PART 23

1112 Words
Perayaan Dies Natalis Universitas sudah tingal menghitung hari lagi untuk diselenggarakan yaitu tinggal dua hari lagi. Aura beserta rekan-rekan tim bidang perlengkapan sedang sibuk-sibuknya memeriksa segala perlengkapan yang mereka butuhkan. Dari mulai hal yang paling sederhana hingga yang paling complicated. Para lelaki sedang meninjau semua ruangan yang sudah diajukan untuk digunakan sebagai tempat rangkaian acara yang sudah direncanakan. Sedangkan para wanita sibuk mengambil keperluan yang sudah di pesan diantaranya seperti spanduk banner, bahan untuk dekorasi semua ruangan, perlatan yang dibutuhkan oleh berbagai tim bidang, dan lain-lain.  Hand phone Aura berbunyi karena terdapat panggilan telpon masuk saat ia sedang berada di tempat percetakan spanduk banner. Pada layar hand phone nya tertera nama Fasa. Tanpa babibu dia langsung mengangkat telpon tersebut. Ia meminta Lifa dan Ayu untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.  "Halo! Assala'mualaikum!" sapa Aura dengan cepat.  "Wa'alaikumsalam, Dek. Sekarang kamu ada dimana?" tanya Fasa dengan suara sekitar yang bising.  "Baru ambil spanduk Banner, Mas. Gimana? ada masalah kah?" tanya Aura dengan agak keras karena suaranya kalah dengan keramaian jalan raya depan tempat percetakan spanduk banner. "Tunggu situ ya aku jemput sekarang. Ada masalah di Fakultas Teknologi Pertanian dan Peternakan. Aku sampai sana mungkin sepuluh menit lagi," pinta Fasa dengan terengah-engah.  "Oh gitu. Oke aku tunggu, Mas. Hati-hati di jalannya. Nggak usah ngebut-ngebut ya. Kan cuma deket," ucap Aura yang mengetahui sepertinya Fasa sedang berlari.  Setelah salam penutup terucap diantara keduanya, Aura langsung memasukkan hand phone nya ke dalam kantong celananya. Lalu ia langsung memasuki tempat percetakan. Ia duduk di samping Lifa.  "Kenapa, Ra?" tanya Lifa dengan menatap Aura.  "Mas Fasa mau jemput aku ke sini. Katanya ada masalah soal ruangan di Fakultas kita. Untuk selanjutnya sementara kamu yang pegang adek-adek ya, Lif," ucap Aura dengan mantap.  "Etdah! Pak Burhan nih pasti," dengus Lifa.  "Biasa lah. Kalau sama orang luar pasang setealan mode galak. Aku salah juga sih pas masukkin surat nggak ngajak perwakilan dari kita," ujar Aura menghela napasnya.  Benar saja 10 menit kemudian Fasa sudah hadir di tempat percetakan. Ia mencari-cari keberadaan Aura. Tempat percetakan ini memang sangat ramai karena harganya terjangkau dan hasilnya bagus. Sedangkan yang terlihat terlebih dahulu di matanya adalah Difa yang membawa satu roll spanduk yang kemungkinan akan ia masukkan ke mobilnya.  "Lho... Kok Mas Fasa disini?" tanya Difa dengan kening berkerut saat ia berpapasan dengan Fasa di dekat pintu.  "Nyari Mbak Aura. Udah jadi semua kah spanduk bannernya?" jawab Fasa dengan membantu Difa dengan menggantikannya membawa roll spanduk tersebut.  "Mbak Ra di dalem baru nunggu spanduk banner yang lainnya sama Mbak Lifa dan Ayu, Mas," ucap Difa dengan menunjuk ke dalam ruang tunggu menggunakan dagunya.  "Oke. Aku bantuin bawa ini dulu ke mobilmu," ucap Fasa sembari mengangkat roll spanduk banner yang ia bawa.  Setelah selesai dengan urusan roll spanduk banner yang ia bawa, Fasa mengikuti Difa untuk menuju ruang tunggu menemui Aura. Terlihat Ayu yang menatap heran Fasa yang berjalan bersama Difa dari kursinya.  "Kok Mas Fasa disini?" tanya Ayu dengan menaikkan alisnya.  "Mau nyulik Mbak Aura dari kita," jawab Difa dengan cepat.  "Nggak nyulik ya. Tapi jemput Mbak Aura untuk dibawa pulang," ucap Fasa dengan cengirannya.  "Apaan sih, Mas? Udah ayok! Katanya tadi harus cepet-cepet," ucap Aura dengan mencubit lengan Fasa yang berdiri di hadapannya.  "Cepet-cepet ngapain nih, Mbak?" goda Ayu dengan tatapan jahilnya.  "Mau balik ke Fakultas Teknologi Pertanian dan Peternakan. Anak kecil nggak usah mikir aneh-aneh deh," ucap Aura dengan megacak rambut Ayu.  "Haha. Kapok kowe, Yu!" ejek Difa dengan senang.  "Kamu juga termasuk, Dif," ucap Aura dengan menunjuk Difa.  "Fix sih Mbak Aura setelah sama Mas Fasa jadi galak, nggak like aku tuh," ucap Difa dengan merengut.   Terdengar nama Lifa dipanggil oleh pegawai tempat percetakan. Akhirnya mereka berlima menuju tempat pengambilan barang pesanan. Terlihat ada banyak sekali roll spanduk banner dan tumpukan booklet. Mereka berlima dengan dibantu dengan pegawai laki-laki percetakan untuk membawa dan memasukkannya ke dalam mobil Difa. Setelah semuanya sudah dimasukkan ke dalam mobil akhirnya mereka memutuskan untuk ikut ke Fakultas Teknologi Pertanian dan Peternakan sekalian untuk sekalian mengantarkan tiga gulung spanduk banner yang akan di pasang di tiga ruangan pada fakultas tersebut. Setelah itu mereka membagikan gulungan spanduk banner yang lainnya ke fakultas-fakultas lainnya barulah setelahnya melanjutkan lagi kegiatan yang tertunda. Hal ini dikarenakan mobil Difa sudah sangat penuh dengan barang-barang tersebut jadi percuma saja jika mereka tetap jalan ke tempat lain tidak ada ruang lagi pada mobil Difa untuk menampung barang-barang yang ada selanjutnya.  "Tadi aku udah bilang kalau kemaren yang masukkin suratnya kamu. Tapi kata Bapaknya harus kamu yang ambil kuncinya," ucap Fasa yang sekarang sudah berboncengan dengan Fasa ke fakultasnya.  Aura tidak ikut dengan mobil Difa karena Fasa sudah menjemputnya dan bagiannya pada mobil Difa dimaksimalkan untuk menampung barang-barang dari tempat percetakan supaya tidak perlu jalan dua kali untuk mengambilnya lagi.  "Pak Burhan emang gitu, Mas. Suka iseng sama anak luar Fakultas," ucap Aura dengan terkekeh.  "Kok kamu nggak bilang sih pas pembagian tugas tadi? Sengaja ya biar Mas jemput kamu," ucap Fasa dengan menggoda Aura.  "Ya biar kalian para cowok merasakan perjuangan dulu, Haha" jawab Aura, "Ih pede banget kamu, Mas!"  "Lha habisnya udah tahu bakalan kayak gitu kok nggak bilang. Nggak papa lah pede, kan sama cewek sendiri," ucap Fasa dengan santai.  "Dasar mulut buaya!" ucap Aura dengan mendengus.  Hubungan Aura dan Fasa memang sudah tidak secanggung dulu. Aura juga sudah biasa dengan gombalan yang dilontarkan oleh Fasa kepadanya. Bahkan banyak yang mengira sekarang mereka pacaran. Tapi kenyataannya tidak ada kata pacaran diantara keduanya.  "Cuma sama kamu doang lho. Namanya juga usaha. Kamu masih nggak mau nih jadi pacarnya Mas?" ucap Fasa dengan menggoda.  "Hilih! Nggak mau aku sama tipe buaya gini," ucap Aura dengan mencubit pinggang Fasa, "Udah cepetan nyetirnya. Lambat banget sih. Ntar jadi ceng-cengan anak-anak". "Ntar kalau ngebut-ngebut terus kecelakaan malah berabe. Kamu sebegitunya banget mau sehidup semati sama aku?" gombal Fasa dengan geli. Dia senang sekali menggoda Aura. Perempuan yang sudah ia sukai sejak pertama kali bertemu itu ternyata bisa menjadi dekat dengannya saat ini. Tidak sia-sia pendekatan yang selama ini telah ia lakukan. Walaupun mereka belum pacaran sekarang tapi setidaknya hubungan mereka suda lebih baik dibandingkan sebelum-sebelumnya. Tinggal menunggu waktu saja hati Aura luluh.  "Mas!" pekik Aura dengan memukul punggung Fasa. Aura malu sekali mendengar perkataan Fasa. Lelaki di hadapannya ini memang sering menggodanya. Walaupun bisa disebut dengan tipe lelaki yang menyebalkan tapi entah mengapa Aura nyaman dengan Fasa.  "Apa sayang?" balas Fasa dengan lembut. Aura langsung mengeplak helm Fasa dan terdengar tawa dari Fasa yang senang sudah membuat Aura kesal. Mereka sudah sering seperti itu semenjak dekat.  "Nggak usah sayang-sayang deh. Kan belum resmi!" ucap Aura dengan galak.  "Galak banget sih bu ketua yang satu ini. Kan makin tambah sayang," balas Fasa dengan terkekeh. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD