HARI ini kompetisi yang seharusnya Nada ikuti dimulai.
Dari awal dia memang tak ada niatan untuk mengikutinya, tapi sekarang sepertinya dia menyesal.
Ketika sesuatu sudah berada di kedua pundaknya, dia harus bisa menyelesaikannya sampai akhir. Itu prinsipnya. Sama halnya dengan saat ini. Walaupun dia tak terlalu menyukai ide instruktur untuk mendaftarkan namanya, kompetisi itu sudah berada di pundaknya, yang mana seharusnya dia bisa bertanggungjawab.
Nada termenung di kamar mandi. Di sana cermin memantulkan dirinya yang tampak menyedihkan. Bukan hanya fisiknya yang terluka, tetapi pikirannya juga terganggu.
Dia masih tak percaya dirinya terkunci di sini. Apakah ini karma? Apakah seharusnya lebih baik jika masalah ini tak pernah ada? Apakah akan jadinya lebih baik jika saat itu ayahnya tak melindunginya? Dia memikirkan semua kemungkinan itu setiap malam.
Kalau dipikirkan sekali lagi, dia terlalu banyak menyalahkan keadaan. Kejadian ini juga tak akan terjadi jika Nada tak memulai kekacauan. Tak akan terjadi jika dia tak bermain andil dalam kasus Insi. Tak akan terjadi jika dia tak berhubungan dengannya.
Tidak juga.
Walaupun orang itu bukan Insi, dia tetap saja bisa terkena masalah. Semua tingkah lakunya yang tak berperikemanusiaanlah yang membuatnya terjebak dalam situasi ini.
Dia membasuh wajahnya sekali lagi. Bercermin sekali lagi. Mungkin akan ada yang berubah. Yah, selain penampilannya yang aneh saat memakai baju Hatra yang besar hingga menutupi sebagian pahanya dan warna biru serta beberapa jahitan di tubuhnya, dia terlihat sama. Dalam tatapan matanya masih terlihat menyebalkan.
Tiba-tiba asap menggempul memenuhi sebagian ruangan. Rasanya seperti déjà vu. Ini pernah terjadi.
Nada menyentuh kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Dia melihat wastafel dan beberapa bilik kamar mandi di depannya.
“Ah…!” Nada memekik. Dia merasa seperti kepala dan hidungnya mengeluarkan darah. Tubuhnya terempas ke dinding dan akhirnya ambruk ke lantai. Samar-samar dia mencium aroma darah dari sela-sela pintu.
“Ah…!” pekiknya lagi. Dia menggelengkan kepala dan lari sambil berteriak. “Kebakaran! Kebakaran…!”
Nada terjatuh saat tak sengaja menapakkan kakiknya yang terkilir terlalu keras ke lantai. Dia mengerang sambil mengusap-usap kakinya.
Kemudian Hatra muncul dan berjongkok di depannya. “Kenapa? Ada apa?”
“Kebakaran!” teriaknya lagi.
“Kebakaran apa, sih?” Hatra menengok rumahnya baik-baik saja. Kecuali meja dapur. Dia sedang memasak telur yang kini tak terdeteksi lagi bentuknya.
Nada akhirnya tersadar. Dia memejamkan mata saat denyut terakhir di kepalanya terasa. Kemudian menatap Hatra.
“Sori, kukira kebakaran tadi. Asapnya banyak banget.”
Hatra mendecih. “Itu gosong.”
“Kamu masak?” Nada langsung terbahak. Dia kemudian berdiri pelan-pelan sambil berpondasikan kepala Hatra. Dia masih tertawa.
“Aish!” Hatra menjauhkan kepalanya dan Nada kembali terjatuh. Dia kembali ke dapur dan mengangkat telurnya dari penggorengan.
Gadis itu kemudian duduk di meja dan mengamati tingkah laki-laki di depannya. Dari aromanya tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya. Perutnya geli, tetapi dia tahan untuk tidak tertawa. Hatra menaruh sesuatu yang hancur dan hitam di atas meja.
“Ini apa?” Nada mengerutkan dahi.
“Telur.”
“Masa?” Nada tak percaya. Dia kemudian melongok ke tempat sampah dan menemukan dua butir cangkang telur. “Astaga.”
Hatra mendengus di tempat duduknya. Dia juga tak selera memakannya. Untuk masalah memasak Hatra mengandalkan mini market di seberang rumahnya. Itu artinya dia harus bekerja ekstra. Kali ini, dia menemukan keuntungan dari tindakan ilegalnya. Nada bisa memasak.
Nada membuka kulkas, mengambil beberapa sayur-mayur dan dua butir telur. Dia memutuskan untuk mengambil alih pertarungan antara hidup dan mati.
“Bumbu nasi goreng ada?” Nada tak menemukannya di antara rak-rak dapur.
“Di kulkas paling bawah,” kata Hatra.
“Itu kan, tempat naruh sayur,” protes Nada. “Cowok emang payah, ya.”
Hatra mengabaikan perkataan Nada. Teh hangatnya dia biarkan mendingin di atas meja. Hatra sibuk mengamati pergerakan Nada, untuk mengan-tisipasi kekacauan kedua yang dibuatnya.
Namun, kali ini rumah tak ada lagi asap yang menggempul. Hanya aroma sedap di pagi hari. Nada memutar tubuhnya dan menaruh dua piring nasi goreng yang sudah jadi.
“Ini baru sarapan,” kata Nada sedikit sombong.
Hatra awalnya ragu, namun setelah merasakan satu suapan, dia terdiam. “Kamu berguna juga.”
“Pujian atau hinaan?”
“Yang pantes buat kamu itu hinaan,” katanya sarkas.
Nada memutar bola matanya.
Setelah menghabiskan sarapan, mereka berdua terdiam. Hatra sibuk mengguncangkan cangkir tehnya, sedangkan Nada termenung. Dalam satu meja, tak selamanya satu pikiran pula. Walaupun sepertinya terlihat tak ada apa-apa, hati mereka sebenarnya gundah. Ada suatu permasalahan yang mengganjal. Ekspresi mereka mengatakan begitu.
“Kenapa tadi panik?” tanya Hatra.
“Kapan?” Nada tak mengerti.
“Waktu ada asap.”
Nada ber-oh paham. “Cuma keinget insiden yang mengerikan, jadinya trauma,” katanya tanpa menatap lawan bicaranya.
Hatra tampaknya masih penasaran. “Insiden apa?”
“Bom. Asap. Di. Kamar. Mandi.” Dia sengaja menekankan kata per kata dengan maksud menying-gungnya.
Hatra tak menunjukkan wajah bersalah. Dia juga tak menerima sinyal maksud perkataan Nada. Dia justru tertawa sesaat. “Baguslah.”
“Tau apa yang lebih mengerikan daripada insiden bom asap?”
Hatra mengangkat sebelah alisnya.
“Membayangkan seharusnya aku ada di atas panggung sekarang, tapi nyatanya malah terkurung di sini sama cowok nggak jelas.” Nada membuang tatapan.
“Itu diarahin ke aku?” Hatra mulai tak suka.
Ya! “Oh, enggak.” Nada buru-buru tertawa. “Bukan buat siapa-siapa.”
“Baguslah. Setidaknya kamu ngerasain rasanya kecewa dan sakit hati.” Hatra berdiri dan menaruh piring kotornya ke tempat cucian. “Abis ini cuci piring.”
“Itu diarahin ke aku?” tanya Nada.
“Oh, enggak.” Hatra pura-pura tertawa, yang mana tampak menyeramkan. “Buat siapa aja yang ngerasa jadi tahanan.”
Sialan! Gadis itu mengumpat.
Hatra duduk di sofa dan menyalakan televisi. Melalui celah-celah mata, dia melihat Nada kesusahan berdiri dan berjalan ke tempat cucian piring hanya dengan satu kaki. Hatra tertawa dalam hati.
Rasain! Hidup nggak semudah yang kamu bayangin.
Tiba-tiba pintu rumah diketuk. Hatra terkejut dan mengintip dari jendela. Sialan, itu Leo!
Dia meloncat dari sofa dan berteriak di balik pintu. “Bentar! Masih pake handuk!”
“Oke!” balas Leo.
Hatra mematikan televisi dan buru-buru menda-tangi Nada yang masih sibuk mencuci piring. Dia mematikan kran membuat gadis itu protes.
“Cepet masuk kamar!” desisnya.
“Kenapa? Aku belum selesai.”
“Nggak usah banyak nanya!” Hatra menggeram.
Nada tak terima. “Mana bisa! Kalo tugas udah di pundak, harus tanggung jawab!” Dia berkata tegas dengan suaranya yang lantang, membuat Hatra semakin panik.
Ketukan pintu terdengar lebih keras. Leo berseru lagi. “Hatra! Buruan! Penting!”
Mendengar itu, Nada melotot. “Itu Leo, kan?” tanyanya. “LE—“
“Aish!” Hatra membekap mulut Nada. Gadis itu memberontak dan lari semampu kakinya ke arah pintu. “LEO!”
Hatra langsung menarik tubuh Nada dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya membekap mulutnya. Dia mengangkat gadis itu masuk ke kamar.
Nada memberontak lagi. Tanpa ragu dia menggigit tangan Hatra membuat laki-laki itu memekik. Dia menjatuhkan Nada ke atas kasur dan mengusap-usap tangan bekas gigitan.
Melihat celah untuk bergerak, Nada berusaha bangun dan kembali terhalangi kedua lengan Hatra. Leo di luar mengetuk pintu lagi, kali ini lebih keras. “HATRA!!! KEBELET PIPIS!”
Nada berteriak lagi. “LEO TO—“
Tiba-tiba bibirnya bersentuhan dengan bibir Hatra.
Nada terkejut dan langsung terdiam. Otaknya berhenti berpikir. Tubuhnya mendadak lumpuh. Kemudian Nada tak menemukan pergerakan laki-laki itu untuk segera menjauhkan bibirnya. Hatra mengumpat dalam hati. Dia tak punya pilihan lain selain mencium Nada.
Diam-diam, Hatra melirik seutas kain di samping tempat tidur. Dia meraihnya pelan-pelan dan melepaskan ciumannya. Belum sempat Nada merespons apa yang baru saja terjadi, Hatra menyumpal bibir gadis itu. Kedua tangannya pun diikat.
“Sori, terpaksa.” Setelah mengamankan gadis itu, dia mengunci pintu kamar.
Leo wajahnya sudah memerah. Begitu pintu rumah terbuka, dia berlari kesetanan ke kamar mandi.
Hatra meneguk salivanya dan menetralkan jantungnya. Beberapa menit kemudian, Leo keluar dan tampak ekspresi lega di wajahnya.
“Lama banget, sih!” seru Leo.
Hatra menggaruk tengkuknya. “Masih ngurusin cucian soalnya.”
Leo terdiam dan mengamati wajah Hatra. “Kamu demam atau emang wajahmu merah?”
Hatra refleks menyentuh pipinya. “Iya, demam.”
“Nggak panas, tuh.” Leo menyentuh dahi Hatra. “Ya udah langsung aja. Coach daftarin kamu ke kompetisi silat. Berhubung tadi kamu nggak dateng pertemuan, akhirnya Coach titip aku.”
“Dadakan banget,” kata Hatra.
“Kampus kita emang suka dadakan, tapi banyak juga tuh, yang menang,” balas Leo. “Besok latihan ekstra, ya. Dateng pagi.”
Hatra mengangguk. Berharap Leo cepat pergi tanpa bertanya apa-apa lagi. Saat Leo melangkah keluar rumah, dia tiba-tiba berhenti di ambang pintu. Menoleh ke dalam rumah sekali lagi seakan-akan ada yang mengganggunya.
“Kok aneh, ya?” Leo melangkah masuk lagi dan tak jadi keluar.
Hatra memejamkan mata dan mendesah. Dia membuntuti Leo menelusuri rumah.
“Apanya?”
Leo memutar badan menghadap Hatra. “Kamar mandi. Kok ada anunya anu?”
“Anu apa?” Hatra tak paham.
“Kamu pake krim cewek?”
Itu pasti punya Nada. Hatra buru-buru mengangguk. “Oh, itu ... iya lagi pengen coba pake.”
“Oh, pantes!” Leo tiba-tiba menyentuh kedua pipi Hatra. “Wajahmu bisa mulus banget, kayak kulit bayi.”
“Aish!” Hatra mengibaskan wajahnya. “Pergi sana!”
Leo terbahak. “Belum dapet kabar soal Nada?”
Mendengar nama Nada membuatnya teringat beberapa saat yang lalu. Ah, sial. Pipinya memanas. Dia hanya menggeleng.
“Ya udah, kalo ada kabar cepet kasih tau, ya. Kasian, dia harusnya hari ini kompetisi,” kata Leo menekan tombol kunci mobilnya. “Duluan, ya!”
Hatra mengangguk sekali dan langsung mengunci pintu rumah. Hatra berjalan pelan menuju kamar dan sejenak ragu apakah ia harus membuka pintu itu. Kemudian, ketika melihat Nada apa yang harus dikatakannya? Apa yang harus dilakukannya?
Sori, tadi nggak sengaja. Bukankah terlihat banyak alasan?
Sori, itu salahmu. Itu berengsek.
Sori, sengaja. Walaupun benar tapi yang benar saja.
Hatra mengacak-acak rambutnya. Terserahlah, batinnya berkata. Dia akhirnya membuka pintu dan langsung mengucapkan, “Sori.”
Melihat tak ada respons, Hatra menyalakan lampu. Nada memejamkan mata. Tubuhnya miring dan samar-samar terdengar napas yang begitu tenang.
Dia tertidur.