6.KENYATAAN.

1152 Words
BARRA POV. "Makanlah, Bar," ucap Arman kembali datang menemuiku, 4 hari telah berlalu, sejak kejadian aku memukul Herman, dan membuat gaduh rumah sakit. Aku kembali melihat pergelangan tanganku yang memerah, tertinggal garis merah melingkar di kedua pergelangan tanganku dan rasa sakit di tangan kiriku semakin menjadi akibat terlalu sering mengamuk. Aku masih dibawah pengawasan Rasyid dan belum di izinkan untuk pulang sampai saat ini, berulang kali Rasyid harus menyuntikkan obat penenang, setiap kali aku mengamuk. "Kalau kau terus begini, kau bisa mati, kau juga harus tau, surat skorsmu sudah keluar, Bar!" tambah Bimo yang juga datang menemuiku. "Sejak kapan aku hidup, Bim, dan aku tak peduli tentang skors!" jawabku, dengan senyuman miring. "Hadapi kenyataan, dia tidak ingin bersamamu, jangan kau hancurkan kehidupanmu demi seorang wanita yang bahkan tidak mencintaimu!" bentak Bimo padaku, membuat Arman yang berada disebelahnya, menahan tubuh Bimo dan menggeleng. "Aku hanya bertanya, dimana dia sekarang, katakan," ucapku, namun, alih alih menjawab, Bimo membuang muka dan memilih keluar dari ruang rawatku, diikuti Arman sesaat kemudian. Aku lebih baik sendiri, jangan tanyakan bagaimana perasaanku, hatiku sudah pernah mati sekali saat dia meninggalkanku, dan sekarang aku kembali merasakannya, membuatku kembali buta arah. Hanya dia yang aku butuhkan, tapi sekarang dia sudah pergi, tanpa ucapan dan salam perpisahan, pasti dia marah karena perbuatan kurang ajar yang kulakukan padanya. Tapi aku melakukannya karena rindu, apa itu adalah kesalahan, andai aku tau dia akan semarah ini, aku pasti tidak akan melakukannya. Suara pintu kembali diketuk, dan tidak mungkin itu Bimo atau Arman, dan saat pintu terbuka, ternyata dugaanku benar, yang muncul adalah Suryo. "Apa aku mengganggu?" tanya Suryo, masuk begitu saja. "Pergilah!" perintahku padanya. "Makanlah dulu," ucapnya memberikan sekotak makanan di hadapanku, dan sekotak buah kupas juga segelas teh yang terlihat masih berasap. "Pergi sekarang!" seruku keras. "Kalau kau habiskan makananmu, akan kuberi tau, dimana perempuan yang kau cari itu!" ucap Suryo mengejutkanku. "Coba kau ulangi?" tanyaku. "Habiskan dulu, baru kuberi tahu," ucap Suryo membuka balkon, mendaratkan pantatnya di bangku yang ada di sana. Aku memandang makanan di hadapanku, nasi dengan lauk dan sedikit sayur, makanan yang dibawa Suryo untukku, benar-benar tidak menggoda. Aku mengambil sendok yang tersedia, mulai memakannya sedikit demi sedikit, walau sebenarnya aku tidak lapar, aku terus melahapnya demi informasi yang dibawa Suryo. Aku meliriknya yang tengah menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya seakan rokok itu adalah sesuatu yang sangat lezat. Dasar dokter tidak tau aturan, merokok di area ruang rawat inap sangat dilarang keras, pantas saja dia sering sekali mendapat peringatan atau komplain karena kelakuannya. "Perempuan yang kau cari, namanya Ratna Manggalih, benar?" tanya Suryo tanpa memandangku, aku telah menghabiskan makanan yang dia bawa, sampai rasanya aku ingin muntah. "Iya, itu namanya, katakan dia dimana," jawabku bersemangat, bergegas turun mendekatinya. "Dia dipindahkan ke rumah sakit Handburk di kota C," ucap Suryo singkat. "Kau yakin?" tanyaku menyakinkan lagi, aku takut kalau semua ini halusinasi. "Kapan aku pernah membohongimu?" tanya Suryo kembali menghisap rokok di tangannya. "Baiklah, aku akan segera kesana, terima kasih," jawabku sumringah, setidaknya aku masih bisa mengejarnya, karena rumah sakit yang dimaksud Suryo hanya berbeda kota dengan tempatku sekarang. "Dengarkan dulu ucapanku!" seru Suryo. "Apa lagi?" tanyaku tidak sabar. "Perempuan yang kau cari itu sudah menikah, dan mempunyai seorang putra, kau tau itu?" tanya Suryo dengan wajah serius, membuatku tak tahan untuk tidak tertawa. "Kau becanda kan?" tanyaku sembari tertawa sumbang, dia pasti sedang bercanda, agar aku tak lagi mencari keberadaan Nana. "Orang yang meminta kepindahannya, adalah suaminya sendiri, Bar," ucap Suryo lagi, membuat senyumanku menghilang saat itu juga, dadaku terasa panas, makanan yang baru saja masuk ke lambung seperti akan refluks ke tenggorokan. "Siapa laki-laki itu?" tanyaku dengan emosi yang mulai menguasai diriku, ditambah rasa panas yang kurasa menyebar di d**a. "Pewaris ADIRATA!" "ADIRATA...," ucapku, sembari mengingat ingat, sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana. "Putra tunggal Adirata, perempuan yang kau cintai itu istrinya, Bar!" ucap Suryo serius. "Kau bercanda 'kan?" tanyaku padanya, dengan tubuh yang kembali melemas, meski tanpa suntikan obat penenang. "Aku tidak bercanda, aku sangat serius," jawab Suryo. "Tapi...," "Belajarlah melupakannya," ucap suryo kembali fokus pada sebatang rokok di tangannya. Perkataan Suryo setelahnya terasa seperti angin lalu, tak sedikitpun kata-kata dari mulutnya mampu aku mengerti, kuambil ponselku yang tergeletak di atas nakas, mengetik nama Adirata di sana. Mataku membelalak, melihat perempuan yang ada di dalam rangkulan laki-laki itu, perempuan itu tidak lain, tidak bukan adalah Nana. Kuscroll pelan layar ponselku, mengeklik satu website dan membacanya, di sana tertulis lengkap, siapa perempuan itu, siapa namanya, apa hubungan mereka. "Bar," panggil Suryo padaku, dan mendekat. "Ternyata kau benar," jawabku pelan, tak terasa air mataku mulai menetes, membuat Suryo mendekatiku. "Kau harus belajar melupakannya, Bar," ucapnya menepuk bahuku beberapa kali. "Aku tidak bisa," "Kau bisa, kau hanya perlu belajar, dan juga sabar," ucap Suryo. "Tapi di sini sakit sekali," ucapku bergetar, menunjuk ke arah d**a kiriku yang terasa sakit, seperti tertusuk belati, aku pun tak mampu lagi menahan air mataku yang keluar semakin deras. "Menangis'lah, jangan kau tahan," ucap Suryo. Aku menangis dengan kencang, aku berteriak, memukul dadaku beberapa kali, berharap rasa sesak ini akan hilang, Suryo tetap ada di sampingku, hanya terdiam, tak mengucapkan kalimat apapun. Jika bisa, ingin sekali aku melupakannya, sering aku berharap, dia tidak pernah hadir dalam kehidupanku, berkali-kali aku memohon pada Tuhan. Kalau aku tidak bisa melupakan, buatlah aku membencinya, sampai aku tak lagi merindukannya. Tapi Tuhan sepertinya enggan untuk mengabulkannya, kemarahan yang kurasakan saat kami bertemu kembali, adalah bentuk dari rindu yang selama ini kutahan, menjadi duri yang siap menusuk jantungku kapan saja. "Kau sudah puas?" tanya Suryo padaku, memberiku sekotak tissue, aku hanya bisa mengangguk dan menerimanya. "Apa aku bisa mengajukan euthanasia?" celetukku. "Dasar kau gila!" seru Suryo sembari menonyor kepalaku, karena saat ini aku merasa sangat konyol dan bodoh sekali. "Karena dendam, selama ini aku masih bertahan," "Apa dia sangat cantik, sampai membuatmu gila, aku tidak tau perempuan itu yang mana, banyak sekali perempuan di dalam keluarga Adirata, " tanya suryo, aku tidak menjawab, memilih menyodorkan ponselku padanya. "Oh God, She is Goddess!" ucap Suryo dengan nada kagum. "Cantik'kan?" tanyaku. "Bagaimana bisa kau mengenalnya, ceritakan padaku," ucap Suryo. "Kau ingin membunuhku," ucapku sarkas. "Ayolah ceritakan, agar kau lega," jawabnya tetap mengejarku, membuatmu berpikir, dia itu sebenarnya temanku atau musuhku. Aku menghela nafas, mengambil sebotol air mineral yang tersedia di atas nakas, meminumnya hingga tandas. Kembali aku menghela nafas, memutar memori lama tentang kebersamaan kami, selama ini aku memilih diam, tak mau menyebut dan membicarakannya. Setiap kali aku mengucapkan namanya, bibirku menjadi keluh, air mata akan mengalir tanpa kusadari, begitu besar pengaruhnya dalam hidupku. Andai saja dulu aku tidak pernah mengenalnya, semua hal ini tidak akan terjadi, aku terjerat pesonanya, suaranya yang merdu, kecantikan wajahnya yang selalu datang di setiap mimpiku. "Dia sahabat Nadia," ucapku pelan. "Istri Arman?" tanya Suryo membenarkan kursinya, dan seperti bersiap mendengarkan kisah tentang masa laluku. "Yah," jawabku. "Lalu?" "Aku jatuh cinta padanya, saat...," NB: Euthanasia: adalah tindakan yang bertujuan untuk menghilangkan penderitaan seseorang dengan mengakhiri hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD