Deon berdiri di depan pagar rumah yang menjulang, hanya berdiam diri memandangi rumah megah yang berdiri di hadapannya itu. Sisa-sisa salju masih tercecer, udara pun masih terhitung dingin. Namun hanya sebuah baju lengan panjang dan celana selutut yang membalut tubuh Deon. "T-tuan Deon???" Seorang lelaki berbadan tegap yang baru saja membuka pagar tersebut pun seketika terlonjak. Tubuhnya gemetar, bukan karena kedinginan, tapi karena seseorang yang selama ini ia kira sudah mati, malah berdiri di hadapannya. "T-tuan Deon? Benar kau Tuan Deon?" Cukup lama Deon melempar tatap pada lelaki itu dengan wajah datar, pun dalam hitungan detik, Deon mulai menarik ujung garis bibirnya, membentuk sebuah simpulan senyum. "Eum. Aku benar Deon." Jawabnya. "T-tapi b-bukankah T-tuan Deon s-sudah…." "T

