Musim Semi 2018.
"Kau sangat tampan, Darel!" Seru seorang lelaki, membuat Darel segera menoleh dengan senyuman yang terlukis di wajah tampannya, memamerkan pesona gigi kelinci yang membuatnya terlihat sangat manis kala ia mendapati Brian berdiri di ambang pintu.
"Cepatlah! Yang lain sudah menunggumu!" Ujar Brian.
Lantas Darel segera meraih ransel hitam di atas meja belajar, dan sebelum kakinya melangkah keluar kamar, Darel menyempatkan diri untuk memandang pantulan dirinya di cermin. Pun garis bibirnya saling tarik menyimpulkan senyum sembari merapikan seragamnya, barulah ia beranjak menyusul Brian yang sudah lebih dulu berada di luar.
"Wah! Lihatlah adik kecil kita!" Seru Arvin dengan senyumannya yang sehangat mentari.
"Bagaimana? Hari ini adalah hari terakhir kau mengenakan seragam sekolah, bukan?" Kini giliran Nevan yang bertutur.
"Aku tidak menyangka kau sudah besar!" Seru Mirza.
"Ah, sudahlah! Jangan banyak basa-basi nanti bisa terlambat!" Lelaki dengan tubuhnya yang lebih mungil dari Nevan itu seketika bangkit dari duduknya. Melangkahkan kaki menuju pintu depan dengan tangan yang disedekapkan di depan d**a. Siapa lagi kalau bukan Aksa, manusia yang tidak tahu bagaimana caranya berekspresi.
"Baiklah, ayo berangkat!" Seru Brian dan menggiring rekannya semua untuk keluar rumah, Aksa sudah berdiri di samping mobil Van hitam yang terparkir di halaman depan. Menunggu Brian sang pemegang kunci membukakan pintu mobil.
Setelah semua menempati posisinya masing-masing, Brian selaku pengemudi segera tancap gas membelah jalanan kota yang ternyata sudah cukup ramai. Dalam perjalanan, Darel melirik Brian yang tengah mengemudi di sebelahnya, meskipun fokus mengendalikan kemudi sesekali tawanya terdengar serta senyuman mengembang di wajah lelaki itu. Tanpa sadar, perlahan kedua ujung garis bibir Darel pun ikut membentuk simpul senyum.
Kemudian Darel menoleh ke belakang, di barisan kedua terdapat Arvin dengan tawanya yang menghangatkan dan Aksa yang bersandar di tepian jendela, tengah asyik memerhatikan lalu lalang kendaraan di luar. Sedang di baris ketiga, ada Mirza dan Nevan yang juga saling melempar tawa, entah apa yang mereka tertawakan, Mirza dengan senyum kotaknya dan Nevan yang matanya menghilang kala ia tertawa itu nampak memancarkan semburat bahagia. Darel kembali menatap jalanan yang ada di depannya, dalam hati ia tak henti mengucap syukur sebab semesta telah berbaik hati mempertemukannya dengan mereka semua. Kebahagiaan benar-benar tersalur pada mereka, gelak tawa saling dilempar mengiringi perjalanan segerombolan lelaki yang menuju ke sekolah Darel demi menghadiri acara kelulusannya itu.
***
Ya, itulah mereka, pada musim semi dua tahun yang lalu.
"Aksa, kau tidak makan dulu?" Tegur Brian, kepada Aksa yang melangkah menuju pintu depan tanpa pamit di saat rekannya yang lain tengah menyantap sarapannya masing-masing. Bahkan lelaki itu sama sekali tak menggubris teguran Brian. Kakinya terus melangkah meninggalkan rumah, sementara ke-empat rekannya yang berada di meja makan hanya mampu meratapi kepergian Aksa.
"Ekhem! Nevan, kau mau tambah telur?" Tanya Brian untuk mengalihkan perhatian rekan-rekannya yang masih memandang ke arah pintu. Kemudian Brian meletakan sepotong telur dadar buatannya di atas mangkuk milik Nevan, pun mereka melanjutkan aktifitas menyantap sarapan paginya masing-masing dalam keheningan. Ya, begitulah. Kehangatan sudah tak lagi menjamah penghuni rumah ini, lagi-lagi kepergian Deon lah yang menjadi penyebabnya.
"Aku sudah selesai." Ucap Darel seraya bangkit dari duduknya.
"Kau tidak menghabiskan makananmu lagi?" Tegur Brian.
Sementara Darel, lelaki itu menundukkan kepala sembari menggigit bibir bawahnya. "Maafkan aku, Kak, tapi… sepertinya aku akan sarapan di luar."
Lantas Brian melempar tatapan seolah menyiratkan sebuah tanya "mengapa?" Kepada rekan termudanya itu.
"M-masakanmu… t-tidak seperti buatan Kak Deon…" Lirih Darel, sebuah nama yang terlontar di akhir kalimatnya berhasil membuat tiga rekannya yang sedang sarapan itu seketika tersentak, selera makan mereka serasa menurun drastis.
Brian hanya memasang senyuman yang dipaksakan pada wajahnya. Kemudian lelaki itu mengangguk, "aku mengerti. Segera berangkat ke kampus agar tidak terlambat, karena kau mesti sarapan terlebih dahulu!" Paparnya.
Dan dengan polosnya Darel menyimpulkan senyuman kemudian berpamitan kepada semua yang berada di sana, dan melenggang pergi tanpa beban.
"Anak itu bodoh atau benar-benar bodoh? Bisa-bisanya dia menyebut nama Kak Deon tanpa merasa bersalah sedikit pun? Padahal mestinya dia yang ada di posisi Kak Deon sekarang." Cetus Mirza.
"Dia tidak lebih bodoh dari orang yang kabur dari rumah dan malah membunuh ayah tiri serta kakaknya sendiri." Sarkas Nevan yang berhasil membuat Mirza bungkam. Brian hanya terdiam, tak tahu mesti bagaimana lagi sebab sekarang rekan-rekannya tak lagi se-akur dulu.
"Aku sudah selesai. Nevan, kau bisa bereskan semuanya jika sudah selesai? Aku akan membawakan makanan ke kamar Arvin sekarang." Jelas Brian yang segera bangkit dari duduknya dan menyiapkan seporsi bubur nasi beserta segelas mineral dan s**u di atas nampan, untuk dibawakan ke kamar Arvin.
"Ya, aku akan mencuci piringnya nanti!" Sahut Nevan dengan sedikit berteriak sebab Brian sudah melangkah menuju anak tangga.
***
Setelah menyerahkan beberapa lembar uang, Aksa keluar dari taksi yang ditumpanginya. Berdiri menatap bangunan bertingkat yang berada di hadapannya. Nampak sepi dan tak terawat. Setelah taksi pergi, lelaki itu pun melangkahkan kakinya untuk memasuki bangunan tersebut. Tanpa mengindahkan sapaan dari resepsionis di depan, langkahnya tak terhenti dan menyusuri lorong demi lorong dengan penerangan yang remang itu, ia tahu betul tiap sudutnya seakan memang sering menyambangi tempat ini. Tempat yang terlihat seperti sarang bercinta bagi kucing-kucing liar, terbukti dengan sepasang muda-mudi yang baru saja berpapasan dengan Aksa kala keduanya muncul dari balik pintu salah satu kamar. Namun Aksa sama sekali tidak terkejut, peduli setan dengan orang lain, baginya, dunia dan seisinya ini hanya berputar untuk dirinya seorang.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar dengan nomor 606. Memasukan ujung kunci perlahan dan mulai memutarnya sampai pintu tersebut berhasil terbuka, lantas Aksa segera memasuki kamar yang tidak terlalu luas itu dan mengurung dirinya di sana. Hanya ada sebuah tempat tidur berukuran besar yang berbalut sprei putih, beserta sebuah piano yang berada di tengah ruangan.
Aksa mulai menempatkan dirinya di kursi piano, jemari lentiknya mulai menekan tuts-tuts berwarna putih di sana, dimulai dengan tempo yang mengalun lembut menenangkan sampai-sampai ia terhanyut dalam permainannya sendiri, memejamkan mata serta kepalanya mengalun seirama dengan nada. Namun, perlahan permainannya kian lama menjadi kian cepat, bak kerasukan roh jahat temponya menjadi semakin menggila dan terus menggila sampai pada akhirnya,
"AW!" Aksa meringis, jemarinya mengeluarkan darah akibat permainannya yang tak lagi terkendali.
"Musik…" ujar Aksa sembari noda menyeka asal noda merah yang mengotori tuts pianonya dengan lengan baju panjang yang ia kenakan.
"Adalah cinta pertamaku." Sambungnya, dan bukannya berhenti bermain, Aksa malah kembali melanjutkan permainnya, melawan rasa sakit membiarkan jemarinya terus mengeluarkan darah dan menodai tuts-tuts putih itu.
***
Dalam permainannya, Aksa mendengar seakan ada suara siulan yang memanggilnya. Lantas ia segera menghentikan dentingan pianonya, dan bergegas meninggalkan tempat itu, membiarkan suara siulan menuntun langkahnya. Tempat ini begitu sepi, bahkan resepsionis yang tadi menyapanya sudah tidak lagi berada di tempat. Yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika ia mendapati langit yang sudah menjadi gelap, padahal Aksa ingat betul dirinya datang ke tempat ini pagi hari dan ia belum lama berada di sini. Tidak masuk akal rasanya kalau sekarang sudah gelap seperti tepat di tengah malam.
Jalanan sekitar juga begitu sepi, tak ada seorang pun atau kendaraan yang melintas. Langkah Aksa tak bisa dihentikan, ia terus berjalan menyusuri jalanan yang gelap nan sepi, siulan itu benar-benar seperti menuntunnya. Terus berjalanan di jalan tak berpenghuni membuat Aksa merasa dipermainkan, emosinya mulai tersulut. Wajahnya nampak merah padam, lagi tangannya mengepal siap melayangkan tinju kapan pun dan kepada siapa pun.
"Inilah bagian yang ku benci ketika membuat kesepakatan dengan iblis sialan itu!" Gerutunya sendiri, kemudian tanpa sadar kepalan tangan itu menghantam kaca sebuah toko. Bersamaan dengan kepingannya yang berhamburan, buku-buku tangan Aksa mengeluarkan cairan merah kental. Seakan kebal rasa sakit Aksa terus menghantam kaca-kaca toko yang lain, ia benar-benar menjadi brutal kala dikuasai amarah. Bahkan suara sirine mobil polisi tak membuat Aksa menciut. Yang ada lelaki itu malah semakin menjadi, berlarian ke sana ke mari menghancurkan kaca-kaca toko yang ada di pinggir jalan.
Hingga tiba di titik akhir, tangannya benar-benar mengeluarkan darah yang tak lagi bisa ditahan, terus menetes meninggalkan jejak di setiap langkahnya. Aksa melangkah gontai di tengah jalan dengan tatapan yang mematikan. Sampai sebuah kilau lampu dari arah belakang berhasil membuatnya berbalik dan,
TIIIIIIINNNNNNNN
BRAKKK!!!
Sebuah mobil hitam berhasil menghantamnya setelah membunyikan klakson panjang.
PRANGGG
Sementara di rumah, entah bagaimana caranya, gelas yang berada di dalam genggaman Mirza itu terlepas kala dirinya hendak membantu Nevan membereskan peralatan bekas sarapan.
"Kau buta? Atau memang bodoh?!" Maki Nevan. Sementara yang dimaki hanya diam mematung, alih-alih segera membereskan, Mirza malah menatap pecahan itu dengan tatapan kosong.
"Mirza? Apa yang kau lakukan?!" Nevan masih mengoceh dan semakin geram.
"Anak bodoh!" Serbet yang berada di genggamannya itu berhasil dilayangkan ke lengan Mirza, membuat lelaki itu mengerjap seketika dan menatap Nevan dengan bingung.
"A-ada apa?" Tanya Mirza gelagapan.
"Ada apa?! Lihat itu!" Mirza mengikuti arah telunjuk Nevan yang mengarah pada pecahan yang berarakan di atas lantai.
"Cepat bereskan!" Gertak Nevan. Lantas dengan pikiran yang masih mengawang, Mirza menuruti perintah Nevan untuk segera membereskan pecahan itu sebelum kena damprat lagi. Namun, ketika tengah memunguti pecahan tersebut, Mirza meraba jantungnya yang terasa begitu nyeri, seperti ada sesuatu yang menusuk-nusuknya tepat di sana. Mirza merasakan sesak selama beberapa detik.
***
Aksa menatap kedua tangannya yang ujung jemarinya masih terus mengeluarkan cairan merah. Lelaki itu baru saja terbangun dari mimpi buruknya. Ya, Aksa tertidur di atas piano dan memimpikan kematian untuk dirinya sendiri. Lantas ia menorehkan sesuatu di atas meja piano, menjadikan cairan merah yang masih terus dikeluarkan oleh telunjuknya itu sebagi tinta.
"Tuhan punya banyak cara untuk membuat diri kita kesepian, dan membuat kita kembali pada diri sendiri."
Sebaris kalimat sederhana, yang ditulis Aksa di atas piano -media komunikasi dengan cinta pertamanya-, dengan rasa sakit, serta dengan darahnya sendiri.