Blood and Tears

1541 Words
Seorang lelaki nampak berjalan gontai di pinggir jalan. Penampilannya sudah tak lagi keruan, rambutnya acak-acakan pun bajunya begitu lusuh. Di tangan kanannya tergenggam sebotol cat semprot. Lelaki itu terus berjalan tak tentu arah, ia hanya mengikuti kemana pun kakinya melangkah. Sampai tiba di depan suatu garasi, tanpa tengok kanan kiri lelaki itu menyemprotkan cat yang digenggamnya ke pintu garasi. Terus menyemprotkannya sesuka hati tak memedulikan sekitar dan di mana saat ini ia berada, padahal bisa saja seseorang melaporkan tindakannya sebab melakukan tindakan vandalisme. Setelah merasa puas, lelaki itu menyeringai dan melemparkan botol cat semprot yang telah kosong itu ke sembarang arah. Pun ia melanjutkan lagi perjalanannya yang tak memiliki arah dan tujuan itu. Hingga pada akhirnya, kakinya berhenti melangkah tepat di depan sebuah apartemen. Pun ia menoleh, dari luarnya saja bangunan apartemen itu sudah terlihat menyeramkan. Gelap, sepi, cat temboknya juga bahkan sudah terkelupas. Dengan sedikit ragu kakinya mulai melangkah lagi, kali ini ia memasuki bangunan apartemen tersebut. Menyusuri lorong demi lorong serta menapaki anak tangga satu persatu. Sampai dirinya tiba di ujung lorong, berdiri menatap ke dalam kamar yang pintunya memang terbuka. PLAKKK! Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan seorang lelaki paruh baya baru saja menampar seorang perempuan di sana. Perempuan itu terisak, memegangi pipinya juga merintih kesakitan. Dan di saat yang bersamaan, ia merasa seperti ribuan belati menghujam jantungnya. Tanpa disadari matanya pun sudah mengeluarkan cairan bening. PLAKKK! Lagi-lagi lelaki paruh baya itu mendaratkan telapak tangannya di wajah sang perempuan. Tak ingin terus-terusan menyaksikan kejadian tersebut, lelaki itu hendak menghambur ke dalam kamar dan menghentikan semuanya, tapi anehnya tubuhnya malah tak bisa bergerak. Seperti ada sesuatu yang mengikatnya untuk berdiam diri di tempat. PRANGGGG! Kali ini lelaki paruh baya itu memecahkan salah satu botol minuman keras. Ya memang di dalam kamar itu ada beberapa sampah bekas botol minuman keras yang berserakan di lantai. Kini semakin dibuat kacau dengan serpihan botol yang baru saja dipecahkan. Barulah pada detik itu ia seakan terlepas dari ikatan yang membelenggunya. Lelaki itu berlari ke dalam kamar, membuat dua penghuninya tersentak. Terutama sang wanita, yang sontak langsung melempar tatapan penuh harap agar dirinya dapat diselamatkan. Perlahan tapi pasti, lelaki itu mengambil serpihan botol yang tadi dipecahkan dengan ujung yang lancip. Tangannya mengepal menggenggam leher botol, mendekat perlahan ke arah lelaki paruh baya yang tengah meracau, tubuhnya sempoyongan, mungkin efek dari minuman-minuman yang telah dikonsumsinya. Kemudian, "ARGHH!" Lelaki paruh baya itu seketika membelalakan mata, tubuhnya perlahan ambruk, darah segar mengalir deras dari perutnya. "M-Mirza…" Lirih perempuan yang masih dalam isaknya setelah menyaksikan adegan pembunuhan di depan mata kepalanya sendiri. Lelaki yang dipanggil "Mirza" itu pun mencabut kembali serpihan botol yang baru saja ia tancapkan ke perut lelaki paruh baya itu. Pun ia sendiri tak menyangka atas apa yang baru saja ia lakukan, Mirza mundur dua langkah, ia menatap telapak tangannya yang berlumuran darah dan gemetar, napas nya memburu. Kemudian ia menatap ke arah perempuan yang tengah berlindung di sudut kamar, gemetar ketakutan. "Kak…" Baru saja Mirza melangkah hendak mendekat, perempuan yang diketahui adalah Kakak Mirza itu pun malah semakin mengkerut ketakutan. Lantas dengan air mata yang lagi tak tertampung, Mirza berlari keluar kamar, menuju ke arah westafel yang ada di bawah tangga untuk mencuci darah yang ada di tangannya. Mirza mencucinya dengan sangat panik, pun ia menatap pantulan diri di cermin yang ada di hadapannya. Dengan tatapan mata yang tajam, Mirza beradu pandang dengan dirinya sendiri. Entah apa yang dirasakannya, detik berikutnya Mirza malah memukul-mukul cermin sembari meraung seakan ia membenci dirinya sendiri. Setelah darah pada telapak tangannya bersih, Mirza kembali melangkahkan kakinya keluar dari bangunan apartemen itu. "Apa ini milikmu?" Tanya seorang lelaki bertubuh tegap yang tiba-tiba saja mencegatnya di depan, menunjukkan sebotol cat semprot kosong yang sebelumnya dibuang oleh Mirza. Mirza hanya mengangguk dan menunjukkan ekspresinya yang bingung. Pun lelaki itu terlihat merogoh sesuatu dari saku jaketnya, dan menunjukkannya di depan wajah Mirza. Ya, lelaki itu menunjukkan sebuah lencana, dia pulici. "Kami menangkap Anda atas tindakan vandalisme. Anda bisa menjelaskannya di kantor!" Tegas sang polisi sembari memborgol kedua tangan Mirza. Serta membawanya ke dalam mobil, Mirza pun mengikutinya tanpa melakukan perlawanan. *** Mirza menempati sebuah ruangan bernuansa gelap, dirinya terduduk di sebuah kursi dengan meja kayu panjang di depannya. Penerangan hanya mengandalkan lampu yang tergantung tepat di atas meja. Di hadapan Mirza sebuah kaca besar, yang Mirza tahu betul, di balik kaca tersebut ada beberapa petugas yang tengah memantaunya. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka, menampilkan petugas kepolisian bertubuh tegap yang membawa Mirza kemari memasuki ruangan. Sang polisi menempatkan posisi duduk tepat di hadapan Mirza. Menatapnya dengan tatapan menyelidik, sementara Mirza hanya diam dan membalas tatapan mata itu. Pun polisi itu menenggak segelas air mineral yang tersaji di atas meja, di saat yang bersamaan, Mirza malah memalingkan wajahnya dan sedikit berdecis. Sial, melihat adegan meminum air Mirza malah mengingatkannya akan lelaki paruh baya yang tewas di tangannya tadi. Lelaki paruh baya yang memiliki kebiasaan "minum-minum" sejak dulu. "Baiklah… Mari kita mulai. Siapa namamu?" Tanya polisi, yang memulai penyelidikan dengan melempar pertanyaan-pertanyaan dasar. Namun, Mirza hanya terdiam. Sepertinya ia memilih menggunakan haknya untuk tetap bungkam. Sorotan matanya tak tentu arah, wajahnya nampak menyembunyikan rasa kesal luar biasa, tapi di bawah meja, jemari Mirza justru malah bergerak gugup seakan mengalami kecemasan. Sekali lagi sang polisi melemparkan pertanyaan, "Siapa namamu?" Namun lagi-lagi Mirza tak menjawabnya. Polisi pun nampak mulai sedikit geram, terlihat jelas dari lirikan matanya ke arah Mirza serta helaan napasnya terdengar berat. "Baiklah kalau begitu… Orangtua?" Saat pertanyaan itu terlontar, seketika Mirza menunjukkan ekspresi yang berbeda. Sorotan matanya yang semula menatap kesana kemari, kini nampak tajam dan lurus. "Orangtua?" Katanya mengulang pertanyaan, dengan nada yang sangat dalam dan menusuk. Polisi pun mengangguk. "Aku tidak memilikinya." Jawabnya dengan singkat dan lugas. *** "Terima kasih!" Seru Mirza seraya membungkukkan badannya kepada petugas polisi yang melakukan penyelidikan terhadapnya. Oleh sebab Mirza yang sangat kooperatif, ia hanya dijatuhi hukuman membayar denda atas perbuatannya serta menulis surat pernyataan untuk tidak mengulanginya lagi. Baru saja Mirza melangkahkan kakinya melintasi pintu utama kantor polisi, lelaki itu menyeringai dan kepalanya sedikit menoleh kembali ke dalam kantor. "Seharusnya aku diperiksa untuk kejahatan yang lebih besar." Desisnya, sebelum kakinya kembali melangkah. Belum jauh dari tempatnya semula, Mirza merasa ada rintikan air yang membasahi wajahnya. Lantas ia menengadah ke arah langit, mendung, sepertinya air Tuhan akan turun lebih banyak. Alih-alih berteduh Mirza malah terus melanjutkan perjalanannya, seiring dengan langit yang perlahan mulai gelap. Entah harus sejauh mana lagi lelaki itu berjalan, tapi anehnya, kedua kaki Mirza malah mengarah ke apartemen yang semula disambanginya. Apartemen tempatnya menghabisi nyawa seorang lelaki paruh baya. Mirza sempat berhenti sejenak, memandangi bangunan tak terurus itu dari luar di bawah guyuran hujan. Setelahnya Mirza menunduk, dan ketika kakinya hendak kembali melangkah. Seorang perempuan berdiri di hadapannya dengan menggunakan dress putih selutut. Matanya yang sembab itu menatap tajam ke arah Mirza, sementara Mirza berusaha mengabaikannya dan kembali melanjutkan langkah. Namun, "Mirza!" Gertak perempuan itu dengan suara yang bergetar. Mau tidak mau akhirnya langkah Mirza terhenti. "Apa yang baru saja kau lakukan? Kenapa kau malah membunuh ayah?!" Pekiknya, air mata kembali membasahi wajah perempuan itu. Sepertinya ia sudah banyak sekali mengeluarkan air mata. Mirza benci itu. Lantas Mirza segera menarik lengan perempuan itu ke samping bangunan apartemen. Terlihat seperti gang buntu yang sangat gelap. Hujan masih mengguyur keduanya bahkan semakin deras. "Kenapa kau melakukannya Mirza, kenapa?!" Perempuan itu terus memaki, mengguncangkan tubuh Mirza yang lebih tinggi darinya, sementara lelaki itu hanya bungkam dan tertunduk. "Katakan Mirza! Katakan kenapa kau melakukan itu?!" Murkanya. Merasa terus dicecar, Mirza akhirnya naik pitam. Buku-buku tangannya mulai mengepal, sedang perempuan itu terus memberondong Mirza dengan pertanyaan yang sama. BRAKKKK Seketika Mirza mendorong tubuh perempuan itu hingga menghantam tumpukan kayu yang ada di belakangnya dengan sekuat tenaga. "ARGHH!" Jeritnya, perempuan itu menatap ngeri ke arah Mirza yang notabenenya adalah adiknya sendiri. "Apa yang kau lakukan?!" Pekik perempuan itu disela rintihannya. "Jika pertanyaan itu masih merujuk pada ayah, maka jawabanku hanya satu…" penuturannya terhenti sejenak, Mirza berjalan mendekati perempuan itu yang masih berada di atas tumpukan kayu. "AKU INGIN MENYELAMATKANMU! Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari si b*****h itu, Kak! Tak pernah satu hari pun aku melihatmu tanpa air mata! bahkan setelah sekian lamanya aku pergi, kupikir dia sudah tidak lagi bersikap seperti itu, tapi nyatanya?!" Mirza memberi jeda untuknya mengatur napas, sebab kali ini ia benar-benar murka. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dia menyakitimu bahkan…" Nada bicaranya menjadi pelan, terlihat betul kedua mata Mirza mulai berkaca. "Bahkan dia tega membunuh istrinya sendiri!" Tegasnya dengan suara yang menahan isak. Perempuan itu menggeleng, "caramu salah, Mirza. Lantas apa bedanya kau dengan dia sekarang? Kalian sama-sama pembunuh!" Sentaknya. "TUTUP MULUTMU!" Gertak Mirza dan entah apa yang ada di pikirannya, Mirza meraih sebilah kayu dengan ujung yang sedikit runcing, sorot matanya memancarkan sebuah kilatan yang membuat perempuan itu menjadi semakin ngeri. Ia berusaha menelisik ke dalam sorot mata Mirza. Tak lagi ditemukannya sosok Mirza yang dulu, sosok adik kecil yang penurut serta menyayanginya sebagai seorang Kakak. Entah bagaimana adik lelakinya ini menjelma menjadi seorang monster baginya. "JANGAN PERNAH KAU MENCAMPURI HIDUPKU LAGI!!" Adalah menjadi kalimat terakhir yang Mirza lontarkan kepada sang Kakak, sebelum akhirnya ia menyaksikan sendiri Kakaknya terkulai lemas bersimbah darah. Samar terlihat air matanya melebur bersama dengan hujan yang terus mengguyur, bibirnya nampak berusaha merapalkan sesuatu sebelum akhirnya matanya pun terpejam. Darah, hujan, dan air mata, membaur menjadi satu. *** Dengan tubuh yang gemetar, Mirza memasukan koin untuk melakukan sebuah panggilan. Lelaki itu baru saja memasuki kotak telepon yang berada di tepi jalan. Di luar hujan masih sangat deras, Mirza terus mendengarkan nada sambung dengan harapan panggilannya segera disambut. Sampai pada akhirnya, "Aku… ingin pulang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD