PART 15

1873 Words
Pukul sepuluh pagi kamar rawat inap Lifa sudah dipadati dengan kegaduhan dari sahabat-sahabatnya. Raga pun masih berada di dalam ruangan tersebut. Kumpulan sahabat-sahabat Lifa sedang asyik bermain kartu UNO dengan berbagai macam rules yang dijadikan kesepakatan diantara mereka. Sedangkan Raga masih terduduk di kursi yang berada di dekat ranjang pasien Lifa dengan fokus pada hand phone di tangannya..  "Ra,  kamu sama Raya mau ke kampus kapan?" tanya Lifa dengan agak mengeraskan suaranya. "Hah? ke kampus?" tanya Aura memastikan apa yang ditanyakan oleh Lifa karena suasana di sekitarnya sangat ramai dengan celotehan sahabat-sahabatnya.  "Iya, Ya ampun!" jawab Lifa dengan jengah.  "Cuma mau mastiin doang. Galak amat deh. Mentang-mentang nggak ikut main ye," ucap Aura dengan menggoda, "habis Jum'atan aja ya, Ray?" sembari mencolek Raya yang duduk di samping kanan Aura yang medapatkan jawaban satu jempol oleh Raya.   "Habis Jum'atan aja. Kenapa?" ucap Aura dengan menatap heran Lifa.  "Giliran lu, Ra!" tegur Dirga.  "Sabar lah!" sewot Aura dengan mengeluarkan salah satu kartu yang ada di tangannya. Lifa tidak menanggapi Aura lagi, "Mas Raga nggak mau pulang ke kosan dulu? udah mau jum'atan lho," ucap Lifa dengan menatap Raga yang masih fokus dengan hand phone nya. Ia berharap pertanyaanya dapat mengalihkan perhatian Raga dari bertukar pesannya yang entah ia lakukan dengan siapa hingga lelaki tersebut sangat serius dengan hand phone pintarnya itu.  "hmm? ya tinggal jum'atan aja kan?" tanya Raga dengan mengernyitkan dahinya dan meletakkan hand phone nya pada bagian kasur ranjang pasien Lifa yang kosong tepat di hadapannya.  "Maksudnya tuh Mas nggak mau ganti baju, mandi, atau ada kegiatan apa gitu?" ucap Lifa dengan gugup.  "Kamu ngusir aku?" tanya Raga dengan menatap tajam Lifa mencari kebenaran dari perkataan wanita di hadapannya saat ini kenapa tiba-tiba memintanya untuk pulang.  "Ng-gak gitu, Mas. Tapi emangnya Mas Raga nggak mau balik ke kosan dulu gitu persiapan buat sholat jum'at atau ada kerjaan apa gitu kek. Mumpung mereka ada di sini jadi bisa Mas tinggal sekarang," terang Lifa dengan panik.  "Jadi nggak papa kalau aku pulang sekarang?" tanya Raga.  "Ya nggak papa. Aku juga nggak ngelarang kalau Mas mau pulang dari tadi," jawab Lifa dengan menatap hand phone Raga yang layar LCD nya menyala karena adanya notifikasi pesan w******p baru. "Kamu kenapa sih? Perasaan tadi biasa aja," ucap Raga dengan menatap tajam Lifa.  "Nggak kenapa-kenapa aku mah. Kan tadi aku udah bilang kalau mau balik sekarang  aja. Mumpung temen-temenku baru ada di sini dan Mas Raga bisa ngelakuin aktivitas lain. Aku nggak mau cuma gara-gara aku Mas Raga malah jadi stuck di sini cuma buat nemenin aku yang sebenarnya nggak ditemenin pun juga nggak papa. I'm okay, Mas," ujar Lifa dengan menatap dalam mata Raga memberikan keyakinan pada lelaki tersebut bahwa tidak masalah jika dia pergi. Bahkan kehadirannya di sini pun juga cuma membantu ke kamar mandi atau mengambilkan barang saja. Lagian ia bukan sakit parah yang tidak bisa melakukan apapun. Lifa hanya mengalami retak pergelangan kaki dan lecet-lecet saja dia masih bisa berjalan dengan satu kaki walaupun agak susah juga. Tapi tidak segenting itu untuk harus ditunggu dua puluh empat jam.  "Mas pulang ya? Setelah jum'atan nggak papa ke sini lagi kalau nggak ada kegiatan lagi. Soalnya kalau mereka udah pada pergi ntar Mas malah nggak bisa pulang," pinta Lifa.  Bukannya mendapatkan balasan dari Raga, Tapi Raga malah berjalan ke arah sofa bed. Seketika perkumpulan pemain UNo langsung sunyi karena mereka berada di dekat sofa bed tersebut.  "Mau balik, Bro?" tanya Dirga saat melihat Raga sedang mengambil tasnya yang berada di sofa bed. "Iya, Ga. Ada urusan," jawab Raga dengan mengambil kemeja flanel kotak-kotaknya dan celana jeans berwarna abu-abu. Lalu ia berjalan ke arah kamar mandi untuk berganti pakaian.  Kelima manusia yang sedang bermain UNO langsung bertatap-tatapan. Memberi kode satu sama lain. Sedangkan Lifa memandangi Raga yang berjalan ke kamar mandi tanpa memandangnya padahal jelas-jelas lelaki tersebut melewatinya. Ia merasa tidak enak dan perasaan yang tak karuan. Apakah karena perkataannya tadi Raga jadi seperti itu. "Tapi apa yang salah darinya?" batin Lifa.  Raga akhirnya keluar dari kamar mandi dengan kaos yang dibalut kemeja flanel kotak-kotaknya plus celana jeans hitamnya. Di tangannya terdapat sarung yang tersampir yang tadinya ia pakai. Lalu ia kembali ke sofa bed. Ia mulai mengepaki kembali barang-barang yang sebelumnya ia bawa.  "Nggak nginep di sini lagi kah, Mas?" tanya Aura saat melihat Raga sedang memasukkan selimut dan sarung ke dalam tasnya.  "Tergangtung Lifa nanti maunya gimana. Kalau di suruh nginep aku balik ke sini," jawab Raga dengan datar, "kalian ada yang bisa nungguin Lifa terus untuk hari ini?"  "Kita bertiga, Mas. Nanti malam aku sama Dirga rencananya yang nginep," jawab Nida sembari menunjuk Dirga dan Finka.  "Oke. Kalau udah rame berarti aku nggak usah ke sini lagi," jawab Raga sembari menggendong tas ranselnya. Lalu ia bersiap-siap untuk pergi.  "Matrasnya nih, Bro. Belum lu bawa," kata Dirga sembari mengambil matras Raga yang tadinya mereka pakai untuk bermain UNO.  "Santai aja, Bro. Tinggal sini dulu. Pakai aja ntar malem," jawab Raga sembari menepuk pundak Dirga, "titip ya".  "Oke. Hati-hati. Thank you buat semalam udah nemenin mereka berdua," ucap Dirga sembari menjabat tangan Raga.  "Yoi!" jawab Raga lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar dan akhirnya menghilang dari kamar rawat inap Lifa.  Suasana mendadak menjadi sunyi. Mereka berlima benar-benar kebingungan dengan keadaan tersebut. Terlihat sekali diantara Lifa dan Raga seperti terjadi sesuatu karena Raga pergi dengan sangat terburu-buru. Padahal sebelumnya ia masih duduk santai di kursi yang berada di dekat ranjang Lifa. Tapi mereka berlima tidak ada yang ingin ikut campur dan akhirnya memilih kembali melanjutkan permainan UNO dengan mengajak Lifa ikut di dalamnya. Lifa sudah berpindah menjadi berada di atas sofa bed karena jarak ranjang pasien dengan wilayah sofa bed lumayan jauh jadi mereka memutuskan untuk membantu Lifa pindah pada sofa bed saja.  Tawa dan u*****n mulai terdengar kembali pada kamar rawat inap Lifa. Hingga akhirnya suara murottal al qur'an yang menjadi pertanda akan dilaksanakannya sholat jum'at membuat mereka menghentikan permainan UNO bar-bar tersebut. Dirga langsung bersiap-siap untuk ikut melaksanakan sholat jum'at di masjid rumah sakit.  "Kalian kalau mau cari makan siang dulu nggak papa lho, gais!" ucap Lifa dengan heboh.  "Gantian aja lah yuk! ntar dimakan di sini aja bareng-bareng. siapa yang mau ke kantin duluan nih?" tanya Finka.  "Kamu dulu aja dah. Kayaknya udah laper banget ya Bun," jawab Aura dengan tawanya.  "Iya nih. Yuk Nid! dua-dua gitu," ucap Finka dengan wajah memelasnya, "Mau titip something nggak, Lif?"  "Beliin siomay aja deh. Siomay sama tahu aja yak!" jawab Lifa dengan semangat.  "Kita berdua titip juga aja lah ya. Mager ke kantin aku," ucap Raya dan medapatkan persetujuan dari Finka, "Aku beliin mie ayam ya. Kamu apa, Ra?" "Aku mau gado-gado dong sama jus alpukat pakai susunya banyak ya, Kak Finka" ucap Aura dengan manja.  Finka dan Nida langsung menuju ke kantin untuk membeli menu makan siang yang mereka inginkan. Sedangkan Raya, Aura, dan Lifa asyik mengobrol tentang penelitian mereka. Dan akhirnya beralih ke Lifa yang curhat dengan kegundahan dalam hatinya.  "Bingung aku tuh sama dia. Dia tuh aneh. Kalau iya mbok ndang ngomong kalau nggak ya nggak usah ngasih perhatian kayak gini," omel Lifa mengenai Raga.  "Kamu udah baper deh kayaknya, Lif," ucap Raya dengan mengusap dagunya.  "Ya siapa yang nggak baper kalau digituin, Gaes!" protes Lifa dengan frustasi, "Dia marah nggak sih tadi, gaes?"  "Aku nggak tahu dia marah atau nggak sih. Soalnya Mas Raga tipikal orang yang ekspresinya inim jadi nggak kebaca," ucap Aura dengan menatap melas Lifa.  "Iya nggak ketebak banget tadi. Tapi kalau dari ceritamu sebelumnya menurutku dia kesel gitu kamu usir. Tapi nggak tahu juga deng. Siapa tahu emang ada agenda lain gitu. Dia kan termasuk anak yang sibuk kan ya?" ujar Raya dengan mengendikkan bahunya.  "Udah nggak usah overthinking sama orang yang nggak pasti gitu. Cowok masih banyak, Lif. Woles aja mah. Satu tumbang akan datang lagi kan biasanya. Cemen dah kalau cuma gegara kayak gini aja galau. Wuuuuuuu!" ucap Aura dengan memberikan jempol kebalik. Langsunglah tabokan pada lengannya ia dapatkan dari Lifa. Akhirnya mereka berenam menyantap makn siangnya masing-masing. Setelah itu Aura dan Raya melaksanakan sholat dhuhur dan langsung bergegas untuk ke kampus. Raya memboncengkan Aura. Mereka pikir berboncengan lebih ringkas dan hemat bensin. Sesampainya di kampus mereka langsung menuju Laboratorium untuk mensterilkan petridish yang tertunda kemarin. Sembari menunggu petridish disterilkan menggunakan autoklaf, Aura memainkan hand phone nya dan saat ia berselancar membuka i********: tiba-tiba terdapat notif pesan baru yang masuk dari Fasa. Mas Fasa: Dek, sekarang masih di Laboratorium kampus kah?  Me: Iya, Mas. Gimana?  Mas Fasa: Ini kebetulan aku tadi dapat izin dari gedung kuliah Fakultas Teknik untuk nge check ruangan buat pengajuan peminjaman tempat Dies Natalis besok, Dek. Kamu ada acara nggak setelah ini? Kalau nggak nanti aku jemput terus kita check bareng-bareng mana yang kira-kira cocok untuk lokasi rangkaian acara Dies Natalis besok. Me: Nggak ada kok, Mas. Mau jam berapa dan ketemuan dimana Mas?  Mas Fasa: Aku ngikut kamu aja. Ntar kalau kamu udah selesai urusan di Laboratorium nya kabarin aku ya. Nanti aku jemput Me: Nggak papa nih kalau nungguin aku, Mas? Eh aku bisa ke sana kok nanti bareng sama Raya, Mas.  Mas Fasa: Nggak papa. Ini aku juga mau balik ke kosan dulu kok. Ku jemput sekalian aja kan lewat, Dek.  Me: Oh gitu, Oke Mas. Makasih "Ray, habis ini aku mau check ruangan buat Dies Natalis dulu di Fakultas Teknik sama Mas Fasa. Kalau kamu mau balik rumah sakit duluan nggak papa ntar daripada nunggu kelamaan," ucap Aura.  "Yakin aku tinggal nggak papa? kalau nggak aku tunggu di kosan Aina aja kan deket tuh sama Fakultas Teknik," jawab Raya.  "Aku ngikut kamu aja sih. Ntar kabar-kabaran aja ya. Kalau ntar kamu di kosannya Aina aku samperin ke situ," ucap Aura dengan menunjukkan hand phone nya.  Setelah selesai dengan segala urusan petridish, Aura langsung mengirimkan pesan kepada Fasa bahwa ia telah selesai dengan urusannya. Lalu ia dan Raya memutuskan menunggu Fasa pada tempat duduk yang berada di dekat pos satpam.  "Cuma berduakah, Ra?" tanya Raya sembari melihat ke arah jalan.  "kayaknya gitu, Ray. Soalnya penanggung jawab gedungnya aku sedangkan Mas Fasa mau bantuin aku sekalian memastikan kalau semuanya clear. Biasalah ketua divisi," jawab Aura dengan menatap hand phone nya yang baru saja mendapatkan balasan dari Fasa dengan chat "oke" nya.  "Pantesan dia langsung turun tangan. Gedung emang yang paling krusial sih. Kalau ada masalah fatal ke semuanya," ujar Raya dengan mengangguk-anggukan kepalanya.  "Bener banget. Kamu udah chat Aina? dia ada di kosan nggak?" ucap Aura.  "Udah kok. Dia bilang 'sini aja'. Untungnya dia nggak lagi tidur," jawab Raya dengan menghela napasnya. Aina memang kalau sudah tidur mau digedor-gedor ataupun di telpon berulang kali tidak akan terbangun dari mimpinya. Yang bisa membuatnya bangun hanyalah cipratan air ataupun keinginan dari dirinya sendiri. Mereka berdua sudah sangat hapal dengan salah satu sahabatnya itu.  Lima belas menit kemudian Fasa sudah muncul di depan pos satpam. Aura langsung mendatangi lelaki tersebut dengan membawa helmnya. Sedangkan Raya langsung menuju kosan Aina.  "Sorry kalau lama. Tadi mandi dulu soalnya, hehe," ucap Fasa dengan cengiannya.  "Nggak papa kok, Mas. Aku naik ya," ucap Aura sembari membuka pijakan boncengan motor Fasa.  "Iya, Dek. Hati-hati. Bisakan?" jawab Fasa.  Aura sudah naik sempurna pada boncengan motor Vix*on Fasa yang lumayan tinggi tersebut. Kemudian Fasa melajukan motornya ke arah Fakultas Teknis yang tidak lain adalah fakultasnya sendiri.  TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD