu sesama pria lho? Kalau wanita sih sudah biasa, sudah kebal karena memang penggemar calon suami gue itu bejibun banyaknya. Karena menyaksikan hal ini otak gue langsung bilang bahwa dia memang gay, lalu hati gue mendadak kejang-kejang. Anjai! Masa saingan gue cowok? Tidak masuk akal dan tidak per. Oke ternyata pas pergi gue disamperin dong, senengnya bagaikan dibutuhkan. Setelah dijelaskan panjang kali lebar kali tinggi pula, gue ngerti yang terjadi dan gue pikir juga dia pria normal. Mana mungkin cium-cium seorang gadis tanpa ada nafsu dan rasa suka bukan? Lalu kasih perhatian yang begitu amat sangat sama gue selama ini. Hanya malam ini aja gue posisinya tersingkirkan dari

