“Errrgghhh... nyaman banget rasanya,” ungkap Molina yang masih dalam gulungan selimut.
Ia mengulum senyum terbayang kegilaan semalam, “William, apa kabarnya ya? dah bangun belum? Kepalanya sakit nggak ya? Aduh, si Frans kasih obat tidurnya berapa banyak tadi malam? Lupa nanyain lagi.”
Ttring...
Molina mencari keberadaan ponsel, berdering sedari tadi. Itu panggilan suara, entah siapa.
“Frans!” sebut Molina setelah menemukan benda pipih itu.
"Halo," ia menggulir layar agar terdengar suara.
“Gue ganggu kegiatan pagi loe ya, eh si doi masih disamping loe?”
"Gak usah nyindir, ada apa?" sungut Molina kecewa, doi-nya sudah dibawa pulang penjaganya.
"Romannya gak baik nih, gue percepat aja. Lunasi hutang loe, dua jam lagi sisa waktunya!” bahas Frans detail.
"Dih... uang aja cepet loe, hafal banget lagi! Bentar," cibir Molina.
Frans tertawa, ia memang butuh banyak uang untuk melunasi hutang dari keluarganya pada seorang rentenir di kampung. Semua dilakukan, yang penting komisi cepat cair.
“Tuh, cek rekening loe. Dah gue transfer sekalian bonus yang gue bilang!"
Frans melakukan pengecekan. Benar, screen mutasi muncul nama Molina. Uang telah berpindah sesuai perjanjian.
"Senang berbisnis dengan anda," puji Frans.
"Ehm.. berapa banyak obat tidur yang loe kasih kemarin, Frans?" tanya Molina.
“Berapa ya?.. Kayaknya belum sekilo, cuma beberapa gram aja. Seharusnya dia udah sadar. Coba loe telfon aja tuh bule?” saran Frans.
"Loe bener-bener ya Frans? Tega loe ya, kasih banyak-banyak?!"
Frans tertohok, "Eh... boss, kalau gak gue kasih banyak, loe gak akan bisa begituan semalam, paham?!"
***
William membuka mata. Betapa terkejutnya dia, mendapati diri yang hanya mengenakan boxer juga jubah mandi, 'Emerald hotel?' bacanya pada embos gold.
‘Kenapa aku? Kemana tuxedo ku? Tadi malam aku dan Molina mengunjungi klub, kenapa sekarang aku ada dalam kamar?’ bermunculan tanya dalam benak William.
Hadi mengetuk pintu.
Tanpa menunggu, ia masuk lalu duduk di sofa sebelah ranjang William. Satu kaki ia silangkan ke atas kakinya yang lain. Menarik nafas, lama.
“Syukurlah, tuan sudah bangun dari tidur yang cukup lama!” sindir Hadi, meneliti arloji.
William bingung, “Apa yang telah terjadi, Hadi?” ujarnya ingin kejelasan.
"Tuan tak ingat kejadian semalam?" selidik Hadi.
Benar saja, William langsung menggelengkan kepala.
“Tuan dijebak. Anda telah masuk perangkap Molina,” jelas Hadi.
“Apa maksudmu?” balasnya.
Hadi membuka tablet lipat yang dibawa. Tom dan tim berhasil mendapatkan semua rekaman cctv yang membuka kedok kejahatan Molina. William tertegun, ia tak mengerti, kenapa ia begitu lugu. Sekarang ia harus berurusan dengan perempuan psycho seperti Molina.
“Saya harus bagaimana sekarang?” gusar William sampai menjambak rambut sendiri.
“Bukti ini bisa kita lenyapkan tapi kita tidak tahu kartu apa yang ada di tangan wanita segila itu!” tukas Hadi.
“Saya tidak begituan dengannya Hadi. Kau harus percaya itu!” William makin pusing, dahinya mengerut.
“Maafkan saya tuan. Ini juga kelalaian saya dalam mengawal anda. Sulit tuk percaya karena bukti yang saya lihat sungguh nyata. Saya menemukan anda polos di kamar hotel. Dan perempuan itu ada disana, dekat anda!"
"Tuan saja bingung kan, kenapa tuxedo berubah jadi jubah mandi?!” rundung Hadi.
William, speechless.
“Walau anda tidak menginginkan hal itu tapi wanita itu menawarkan dirinya dengan sukarela. Mungkin saja anda telah...”
“STOP!” teriak William.
Suasana hening. Tegang.
“Sebaiknya anda membersihkan diri, jangan sampai waktu sarapan dengan Nicholas, anda lewatkan,” Hadi bangkit, melangkah dari kamar William.
***
“Kemarilah Hadi” suruh Rosaline.
Hadi mendekat, “Kau boleh keluar. Saya harus berbicara empat mata dengan nyonya,” pinta Hadi pada maid yang menemani Rosaline.
“Tolong kamu ceritakan semuanya Hadi," ujar Rosaline.
“Apa, Madam yakin?”
Rosaline mengangguk.
Hadi tak mampu menolak. Ia perlihatkan semua bukti kejadian. Rosaline menghela nafas agar tenang. Berita besar ini, sungguh tak baik bagi kesehatan jantungnya.
"What's your plan, Hadi?" selidiknya.
"Saya harus memastikan satu hal, Madam. Apakah Molina memegang kartu truf, yang bisa meruntuhkan kita? Tim belum menemukan, baru bukti kejahatan saja."
Pintu terketuk.
"Masuk," pinta Rosaline.
"Maaf nyonya, ada tamu di gerbang," lontar maid.
"Siapa?" sahut Hadi.
"Nona Molina Tiani."
***
Perkins family sedang sarapan bersama. Kedatangan Molina sudah diketahui, termasuk William. Rosaline meminta putranya agar tetap tenang. Hadi mencurahkan isi hati, menurutnya Molina sengaja cek ombak. Meriset situasi kondisi keluarga ini.
“Dad, are you getting sick?” tanya Nicholas dalam keadaan mulut yang berisi oatmeal.
William tersenyum, lalu menggelengkan kepala. Tidak mungkin ia sharing masalah hidup pada Nicholas. Sulit dicerna, juga tidak etis membahas hal beginian.
“Miss Sania pernah bilang pada ku, kalau bohong itu tidak baik. Hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Aku akan merawat daddy kalau daddy sakit. Kan aku sudah besar, aku kuat!” tangkas Nicholas.
“Tidak perlu Nich. Mommy bisa merawat daddy mu. Jadi kamu bisa pergi ke sekolah untuk belajar,” Molina datang tiba-tiba.
Nicholas menoleh padanya, “Mommy? Sorry aunty, tapi aunty siapa ya?” ia bertanya sopan.
Sebelum Molina menjawab.
William mengambil alih duluan, “Nich, apa sarapan kamu sudah habis? Sebaiknya kamu langsung pergi ke sekolah ya. Daddy nggak mau anak kesayangan daddy ini, terlambat!” William menggendong Nicholas, menjauhi ruang makan.
Molina ingin mengekori, sayang tangannya dicegat Hadi.
"Mau kemana?"
"Gak usah ikut campur, lepasin!" Molina meronta.
"Ikut sekarang," Hadi menyeret Molina ke ruang tengah.
Ternyata, sudah ada Rosaline duduk sambil menyeduh secangkir teh melati.
“Apa kabar Mrs.Rosaline?” sapa Molina.
“I’m good. Kamu apa kabar, Molina?” sahut Rosaline.
"Best ever," jujurnya.
Rosaline tersenyum geram, "Apa kamu menyukai musik klasik, Molina?" ia bertanya, mengulur waktu sampai William datang.
“I like it, sayang aku tidak tahu sedari dulu. Kalau anda pecinta musik tersebut," sahut Molina manis.
Mereka sedang mendengarkan lantunan musik klasik. Rosaline sengaja meminta maid memutar lagu tersebut. Ia ingin mengetes Molina, apa dia tahan mendengarnya.
"Mungkin ke depan aku bisa menemani anda, menonton konser musik klasik,” imbuh Molina, menyodorkan diri.
Rosaline terkekeh, "Thank you in advice!"
William datang, berjalan menggebu-gebu di hadapan Molina, “Apa yang telah terjadi, Molina?”
"Ada kejadian apa semalam?" sambungnya geram.
Molina tersenyum menang.
“Akhirnya kalian membahas juga pokok permasalahannya!” ia terkekeh lebar.
“Cepat jelaskan Molina!” bentak William.
“Oke, aku akan jelasin... semalam kita melakukannya berkali-kali, William. Kamu nggak ingat, ganas juga kamu di ranjang ya!" jelas Molina mengulum senyum.
“Bohong!” tekan William.
"No.. aku nggak bohong!" sahut Molina enteng.
Rosaline berdehem, "Kamu ada buktinya, Molina?"
"Tentu Mrs.Rosaline, tapi aku malu menunjukkannya pada anda. Bagaimana ya?" ulur Molina, main-main.
Hadi mencekat lengan kiri Molina, "Ada atau tidak? Kau mau diseret keluar?" geramnya.
"SAKIT!" histeris Molina.
Rosaline mengode agar jangan menggunakan kekerasan. Molina ini cerdik juga licik. Bergerak liar bagai belut dalam air.
Benar saja, Molina melempar beberapa foto yang dikeluarkan dari dalam tas ke meja bundar. Foto hasil karya Frans tadi malam.
William mengambilnya, Hadi pun memungut beberapa foto lalu melihatnya sebentar, kemudian memberikan pada Rosaline.
"Bukan cuma foto, ada vlog kita juga loh Will," Molina tersengal-sengal.
“Apa yang kau mau sebenarnya, Molina?”
“Jadikan aku istrimu, William Perkins!”