Wanita itu memiliki rambut ikal berwarna merah. Dia memiliki kulit kecoklatan dan mata berwarna hijau. Tubuhnya terlihat ramping dan bentuk payudaranya terlihat bulat dan penuh. Entah wanita itu sengaja mengenakan pakaian dengan potongan leher yang rendah sehingga memperlihatkan bentuk dadanya atau tidak, tapi Julia bisa melihat bahwa bentuk d**a wanita itu sedikit terlalu besar di tubuhnya yang kecil. Wanita itu menghampirinya dengan ekspresi marah dan kesal.
“Kau wanita yang dibawa Rafael itu?”
Entah bagaimana wanita itu bisa mengenal Rafael, tapi Julia bisa melihat bahwa wanita yang kini berdiri di depannya itu adalah salah satu pengagum rahasia Rafael. Tentu dia memiliki banyak pengagum. Rafael tampan, begitu juga dengan saudaranya, Rolando. Semua Werewolf memiliki wajah dan tubuh yang hampir mendekati sempurna, tak terkecuali dirinya.
“Kau siapa?” tanya Julia.
“Oh, hentikan omong kosongmu itu! Siapa kau dan kenapa Rafael membawamu?”
“Aku mate-nya.”
“Apa? Mate? Apa-apaan dengan sebutan itu? Rafael tidak memiliki siapapun dan tidak pernah membawa siapapun! Jadi kenapa sekarang dia membawamu? Seberapa banyak uang yang kau miliki hingga dia mau membawamu kemari?”
Julia membuka mulutnya karena terkejut dengan perkataan wanita itu. “Apa?” ucapnya.
Wanita itu melangkah mendekatinya, lalu menunjuknya. “Dengar ya, aku tidak berpikir kalau kau cukup cantik untuk bisa bersama Rafael. Aku tidak tahu seberapa banyak uang yang kau keluarkan agar bisa dibawa Rafael kemari, tapi dia tidak akan pernah menjadi milikmu!”
Sebelum Julia bisa menjawabnya, tiba-tiba wanita itu mendorongnya hingga ia tercebur ke dalam kolam renang.
“Nyonya!” teriak Frida terkejut.
“Ha! Rasakan itu!”
Frida cepat-cepat mendekatinya dan berusaha menolongnya. Kolam itu tidak terlalu dalam, lagipula Julia juga bisa berenang. Frida mengulurkan tangannya dan ia menarik Julia naik ke atas.
“Ada apa ini?” tanya suara tiba-tiba.
Mereka semua menolehkan kepalanya dan menatap Rafael yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Wanita berambut merah itu langsung memasang ekspresi cerah dan senyuman lebar terukir di bibir penuhnya yang mengenakan pewarna bibir berwarna merah. Dia melangkah mendekati Rafael seraya menaikkan dadanya, seolah menunjukkan p******a penuhnya padanya.
“Oh, Rafael! Aku hanya ingin memberitahu wanita itu untuk tidak macam-macam denganmu,” jawabnya dengan nada yang penuh kepuasan.
Rafael tidak menghiraukannya dan berjalan melewati wanita itu untuk menghampiri Julia.
“Kau baik-baik saja? Kau harus cepat mengganti bajumu sebelum kedinginan.”
“Aku baik-baik saja dan aku tidak merasa kedinginan sama sekali.”
Rafael mendongak dan menatap Frida, lalu menunjuknya. “Kau. Cepat ambilkan handuk.”
Frida mengangguk dengan cepat dan segera berlari untuk mengambil handuk dari ruang ganti disana. Beberapa detik kemudian dia kembali dan memberikan handuk tersebut pada Rafael. Pria itu langsung membungkuskan handuk tersebut ke tubuh Julia yang basah kuyup. Setelah itu dia langsung mengangkat tubuh Julia dan berjalan keluar dari sana, benar-benar tidak mempedulikan wanita berambut merah yang berdiri disana dengan ekspresi wajah kesal.
“Apa-apaan ini? Kau tidak bisa mengabaikanku begitu saja!” teriaknya kesal.
Rafael menoleh dan menatap Frida yang masih mengikutinya di belakangnya. “Panggil penjaga. Suruh mereka mengusir wanita itu dari tempat ini. Bilang pada mereka agar jangan pernah mengizinkannya datang kemari lagi. Setelah itu, temui aku di kamar sebelumnya.”
Frida hanya mengangguk. Setelah mengatakan itu, Rafael kembali berjalan menuju kamar Julia yang sebelumnya. Tentu ini pertama kalinya Frida melihat Rafael berbicara banyak, dan kepadanya. Tapi terlebih, ini pertama kalinya ia melihat sang pria yang terkenal dengan julukan the Silent Prince begitu posesif terhadap seorang wanita. Frida menatap wanita berambut merah itu sesaat yang kini menatapnya dengan wajah penuh kemarahan seolah-olah akan meledak. Frida segera berlari dari tempat tersebut dan memanggil penjaga untuk mengusir wanita pemarah itu.
Saat sampai di kamar, Rafael langsung mendudukkan Julia di atas tempat tidur. “Lepas pakaianmu,” perintahnya seraya ia melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi dikenakannya untuk menutupi warna mata kuningnya.
Tanpa mengatakan apapun, Julia langsung membuka handuknya dan melepaskan pakaiannya yang basah. Rafael berjalan menuju kamar mandi dan mengambil jubah mandi disana. Saat Julia sudah melepas semua pakaiannya, Rafael langsung memberikan jubah tersebut untuk dikenakannya. Beberapa detik kemudian, Frida datang ke kamar mereka.
“Apa Julia menyuruhmu datang tadi?” tanya Rafael.
“B-benar, tuan.”
“Siapa yang menyuruhmu? Sebutkan namanya.”
“I-itu, Marisa…”
Rafael tentu tak tahu seperti apa wajah Marisa ini dan di bagian apa dia bekerja di hotel tersebut. Tapi ia tak ambil pusing untuk sekedar melihat wajah Marisa. Ia merogoh saku celananya dan mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu dan diberikannya pada Frida.
“Belikan pakaian untuk Julia.”
“Rafael, kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa mengeringkan pakaianku dan mengenakannya lagi,” sahut Julia.
“Kau perlu yang baru. Belikan juga pakaian dalamnya.”
Frida menerima kartu tersebut dan menatap Julia. “Umm, boleh saya tahu pakaian seperti apa yang anda inginkan, nyonya?”
“Apapun, Frida. Setelah ini aku harus mengunjungi rumah sakit jadi aku perlu pakaian yang nyaman,” jawab Julia tersenyum.
Frida mengangguk dan segera keluar dari kamar tersebut. Rafael menutup kembali pintunya dan berjalan menuju sofa dan duduk disana. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah kontak disana.
“Kau akan memecat gadis itu? Tolong jangan lakukan itu, dia masih sangat muda, ” kata Julia menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Aku tidak bilang akan memecatnya,” jawab Rafael tanpa menoleh padanya. Ia lalu menempelkan ponsel tersebut ke telinganya. “Pecat wanita yang bernama Marisa.” Setelah mengatakan itu, Rafael langsung mematikan sambungannya.
“Kau tidak harus memecatnya. Dia bisa diberitahu untuk tidak melakukannya lagi.”
“Sebagian orang tidak bisa diberitahu dan lebih memilih tindakan,” jawab Rafael. Dia meletakkan ponselnya lalu memeluk pinggang Julia. Dia menarik wanita itu mendekat dan merebahkan kepalanya di pundaknya.
“Kau lelah?” tanya Julia.
Rafael tidak mengatakan apapun dan memejamkan matanya. Julia tahu ia kelelahan setelah pertemuan yang memakan hampir satu jam lebih tersebut. Ia meraih remot TV di depannya dan kembali menyalakan TV.
“Frida bilang ini lantai khusus. Boleh aku tahu kenapa?”
“Lantai ini tempat menginap anggota kawanan jika mereka datang kemari,” jawab Rafael tanpa membuka matanya.
Selama beberapa menit mereka berdua hanya duduk disana sambil Julia menonton TV. Kemudian terdengar suara ketukan pintu dan Julia segera bangkit berdiri untuk membukanya. Frida sudah berdiri disana dengan membawa sebuah tas yang berisi pakaian milik Julia. Saat Frida masuk, Rafael bangkit dari sofa dan berjalan keluar seraya kembali mengenakan kacamatanya. Saat berjalan melewatinya, Frida menatapnya dan ekspresinya terlihat terkejut. Julia menyadari itu dan berpikir bahwa gadis itu melihat warna mata Rafael.
Setelah pintu ditutup, Julia segera mengenakan pakaian barunya yang berupa terusan selutut. Sepertinya Frida mengambil pakaian yang cukup mahal dan sesuai seleranya; yang tidak mencolok. Dan dia bersyukur akan hal itu.
“Umm nyonya, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Frida.
“Ya?”
“Maaf jika ini terdengar tidak sopan, tapi apa warna mata tuan Rafael memang berwarna kuning?”
Julia terdiam sesaat dan tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya orang dengan warna mata kuning masih bisa ditemukan di dunia, tapi warna itu lebih seperti coklat kekuningan. Sedangkan mata Rafael, kaum Werewolf Voref, adalah kuning. Tentu mata itu yang akan menjadi fokus utama saat orang menatapnya. Beberapa orang yang sudah melihatnya mungkin menganggap Rafael adalah orang biasa yang memakai lensa kontak. Tapi anggapan tentang seorang pemilik hotel memakai lensa kontak berwarna kuning adalah sesuatu yang sangat aneh dan sedikit tidak waras.
“Ya. Matanya berwarna kuning,” jawab Julia jujur. “Itu sebabnya dia selalu memakai kacamata hitam untuk menutupinya, walaupun di dalam ruangan.”
Setelah ia selesai mengenakan pakaiannya dan merapikan dirinya, ia segera keluar dari kamar tersebut dan menghampiri Rafael yang sedang menunggunya di luar. Pria itu segera melingkarkan lengannya ke pinggang Julia dan menuntunnya keluar dari hotel tersebut. Saat sampai di lantai bawah, para karyawan kembali menatapnya. Namun kali ini sedikit berbeda. Mereka berkumpul di dekat meja resepsionis seolah baru saja terjadi sesuatu. Julia menyadari bahwa ada satu wanita dari kerumunan itu yang sedari tadi menunduk dan matanya terlihat sembap.
Seorang pria tiba-tiba menghampiri mereka, sambil menyeret wanita yang sedari tadi menunduk tersebut. Mereka berdua berhenti tepat di depan mereka dan pria itu menatap Rafael.
“Maaf tuan, atas kekacauan yang telah dibuatnya. Aku sudah menyuruhnya untuk meminta maaf pada nona ini dan anda terlebih dulu sebelum mengusirnya keluar,” katanya.
Marisa perlahan mendongakkan kepalanya dan menatap Julia dengan bibir bawah yang bergemetar. Matanya lalu beralih menatap Rafael. Tidak sampai satu detik, ia kembali menundukkan wajahnya karena terlalu takut menatap Rafael.
“M-m-maaf atas p-perbuatan buruk s-s-saya, t-tuan… ny-nyonya.”
“Usir dia sekarang,” perintah Rafael pada pria tersebut yang merupakan seorang manajer di hotel tersebut. Pria itu menganggukkan kepalanya dan segera membawa pergi Marisa dari hadapan mereka.
Rafael dan Julia kembali melangkah hingga mereka sampai di luar dimana mobil Rafael sudah menunggu di depan sana. Orang-orang masih tetap memperhatikan mereka berdua dari belakang. Bagaimanapun, ini pertama kalinya mereka melihat Rafael mengusir seseorang karena seorang wanita. Bahkan nada bicaranya terdengar begitu dingin dan tidak berperasaan meskipun dia tidak menunjukkan ekspresi apapun tadi. Dan satu hal yang mereka tahu sekarang, tidak ada yang bisa macam-macam dengan wanita yang bersamanya itu, karena dia adalah kesayangannya sang pangeran.