Bab 4

1066 Words
Asila berusaha menelfon Aleska tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Di salon itu, dia sudah menjadi bahan tontonan banyak orang. "Bagaimana nona? Bisakah segera dibayarkan? Antriannya sudah panjang." Kasir itu kembali bertanya pada Asila dengan wajah yang ramah. Tanpa Asila tahu jika semua karyawan salon itu sudah tahu jika Asila di blacklist dari semua langganan Aleska. Asila masih berusaha menghubungi Aleska tapi tetap tak mendapat jawaban. Akhirnya karena beberapa orang terus mendesaknya dia mengeluarkan kartu miliknya sendiri lalu membayar semua tagihan dengan uangnya. Setelah itu dia pergi dengan kesal. Bagaimana bisa Aleska melakukan itu kepadanya . Sampai di dalam mobil dia segera menghubungi Luke mengadukan semua yang Aleska lakukan. Tapi lagi lagi Luke pun tak bisa di hubungi. Semua asumsi negatif menyeruak masuk ke dalam pikiran Asila. "Sialan, apa mungkin mereka sedang bersama?" geram Asila. Asila memukul setir mobilnya berkali kali karena kesal. Lalu ketika dia membuka ponselnya matanya membola ketika melihat Aleska mengunggah story tangan seorang laki laki. "Apa apaan ini? Aleska sejak tadi tak mengangkat telfon ku tapi dia bisa mengunggah story?" pekik Asila. "Dan Luke? Dia pasti bersama dengan Aleska. Story ini, tangan ini pasti milik Luke. Sialan kau Luke, sialan kau Aleska!" Asila berteriak marah tanpa peduli dengan orang orang sekitar yang menatap aneh pada nya. Meskipun dia berada di dalam mobil tapi tetap saja suaranya terdengar sampai keluar. # Aleska yang sejak tadi hanya menatap ponselnya ingin sekali tertawa. Dia saat ini sedang berada di kediaman orang tuanya. Sementara Aleska menerima lamaran Gaharu, dia wajib kembali ke rumah dan itu semua karena permintaan Gaharu. Aleska awalnya menolak tapi setelah di pikir kembali, jika dia tetap di apartemen bisa saja Asila atau Luke akan mencarinya di apartemen. Selama ini mereka hanya tahu tempat tinggal Aleska adalah apartemen bukan hunian mewah yang bahkan tak akan bisa di bayangkan oleh Luke juga Asila. Tok Tok Pintu kamar Aleska di ketuk dari luar, belum sempat dia membuka pintu tiba tiba pintu terbuka dan seseorang menubruk tubuhnya sampai terjungkal ke belakang. "Yak......apa yang kau lakukan?" teriak Aleska. Kedua orang tua Aleska sampai berlari ke arah kamar Aleska dan melongo ketika melihat dua orang yang berada di atas ranjang. "Astaga .... kalian berdua ini kenapa?" Rasya tak habis pikir melihat putrinya juga keponakan nya dengan posisi yang sekarang. Aleska yang sadar siapa yang baru saja menerjangnya pun menghembuskan napas panjang. "Kangen sekali dengan Aleska. Aku buru buru pulang karena dengar kau mau menikah dengan Om Aru. Ah, senang sekali akhirnya kalian bisa menikah." Keira bangun dari atas tubuh Aleska setelah dia mencium seluruh wajah Aleska. "Aleska, Keira nanti turun ke bawah kalau sudah siap makan malam." Kael sendiri sudah pergi dari depan kamar Aleskan setelah tahu apa yang terjadi. Dia hampir lupa jika dua perempuan muda itu akan selalu membuat kehebohan jika sudah bersama. Aleska bangun dari posisinya, dia menatap aneh karena tiba tiba Keira pulang. "Kau tahu dari mana jika aku akan menikah dengan Om Aru?" "Aunty Rasya yang memberitahu ibu semalam, jadi aku langsung ambil penerbangan pertama untuk datang kesini. Ah, aku senang sekali kau menikah dengan nya. Hidupmu pasti akan terjamin dari pada kau bersama Luke. Laki laki sialan itu!" Keira yang tersadar jika dia salah bicara langsung menutup mulutnya dan melirik Aleska dengan raut wajah yang tak nyaman. "Maaf...." "Kenapa kau minta maaf? Faktanya memang Luke sialan. Dia berani mengkhianati ku dengan Asila." Mata Keira membola ketika mendengar semua itu. "Kau sudah tahu?" Aleska mengangguk lalu dia menceritakan semuanya pada Keira awal mula dia bisa mengetahui semua itu. Dan berujung harus menikahi Gaharu. Awalnya Keira prihatin dan marah tapi mendengar kalimat terakhir tentang Aleska yang meminta Gaharu menikahi nya membuat Keira tertawa terbahak. Aleska langsung cemberut. Dia saat ini benar benar sangat malu jika mengingat kebodohannya kemarin. "Aku malu sekali, bahkan orang tua Om Gaharu sampai melongo dan menahan tawa mereka. Yang ada dalam pikiran ku saat itu aku harus bisa membalas Luke dengan mencari laki laki yang jauh di atas Luke, yang setara dengan ku dalam segala hal. Tapi aku tak tahu jika dia tiba tiba datang kesini untuk melamar ku." Keira mencubit gemas pipi Aleska, karena Aleska masih suka sekali ceroboh tanpa berpikir panjang. Lalu Aleska ingat jika Keira sudah tahu hal itu. "Dari mana kau tahu kalah Luke bersama Asila?" Keira mengingat kapan dia bertemu Luke dan Asila. "Ah, kau ingat ketika ada acara perusahaan ayah di hotel milik Kakek, disana aku melihat Luke. Tapi dia tak mengenalku jadi aku bisa mencari tahu dan mengambil fotonya sebagai bukti. Hanya saja saat aku ingin memberitahu mu, kau selalu bercerita jika Luke dan Asila adalah orang baik. Aku sempat minta pendapat ayah dan ibu, lalu mereka menyuruh ku untuk tetap diam. Ayah pernah bilang jika orang yang sedang jatuh cinta itu tak akan percaya pada orang lain dan akan selalu denial dengan perasaannya, kecuali dia melihat sendiri memakai mata kepala dia sendiri." Mata Aleska berkaca kaca mendengar semua itu, lalu dia memeluk Keira erat. Sedangkan Keira menepuk pelan lengan Aleska yang tengah memeluknya. "Tak apa, yang penting kau sudah sadar. Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Belum sempat Aleska menjawab ponselnya kembali berdering dan itu dari Asila. "Angkat, aku ingin tahu apa yang dia inginkan darimu." ( Oh God, Aleska, kau kemana saja? Aku menelfonmu dari tadi. Kenapa kau tak mau mengangkat telfonku? Kau tak biasanya begini? ) Aleska sampai menjauhkan ponselnya dari dekat telinga karena teriakan keras dari Asila. "Ada perlu apa?" Asila sempat terdiam mendengar reaksi Aleska saat ini. ( Ada apa? Apa maksud mu? Kau membuatku harus membayar biaya salon yang sangat banyak Aleska. Kau membuatku malu di depan banyak orang karena aku hampir saja tak bisa membayarnya ) Keira menahan tawanya karena dia sudah tahu apa yang terjadi. Salon itu adalah milik Ibu Keira, otomatis berita itu juga sampai di telinganya. "Kau yang melakukan perawatan, kenapa aku yang harus membayarnya? Asila, mulai detik ini aku tak akan mengeluarkan uang ku untuk mu. Semua fasilitas yang kau pakai akan aku ambil." ( Apa maksud mu? Kau tahu bukan jika aku tak mampu mempunyai semuanya? Jika kau mengambilnya aku bagaimana? Kau tega padaku? Kita berteman sudah lama ) Keira memutar bola matanya malas mendengar itu. "Maafkan aku Asila, tapi aku ingin membeli mobil baru karena mobil yang lama sudah tak layak pakai. Jadi mulai hari ini tolong kembalikan semuanya ya? Aku juga akan menjual apartemen yang kau tempati. Aku butuh modal untuk membuka cabang yang baru." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD