Perjodohan (1)

1473 Words
Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidupku. Pertama, hari ini adalah hari kelulusanku dari SMA. Kedua, hari ini adalah hari lamaranku. Hah? Iya. Aku lulus, dengan nilai terbaik nomor dua seangkatan. Aku seorang gadis, hampir sembilanbelas tahun, periang, pintar, humoris, dan selalu positive thinking! Positive thinking? Iya. Selalu berpandangan positif. Buktinya, biarpun aku hanya juara umum kedua, tapi aku selalu berpikir angka dua lebih banyak daripada angka satu. Aku lebih senang menyatakan bahwa gelas itu setengah penuh, daripada gelas itu setengah kosong. Aku pulang ke rumah siang ini dengan hati ringan, ditemani motor bebek merah tahun 80-anku tersayang.                 Ketika temanku bertanya kenapa aku masih mau naik motor kuno seperti itu, apa tidak malu? Aku jawab, sebuah benda semakin kuno, semakin berharga nilainya. Positive thinking. Gerbang sekolah yang selama tiga tahun selalu kulihat, semakin lama semakin mengecil… jauh… kemudian menghilang. Selamat tinggal sekolah tercinta …. jangan bertemu lagi. Di rumah, semua orang terlihat sibuk bersih-bersih. Adik cowokku membersihkan seluruh jendela dan barang-barang di ruang tamu. Adikku satu lagi yang cewek sibuk membersihkan foto-foto kami yang tergantung di dinding. Aku acak rambut adik cewekku sambil lalu, dan sebelum dia sempat menarik balas rambutku, aku sudah berlari ke arah Mama yang sedang di dapur, membuat beberapa kudapan. Dengan sigap aku bantu Mama menyelesaikan membuat kue suguhan untuk tamu. Nanti sore jam lima, calon besan akan datang ke rumah. Untuk melamarku. Bulan lalu seorang wanita setengah tua—dengan dandanan medok ala nyonya parlente—menemui Mama di rumah. Dia menjadi Mak Comblang alias MC untuk keluarga Johny Setiawan, seorang pengusaha garment skala menengah di kota ini. Setelah sepuluh menit berbasa-basi, MC itu— akhirnya…—mengatakan niatnya menjodohkan aku dengan anak laki-laki keluarga Johny Setiawan!                 Aku yang ikut duduk bersama Mama hanya mampu membelalakkan mata. Terkejut! “Maaf, Bu Dewi, memang anaknya Bapak Johny itu belum menikah?” tanya Mama ragu… tampak ada sekilas ingatan tentang keluarga kaya itu. “Iya, Bu Siswoyo, keluarga terpandang lhooo, anaknya cuma seorang, laki-laki, tampan lagi! Perjaka ting-ting! Pokoknya jangan khawatir, kehidupan anak Bu Sis akan terjamin! Lihat sendiri kan rumahnya mentereng, tingkat tiga! Mobil banyak, usaha mapan, ahli waris tunggal pula! Hmm kalau saya masih single mah, Buuu, udah saya embat duluan deh!” Kwak! Aku menelan ludah… busyet dah! MC mulai mempromosikan dagangannya— maksudnya anak laki-laki keluarga Setiawan itu. Mama tampak mengerutkan dahi, sedangkan aku masih membelalakkan mata tidak percaya. Di jaman yang – bisa download lagu gratis sampe budeg – masih ada perjodohan semacam ini! “Ini, ini fotonya saya bawa, Bu Sis. Namanya Benny, Benny Setiawan, tampan kan?” Mama mengambil foto yang disodorkan ibu itu dan menjulurkan kepadaku—speechless. Seorang cowok, badan lumayan proporsional, wajah mulus, senyumnya terlihat tulus, termasuk bernilai delapan lah. Jadi bernilai sembilan kalau mengingat dia adalah ahli waris tunggal keluarga kaya. “Berapa usia Benny sekarang, Bu Dewi?” tanya Mama lagi. MC terlihat membetulkan posisi duduknya, mengedepankan badan atasnya sedekat mungkin ke arah mama.  “33 tahun, Bu Sis...” bisiknya perlahan. Kyaaaaa!! Aku berteriak kaget, mengambil nafas panjang – hembuskan – tarik nafas panjang – hembuskan. 33 tahun?? Selisih empatbelas tahun dari aku? Oom-oom?? Aku mau dijodohkan dengan seorang Oom-Oom??? OOM-OOM??? Aku lihat lagi foto si Oom Benny itu. “Foto ini foto tahun berapa Tante?” tanyaku ke MC itu. “Hush! Nggak sopan tanya begitu!” sela mama. Aku nyengir dan diam mendadak.          Si MC menjawab, “Bulan lalu, foto ini foto Benny Setiawan bulan lalu” “Katanya orangnya bagus, kok nggak laku-laku?” tanyaku penasaran.  Plak! Mama memukul jidatku seketika. “Ahhh nggak apa-apa, Bu Sis, namanya anak muda, rasa ingin tahunya pasti besar,” si MC tersenyum disimpul-simpulin. “Benny ini terlalu serius mengikuti jejak papanya, mengelola usaha garment keluarga mereka. Jadinya dia lupa waktu. Orangtuanya menghubungi saya untuk mencarikan jodoh buat anaknya. Dan saya kan punya database anak perawan di kota ini, dari segi bibit-bebet-bobot, anak Bu Sis yang paling berkoalisi.” “Berkualitas kali, Tan….” Aku mengoreksi kata-kata dia. Plak! Tepukan Mama mendarat lagi di jidatku. MC terlihat cuek saja. “Begini, Bu Dewi, saya akan rundingkan dulu masalah ini dengan Liana anak saya ini. Dia kan masih sembilanbelas tahun, nanti saya telepon Bu Dewi ya….” Si MC tersenyum, agak lemas, karena dia mengharapkan jawaban positif saat itu juga. Karena menurut hitungan matematika dia, positif = uang. “Bu Sis jangan khawatir lho, Bu. Keluarga Setiawan itu sangat baik, keluarga baik-baik juga. Mereka sudah menyediakan satu rumah lagi untuk hadiah kepada besan,” MC mengeluarkan kartu As-nya. Aku membelalakkan mata. Pengen tanya sebesar apa hadiah rumah itu. Belum juga satu kata keluar dari mulut, Mama sudah mendelikkan matanya, melarang aku mengeluarkan suara. MC itu pulang setelah meninggalkan enam nomor telepon yang bisa dihubungi! Enam! Enam!! Kayak telemarketing. Mama menatapku, mengajakku duduk di sisinya. Tangannya merengkuh kepalaku dengan penuh kasih sayang. “Ma….” Aku memeluk badan kurus Mama. Sejak papa meninggal sepuluh tahun yang lalu, Mama menjadi single fighter bagi ketiga anaknya. Aku—Liana Siswoyo—anak tertua, adikku, Rudy masih kelas 1 SMA, dan Mega masih kelas 2 SMP. Mama insist agar aku menyelesaikan sekolah SMA-ku. Biarpun nantinya tidak bisa ke bangku kuliah, paling tidak aku bisa dapat pekerjaan yang lebih layak dan gaji yang lumayan besar. Aku tidak pernah membantah Mama, apa yang dicita-citakan Mama untuk anak-anaknya masuk akal dan Mama sudah mengucurkan keringat darah untuk membiayai sekolah ketiga anaknya selama ini. Wajah kuyu Mama dan kulit kering keriputnya membuat hatiku pedih. Mama tampak jauh lebih tua dari umur aslinya. Apakah ini jawaban doa-doaku setiap hari? Aku ingin meringankan beban Mama, melihat kedua adikku sekolah setinggi-tingginya, melihat mereka sukses, melihat mereka bertiga tertawa bahagia. “Ma… Liana sayang Mama, banget….” Kuciumi pipi Mama yang tipis. Setiap hari bangun tengah malam, membuat nasi uduk dan kue-kue untuk dijual di depan rumah kontrakan kami. Mulai dari subuh hingga tengah hari, sendirian, tanpa bantuan siapapun. Otakku mengatakan, mungkin ini adalah kesempatan mengangkat derajat keluarga. Bukan berniat untuk menguasai harta calon suamiku yang kaya, tetapi paling tidak aku memiliki akses untuk mendapatkan kesempatan yang lebih besar apabila aku mau berusaha sendiri.  Hatiku mengatakan, apakah aku akan mencintai oom-oom itu? Positive thinkin-ku mengatakan dari kutipan buku seseorang: witing tresno jalaran saka resleting menga, artinya cinta bermula karena resleting terbuka…. Hell! Setelah dua jam perdebatan, sepiring pisang goreng dan tiga gelas teh manis, Mama mengalah, membiarkanku untuk bertemu oom-oom itu satu kali.                 Setelah pertemuan itu, baru aku akan menentukan apakah aku mau dijodohkan atau tidak. Mama segera memberi kabar ke tante MC koalisi tadi. Deal! Tiga hari kemudian pertemuan itu diatur di rumahku.                 MC datang ke rumah lebih awal untuk menyaksikan hasil perjodohannya.                 Aku berusaha tenang. Tapi debar jantungku membuat tanganku berkeringat dingin. Beberapa kali Mama menepis tanganku yang mengenggam erat rok katunku yang terbaik, warna hijaunya mulai memudar. “’Jangan dilecekin gitu, Lia… kelihatan kusut! Bentar lagi tamunya datang.” Mama mengingatkan aku untuk kesekian kalinya. Mata Mama selalu mampir ke arah rambut hitam legamku yang terurai panjang sampai punggung, memastikannya masih rapi, meneliti wajah putih mulusku tidak terdapat noda, memastikan pulasan lipstik berwarna pink masih terpoles rata di bibirku yang tipis. Sepatu bertumit tidak begitu tinggi berwarna coklat tua mempelihatkan kakiku yang putih bersih. Suara mobil berhenti di luar rumah. Sebuah Alphard hitam berhenti dengan gagahnya. Mama bergegas membuka pintu pagar besi yang setengah reyot untuk mereka. Tampak si sopir mobil itu tergopoh-gopoh membuka pintu tengah mobil. Seorang bapak berusia 60-an memakai baju batik coklat turun. Bokapnya pasti. Berikutnya seorang ibu-ibu berusia – sebelas dua belas – turun. Nyokapnya pasti.                 Seorang cowok berusia duapuluh-an memakai kemeja putih lengan pendek dan celana denim biru muda turun. Siapa?? Aku celingak-celinguk menunggu oom-oom yang mau dijodohkan itu.               Wah, jangan-jangan dia batal kemari… pikirku bingung. Mama menyongsong mereka ke halaman. Aku menyusul di belakang Mama. Mama langsung berjabat tangan dan menarik lenganku untuk bersalaman. Cowok berdenim biru muda itu memperkenalkan dirinya, “Benny Setiawan…” dan senyum tulusnya keluar dari bibirnya yang kemerahan. Wangi tubuhnya mengingatkanku aroma green tea yang segar…. Oh my GOD! Aku menganga lebar dan baru menutup mulutku ketika Mama mencubit pahaku diam-diam. Orangnya lebih cakep daripada fotonya! Ketika kami berjabatan tangan, mata kami bertemu… dunia seakan berhenti berputar, lagu L-O-V-E-nya Nat King Cole terlantun merdu di otakku.              Baru aku mengerti yang dinamakan falling in love at the first sight! Benny terlihat jauh lebih muda dari usianya. Aku memberi dia senyuman paling indah, dan Benny yang tidak mau melepaskan tanganku juga tersenyum manis, sinar matanya penuh kelembutan. Mama menatap kami berdua dengan pandangan merestui. Calon mertua menatap kami berdua dengan senyuman. MC menatap kami berdua dengan mata bergambar tanda dollar. Pertemuan hari itu sukses! Kedua belah pihak, maksudnya aku dan Benny saling menyetujui perjodohan ini. Urusan tanggal pernikahan dan bla-bla-bla akan dibicarakan pada waktu acara lamaran. Ohh… Benny inikah belahan jiwa yang kucari selama ini?   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD