BAB 18

1056 Words

Luna             Aku masih membayangkan betapa ngerinya tinggal satu rumah dengan putri Bram. Meskipun sekarang, ya, tentu saja aku sudah serumah dengan Nayla Prasetyo. Dia selalu menatapku dengan mata menyipit. Dia ekonomis dalam berbasa-basi dan biasanya hanya berbicara seperlunya saja. Selama belum ada pembantu, Nayla membantuku mengurusi rumah. Terkadang saat pagi, aku melihatnya mencuci piring bekas semalam. Menyapu lantai dan membantuku memasak.             Sebelum Mom, Amanda, Rena dan Bram pulang ke Indonesia—di bandara, Mom menitipkan Nayla padaku seakan-akan Nayla adalah anaknya dan aku hanyalah saudara.             “Bantu Nayla beradaptasi dengan lingkungan di London, sayang.” Aku hanya mengangguk. Mom mencium kedua pipiku. Amanda menarik-narik ujung bajuku, dia menunjuk no

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD