Perpisahan dengan Rista menambah kekosongan baru dalam hidupku. Otak dan hatiku mulai gelisah lagi, ingin memberontak lagi, ingin kebebasan lagi. Hubunganku dengan Benny masih jalan di tempat. Mamerku makin tidak memedulikan aku. Aku merasa bagaikan burung nuri yang terpasung dalam sangkar emas. Kosong … hampa … rasa sesak seperti dalam kurungan sudah menjadi momok bagiku. Aku bangun setiap pagi, seperti robot, tanpa perasaan. Aku seolah terombang-ambing, antara kepentinganku, kepentingan suamiku, dan kepentingan keluarganya. Yang mana yang harus mengalah? Sudah berbulan-bulan aku selalu mengelak kalau Benny mau memberiku kepuasan dan Benny tidak berani menekanku. Hambar. Hari ini aku melakukan kegiatan seperti biasanya, aku menunggu suamiku pulang kantor di kamar. Aku sudah lama mala

