Seberapa keras aku usahakan
Sebanyak apapun yang kuupayakan
Tetap sang pencipta yang memilihkan
Bertemu denganmu
Bukan pertemuan yang disengaja
Bukan pula yang terencana
Disebuah jalan, hari itu
(Reina Sekartaji)
"Halo re." Suara trainer gym melalui sambungan telepon. Hari ini Reina memiliki jadwal latihan gym dengannya.
"Halo, sorry sorry, jalanan macet banget, aku telat dikit."
"Ya, jangan lebih dari jam lima ya, aku ada kelas yoga habis ini," tukas sang trainer.
"Siap, ini aku mau muter cari jalan tikus."
Tut
Reina memutus sambungan teleponnya.
Jalanan sore kota Pahlawan sangat macet hari ini. Biasanya motor masih bisa lewat meskipun dengan kecepatan sedang, tapi sekarang macet total.
"Pak pak, didepan ada apa sih, tumbenan macet parah?" tanya Reina pada ojek online di sampingnya.
"Kecelakaan kayaknya," jawab bapak ojol.
Aduh, kecelakaan adalah sesuatu yang paling ditakuti Reina. Tidak tega melihat orang kesakitan. Adanya darah menjadikan dirinya ngilu. Setelah melihat kecelakaan, seringkali Reina kehilangan nafsu makannya, juga kesulitan untuk tidur. Bayangan orang berdarah darah selalu melayang dipandangannya.
Wiuwwiuwwiiw
"Kasih jalan semua minggir!" Ada bapak Polisi di atas motor patrolinya berteriak agar ambulance dibelakangnya bisa maju.
Reina menengok kebelakang, mobil mobil full memenuhi jalan, motor motor bahkan sampai naik ke trotoar. Tidak bisa mundur.
Tin tin tin
Suasana semakin riuh, polisi nampak kewalahan mengatur arus kendaraan.
"Mbak, maju!" bentak pengendara motor di belakang Reina.
Kalau maju, itu artinya Reina akan bisa melihat orang yang kecelakaan. Tapi kalau tidak mau, dia kena marah orang di belakangnya. Tidak ada jalan lain. Reina memutar setir motornya. Rodanya bergerak maju.
Kecelakaan beruntun menyebabkan beberapa kendaraan terlibat. Ada sebuah mobil suv, sebuah truk muat cargo kecil, dan dua sepeda motor.
Orang di dalam truk dipastikan selamat, dan dalam keadaan baik baik saja, hanya kendaraannya bagian belakangnya ringsek, juga isi cargonya nampak berhamburan keluar.
Pintu mobil suv rusak. Kecelakaan ini membuat pengendaranya terpental keluar sejauh beberapa meter. Sedangkan penumpang bagian belakangnya terjepit, sehingga kesulitan untuk keluar, ditambah banyaknya luka pada tubuhnya. Polisi masih berusaha untuk mengeluarkannya. Nampaknya mobil ini adalah ojol, terlihat dari penumpang yang duduk jok belakang, bukan di depan.
Yang paling parah adalah pengendara sepeda motor. Seorang wanita lanjut usia dipastikan tewas di tempat kejadian. Jasadnya ditutupi kain yang tergeletak dipinggir. Korban lainnya nampak berdarah darah di belakang mobil suv. Sontak mata reina langsung menutup begitu melihat korban yang satu ini. Fokus utama tenaga medis yang datang adalah menyelamatkan korban ini, menyelamatkan jiwa yang jantungnya masih berdetak itu prioritas.
Ambulance yang pertama datang langsung membawa korban sepeda motor. Ambulance selanjutnya membawa pengendara mobil suv. Pengendara truk cargo yang nampak terlihat tidak terluka itu dibawa ke rumah sakit dengan kendaraan polisi. Mayat korban juga sudah dievakuasi.
Semua mata kini fokus pada penyelamatan penumpang mobil suv. Telinga Reina mendengar iring iringan ambulance yang telah mengecil, itu artinya korban yang berdarah darah tadi sudah dibawa pergi.
Mata Reina perlahan membuka. Memberanikan diri melihat sekitar. Matanya membulat, melihat sesuatu dibawah truk cargo. Dari kejauhan nampak berwarna hitam, gelap. Tangannya menyentuh kunci motor untuk mematikan mesin kendarannya. Rasa penasaran membawa kakinya melangkah mendekati bayangan hitam itu. Menghiraukan darah yang bercecer di aspal.
Langkahnya berhenti di samping truk. Kakinya dilipat lalu berjongkok. Tangan kirinya menyentuh aspal sedang tangan kanannya memegang truk untuk perpeganganan. Kepalanya dibungkukkan untuk melihat ke arah bawah truk. Tubuhnya bergetar.
Manusia!
Ternyata itu bayangan manusia, masih ada korban yang tertinggal
"Tolong tolong," refleks Reina berteriak.
"Kenapa mbak?" Orang orang menoleh ke arah Reina. Lalu seorang polisi berlari tergopoh menghampirinya.
"Itu." Reina tidak mampu berkata, lidahnya terasa kaku, tangannya menunjuk ke arah korban.
Mata polisi itu mengikuti arah yang ditunjuk reina. Karena kesulitan melihat dalam posisi berdiri, akhirnya polisi itu mensejajarkan diri dengan Reina dan melihat dengan membungkukkan badannya.
"Disini ada korban lagi." Polisi itu berteriak, lantas datang bala bantuan untuk menyelamatkan korban
Perlahan beberapa polisi mendorong truk. Keadaan truk yang rusak menyebabkan polisi kesulitan untuk mendorongnya. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya polisi menyerah.
Satu diantara mereka menekan ponsel untuk menghubungi derek. Korban tidak bisa dievakuasi jika truk ini tidak pindah tempat terlebih dahulu.
Tidak berselang lama derek pun datang.
Reina masih berdiri mematung di dekat truk itu. Kakinya kaku, sendi sendi nya mendadak tidak bisa digerakkan. Beginilah reaksi tubuh yang ditimbulkan pasca Reina melihat kecelakaan.
"Siap?____ majukan kendaraan pelan," ucap salah seorang polisi berkomando memberi petunjuk kepada sopir derek.
"Stop!" Polisi membetulkan letak korban, ternyata kaki korban hampir terlindas ban belakang truk.
"Maju lagi." Jantung Reina berpacu cepat, matanya fokus pada korban itu.
Satu
Dua
Tiga
"Stop!" Truk berhasil menjauhi korban. Petugas kesehatan langsung mendatangi korban untuk memeriksa kondisi vitalnya.
Deg
Tubuh yang tergeletak itu, seperti milik seseorang. Reina cukup familiar dengannya.
Tap
Reina mendekati korban. Melihat sosok dibalik pakaian hitam gelap itu.
"Dewa." Reina bergumam, namun cukup untuk membuat petugas kesehatan dan polisi melihat kearahnya.
"Mbak kenal?" tanya salah seorang petugas kesehatan berbaju putih namun sudah dipenuhi darah itu.
Tubuh Reina jongkok diantara paramedis. Tangannya mengayun mengusap wajah Dewa.
"Ya saya kenal dia," jawab Reina
"Vitalnya melemah, kita bawa dia segera ke igd."
"Mbak ikut mobil ambulance." perintah polisi dan reina langsung mengangguk setuju.