BARRA POV.
Kubersihkan lukanya dengan cairan desinfektan dan juga kassa yang kutemukan di dalam tas yang kubawa, kuusapkan dengan pelan, untuk menyingkirkan sisa kotoran yang menempel di bagian tepi lukanya yang sudah mulai mengering.
Nana hanya diam, tak mengucap sepatah katapun, sebenarnya aku merasa malu mengingat kejadian tadi, karena celana dalam miliknya yang ikut tertarik lepas bersamaan dengan celana jeans miliknya.
Aku terus mencoba fokus, berulang kali menelan ludah sendiri dengan sekuat tenaga, kaki jenjang yang ada di pangkuanku ini begitu menggoda, membuatku ingin sekali membelainya, mulai dari ujung kaki, sampai pangkalnya.
"Lukanya udah aku bersihin, untuk sementara jangan pakai celana ketat, kalau bisa kamu pakai rok longgar yah," ucapku beralih memandang wajahnya.
"Uh," jawabnya sembari mengangguk, bertahan menutupi wajahnya dengan selimut.
"Kamu malu?" tanyaku menggodanya.
"Barra..., jangan begitu," rengeknya manja, membuatku kembali merasa gemas, ingin sekali meremasnya sekuat tenaga.
"Kan aku cuma tanya,"
"Ya malu lah, Bar, kamu kan tau kalau aku punya pe...," ucapannya terhenti dan dengan cepat membekap bibirnya dengan kuat.
"Kamu punya apa?" tanyaku tidak paham.
"Nggak ada!" serunya kemudian menarik kakinya masuk kedalam selimut.
Setelah Nana menarik kakinya, membuatku sedikit bernafas lega, karena kaki indah itu tak lagi ada di pangkuanku, bukan apa-apa, hanya saja aku takut khilaf, dan menggigitnya tanpa sadar karena gemas.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan kamar tidurnya, hanya ada sebuah ranjang dan sebuah almari besar, di sebelah jendela ada sebuah meja kecil dan sebuah rak buku tinggi.
Mataku terus terfokus pada rak buku yang tertata sangat rapi itu, ditata dengan berurutan, menunjukkan kalau pemilik kamar ini adalah orang yang suka akan kerapian.
"Kamu suka makan apa?" tanyaku kemudian, sembari membersihkan bekas kassa yang kupakai tadi, membungkusnya menjadi satu ke dalam kantong plastik, dan membuangnya ke dalam tong sampah di sebelah nakas.
"Aku nggak lapar, Bar," jawabnya pelan, membenarkan selimut yang dia pakai.
"Pedas atau manis?" tanyaku.
"Pedas," jawabnya cepat.
"Aku pesenin bubur aja kalau gitu," jawabku, membuatnya menimpuk kepalaku dengan bantal.
"Lah, trus kenapa tadi tanya pedas atau manis?" tanyanya seakan tidak terima.
"Pengen tau aja!" jawabku membuatnya mencebik.
Sembari menunggu pesanan makanan datang, kami berbincang-bincang tentang berbagai hal, hanya hal-hal receh biasa untuk menghabiskan waktu.
Sesekali aku menyodorkan botol minuman padanya, karena sejak tadi dia hanya minum sedikit sekali.
Sampai suara bel terdengar, dan aku bergegas menghampiri asal suara itu, menemukan kurir yang membawa 2 kantong makanan yang sudah kupesan, dan membawanya ke arah dapur, karena sebelumnya aku sudah meminta izin pada si empu rumah, jadi aku tidak melakukan sesuatu yang kurang ajar.
Lagi-lagi aku dibuat takjub dengan dapur miliknya, semua alat masak dan makan di tata sangat rapi, karena penasaran aku dengan lancang membuka kulkas miliknya yang juga sangat rapi dan bersih, membuat mataku puas memandangnya.
"Dapur kamu lengkap yah," ucapku membawa semangkuk bubur ayam untuknya, dan sepiring kwetiau goreng untukku.
"Kok kamu nggak bubur?" tanyanya fokus melihat ke arah piring milikku.
"Kan aku nggak sakit, Yang," ucapku tanpa sadar.
"Hah, Yang?"
"Canda, Na," jawabku setengah malu.
"Oh,"
"Kenapa?"
Bukan menjawab pertanyaanku, Nana memilih memakan bubur di depannya dengan pelan, dan tak lagi berbicara.
Aku yang merasa bingung sempat menawarkannya kwetiau milikku, namun, ditolak olehnya.
Kami berdua pun makan tanpa bicara lagi, dan memilih fokus menghabiskan makanan kami, sampai kemudian ponselku berbunyi.
"Suryo," ucapku setelah melihat nama yang ada di layar ponselku, kemudian memandang ke arah Nana.
"Angkat saja, Bar,"
"Ada apa, Sur?" tanyaku mengangkat panggilan videonya.
"Dimana, Bro?" tanyanya tanpa basa-basi dengan suara keras.
"Lagi makan, kenapa memang?"
"Kata sus Efi, kamu mau traktir makan siang, buruan laper nih," ucap Suryo sangat keras, mengalihkan ponselnya ke arah samping terlihat sus Efi dan temannya melambai padaku.
"Astaga, lupa, Sur," jawabku menepuk jidat.
"Ya elah, buruan ke restoran biasanya, aku sama Efi nunggu kamu," ucap Suryo lagi.
"Okeh," jawabku kemudian menutup panggilan.
Aku memilih membereskan sisa makanan kami berdua, membawanya ke dapur, dan mencuci alat makan yang tadi kami pakai.
Saat akan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket dan tas milikku, pandanganku teralihkan pada sebuah foto yang terletak di atas bufet miliknya.
Foto Nana dengan seorang laki-laki tampan, yang tengah memeluk Nana, mereka berdua tersenyum sangat lebar, dan ada seekor anjing yang berbaring di pangkuan Nana.
Cukup lama aku memandangnya, tapi tak lama aku teringat janjiku pada Suryo dan bergegas masuk ke kamar Nana.
"Aku pulang yah," ucapku padanya yang tengah bersandar dan hanya memandangku.
"Iya, maaf ganggu kencan kamu," ucapnya ketus, membuatku meliriknya dengan mata menyipit.
"Cuma temen, Na, kenapa sih, kamu cemburu?" tanyaku kembali menggodanya.
"Nggak mungkin aku cemburu, kan aku nggak ada apa-apa sama kamu!"
"Emang kamu nggak ada perasaan apa-apa ke aku?" tanyaku.
"Perasaan apa maksud kamu?" tanyanya pelan, kembali menunduk tak lagi memandangku.
"Sudahlah nggak usah dibahas,"
"Kamu marah?" tanyanya dengan muka tidak puas.
"Nggak, kenapa aku harus marah," jawabku sedikit dongkol, mengambil jaket milikku kemudian memakainya, tak lupa mengambil tas kerjaku.
Dia memilih berbaring kemudian meringkuk, membuatku jadi tak tega dan merasa bersalah kalau harus meninggalkannya.
Melihatnya meringkuk sendirian, dalam keadaan sakit, tanpa ada orang yang menemaninya, sebagai orang yang memiliki rasa padanya, tentu aku tidak tega.
"Kamu mau aku menghubungi seseorang, agar mereka datang menjagamu?" tanyaku sebelum benar-benar pergi.
"Nggak perlu, kamu pulang saja!" sergahnya cepat.
"Na,"
"Aku nggak punya orang lain, udah kamu pulang aja, aku sudah biasa sendirian!" serunya tertahan, seperti menangis.
Aku menaruh kembali tas yang telah kutenteng, merebahkan tubuhku di belakang punggungnya, kemudian melingkarkan tanganku memeluknya dengan berani.
Kupikir dia akan marah atau mengumpatku, tapi aku salah dia hanya diam, tidak berusaha mendorongku atau marah padaku.
"Maaf," ucapku, merasa bodoh sekali tidak peka dengan ucapannya, karena aku juga takut, jika perkiraanku salah.
"Kamu nggak perlu minta maaf, aku yang harusnya minta maaf ke kamu, aku yang salah," jawabnya ketus, membuatku ingin tertawa antara dia memarahiku dan merajuk, sudah susah aku bedakan.
"Kamu tau nggak, kalau aku suka sama kamu," ucapku lebih berani, menyembunyikan wajahku di punggungnya.
"Sejak kapan?" tanyanya.
"Kayaknya sejak pertama kali kita ketemu," jawabku.
"Suka doang, nggak cinta?" tanyanya terdengar seperti mengejekku.
"Astaga ini mulut kamu," ucapku menariknya agar berpaling memandangku, kemudian mencium bibirnya untuk pertama kali.
"Bar," desahnya memanggil namaku.
Kembali kuperdalam ciumanku pada bibirnya, kurengkuh pinggul sintalnya yang telanjang, melingkarkan kaki kanannya di pinggangku agar jangan sampai tertindih dan kembali terluka.
Kulit pinggulnya begitu lembut, membuatku ingin terus menyentuhnya, lembut kenyal dan begitu halus membuatku tanpa sadar telah menindih tubuhnya di atas ranjang sembari terus meraba tubuhnya dan tak melepas cumbuanku padanya.
Nana mengusap rahangku pelan, menerima setiap cumbuanku, dan mulai mendesah, matanya yang terpejam dengan rona pipi yang mulai mengembang, membuatku semakin terpesona.
"Wow," ucapku, begitu berat melepas bibirnya.
"Kenapa, Bar?" tanyanya mengusap bibirku dengan jemarinya.
"Kamu cantik," pujiku padanya yang kemudian tertawa kecil.
"Cantik-cantik bau desinfektan,"
"Kamu mah, ngerusak mood," ucapku berdecak.
"Mood apa sih, Bar, udah sana pergi, di tunggu temanmu!" serunya, mendorong dadaku agar menjauh darinya, tapi tentu saja aku tak rela.
Kuremas dadanya pelan, membuat matanya membelalak memandangku, hanya memandangku saja, Nana tidak berusaha menahanku, dia justru menggodaku dengan desahannya.
Kusibak selimut yang menutup sebagian tubuhnya, memberiku pemandangan indah yang begitu menggoda terpampang jelas, khususnya bagian intim mulus tanpa rambut miliknya.
"Barra, aku malu ih, balikin selimutnya," ujarnya dengan pipi menggembung, menutupi bagian intimnya dengan kedua telapak tangan dan mencoba merapatkan kedua kakinya.
"Kenapa malu, cuma aku yang ada di sini," ucapku, mengusap lembut pipi menggembungnya.
"Selimutnya, Bar," rengeknya meremas lenganku.
"Nanti," jawabku cepat melempar selimutnya ke sembarang arah, agar tak bisa dia gapai.
Kembali kukecup bibirnya ringan berkali-kali, membuatnya terkikik geli, keningnya, pipi dan dagunya pun tak luput dari kecupanku.
Aku beralih ke leher jenjangnya, meninggalkan beberapa bekas merah, tanganku terus meraba seluruh bagian tubuhnya dengan gemas, kecuali kaki kanannya yang tetap kulingkarkan di bagian pinggulku agar jangan sampai tertindih.
Nana terus mendesah tidak karuan, berkali-kali memanggil namaku, membuatku semakin hilang akal.
"Aku belum mandi dari kemarin, Bar," ucapnya lagi membuatku mendesah kesal, karena terus di ganggu olehnya.
"Nggak masalah," jawabku, kemudian menyibak kaos yang dia pakai, menghisap puncak dadanya yang sudah mengeras, setelah menggeser bra miliknya ke atas, membuatnya kembali melenguh sembari meremas rambutku sedikit keras.
"Barra...," panggilnya pelan.
"Hm," gumamku, terus menghisap puncak d**a kirinya dengan keras.
"Geli, ih," ucapnya, di sela-sela desahannya, membuat gairahku semakin berkobar mendengar suaranya yang manja, membuatku memperkuat hisapanku.
"Cuma geli?" tanyaku, melepas puncak dadanya dengan sedikit gigitan, membuatnya kembali memukul bahuku.
Kulepas rangkulannya di bahuku, membuatnya memandangku, kutumpukan berat tubuhku pada lutut, mulai melepas ikat pinggang yang kupakai, tak lupa kubuka juga kancing dan menarik turun resleting celana milikku.
Aku sudah tidak tahan, milikku yang telah bangun, terasa sesak dan tidak nyaman, tak lupa kubuka satu persatu kancing kemeja yang kupakai dan membuangnya ke lantai asal.
"Boleh, nggak?" tanyaku meminta izin padanya.
"Boleh apa, Bar," jawabnya sembari menutup matanya dengan lengan, dan kulihat sepertinya dia malu untuk menjawab.
"Aku pelan-pelan yah," ucapku mulai menggesek milikku pada inti tubuhnya, membuatnya kembali mendesah pelan.
"Hm," gumamnya.
"s**t, Shit..., kenapa susah sekali!" geramku dalam hati, mendorong pelan milikku pada bagian intinya yang telah basah.
Sampai suara ponsel terus berdering dengan menggila, namun tak bisa memecahkan konsentrasiku pada maha karya indah di hadapanku.
"Bar, ponsel kamu bunyi," ucapnya sembari meremas bantal di kepalanya dengan erat, saat aku mencoba memasuki tubuhnya.
"Biarin, Yang," jawabku kembali mencoba memasukinya, pelan tapi pasti ujung milikku mulai masuk, membuatku memejamkan mata merasakan sensasi itu.
"Barra, kepalaku kok pusing yah," gumamnya dengan mata terpejam.
"HAH!"
Ucapan Nana membuatku menengadah, menemukan peluh bercucuran sangat deras di wajahnya yang berubah pucat pasi dan melemas.
Tapi nafsuku sudah ada di ujung kepala, milikku sudah siap perang, masak sih harus balik kandang, tinggal satu kali tendangan udah cetak gol lho ini, astaga.