Sore hari Nisa memutuskan untuk menemui Daniel kerumah kontraknya , jarak tak jauh dari sekolah tempat Nisa mengajar, sepuluh menit naik angkot sudah sampai
Namun Nisa terkejut begitu sampai di rumah kontrakan Daniel ,rumah begitu sepi , Nisa melihat jam di tangannya, biasanya Daniel sudah pulang ,
Nisa meletakkan buah dan makanan yang dia bawa di atas meja , kemudian Nisa duduk di teras mencoba menghubungi Daniel , namun beberapa kali mencoba tetap gak aktif
Nisa merasa sedih gak seperti biasanya Daniel seperti ini , walaupun sedang bertengkar biasanya Daniel akan selalu menerima telpon dari dia walaupun dengan nada gak enak , hatinya begitu gelisah
Lama menunggu Nisa memutuskan untuk pulang ,dalam hatinya berbagai pertanyaan muncul apakah Daniel begitu marah
"Apakah dia masih marah, kenapa dia gak menjawab telpon dari aku ,pesan aku pun gak dia baca " berbagai pertanyaan muncul di kepala Nisa
Sementara itu di kantor Daniel hanya melihat hpnya yang berdering, dia gak berniat untuk mengangkatnya," kenapa gak di angkat,itu pasti dari Nisa kan "
Daniel berbalik kearah sumber suara, dia seperti mengenal suara tersebut, Daniel begitu terkejut melihat teman kuliahnya dulu
"Wina , kenapa kamu bisa berada di sini" Wina menghampiri Daniel yang seperti tak percaya
"Hay ,lama gak bertemu ya ,apa kamu bekerja di kantor ini " Wina duduk di hadapan Daniel
"Aku kerja di kantor ini ,jadi kamu pegawai baru yang masuk hari ini " gimana hubungan kamu dan Nisa
"Sudah jangan tanya soal itu "Daniel merasa malas "
"Kenapa masih kesel "
" Aku lagi malas bicara saja " Daniel mengapi dengan cuek
Wina kembali mendekati Daniel ,sudah sejak kuliah dia menyukai Daniel , namun sayang Daniel lebih menyukai Nisa
"Kalian berantem lagi ,aku heran kenapa dari dulu kalian sering banget berantem, nikah aja berantem di ranjang lebih seru "Wina berkata frontal
Daniel merasa terkejut mendengar ucapan dari Wina ,"aku mencoba melamar dia ,tapi "Daniel gak melanjutkan perkataannya
Terlihat jelas kalimat yang di ucapkan Daniel begitu terlihat kecewa
Wina berpikir ini saat dia mengambil hati Daniel, sudah sejak lama Wina menuggu saat ini
"Mungkin dia gak mencintai kamu Daniel " Wina berusaha memprovokasi Daniel
"Tapi jika benar dia mencintaimu, apa alasan dia menolak lamaran kamu , kecuali dia punya pria lain " ucap Wina membumbui
"Ups..... sorry? "
"Maksud kamu dia selingkuh di belakang aku ?" Daniel begitu kaget
"Aku gak bilang begitu, aku hanya menduga saja , kalian sudah lama berpacaran , kamu sudah mapan ,apa alasan dia menolak kamu , kecuali dia punya pria lain "Wina kembali meracuni pikiran Daniel
"Dia masih ingin pokus bekerja dan meraih cita-citanya "Daniel masih membela Nisa
Wina menghampiri Daniel dan memegang tangan Daniel
" Setelah menikah dia bisa melanjutkan impian dan cita-citanya , aku rasa alasan dia gak masuk akal, maaf Daniel seperti Nisa tak mencintaimu lagi "setelah mengatakan itu Wina pergi ke pantry
"Kena kau ,aku yakin setelah ini kamu akan jatuh ke pelukan aku , tinggal aku menabur garam di luka kamu Danie "Wina ngedumel dalam hatinya
Heru terdiam dia bersandar di kursi, membiarkan laptop tetap menyala, pikiran dia gak tau terbang kemana, penolakan dari Nisa begitu membekas di kepala Daniel
"Nisa punya pria lain ,tapi gak mungkin, kita berpacaran sudah tiga tahun lebih ,apa semuanya gak berarti"
"Apa aku coba telpon dia?"
Daniel mengambil hp, dia bermaksud akan menghubungi Nisa ,namun hpnya lowbat, Daniel begitu kesal ,dia kembali meletakkan hpnya kembali di atas meja
"Tapi aku gak boleh gegabah, Nisa gadis yang baik gak mungkin dia selingkuh di belakang aku " Daniel memejamkan matanya sambil bersandar di kursi, dia merasa butuh istirahat
Dari arah depan datang seorang wanita berpenampilan elegan, dia melihat Daniel sedang bersandar sambil memejamkan matanya, Felisa sebenarnya gak suka kepada pegawai yang ketahuan lalai bekerja, namu dia tau kalau Daniel baru pertama kerja
"Daniel permisi" Felisa memanggil Daniel
Dengan berat Daniel membuka mata, dia terkejut melihat Felisa ada di depan dia
"Bu Felisa ,maaf Bu saya gak sengaja ketiduran"Daniel begitu kaget dan berdiri,dia merasa malu baru hari pertama sudah buat masalah
"Tidak apa-apa Daniel ,kamu pasti banyak pikiran, tapi saya minta jangan bawa masalah pribadi kekantor"Felisa begitu tegas
"Baik Bu , sekali lagi saya minta maaf, saya gak akan mengulanginya lagi"Daniel menunduk
"Apakah berkas yang saya minta sudah selesai, besok kita berangkat ke Surabaya " Felisa meminta berkas-berkas yang dia butuhkan
"Sudah selesai Bu , nanti saya antar ke ruangan ibu "
Dari pantry Wina membawa dua gelas minum, dia ingin memberikan kepada Daniel ,Wina begitu terkejut melihat ada Felisa di meja kerja Daniel , dalam hatinya Wina bertanya apakah Felisa juga menyukai Daniel
"Hah ,Bu Felisa ,apa dia juga menyukai Daniel , kalau benar bisa gawat "Wina gak rela kalau Daniel menjadi milik Felisa
"Sepertinya ada masalah yang begitu berat, aku bisa melihat dari sorot matanya" Felisa melihat Daniel dengan seksama
"Ya sudah Daniel , kalau sudah selesai segera bawa ke ruangan saya, ingat besok kita berangkat" Felisa pergi menuju ruangan kerjanya
Wina kembali mendekati Daniel setelah Felisa pergi , Daniel menarik nafas panjang, dia merasa bersyukur karena gak mendapatkan masalah, dia tadi begitu capek menghadapi masalah dengan Nisa
Sementara itu Nisa pulang dengan perasaan yang sangat sedih ,dia gak bisa bertemu dengan Daniel , bahkan panggil telpon dari Nisa gak Daniel angkat, bahkan pesan tak di balas juga
"Apa mas Daniel begitu marah , sehingga dia gak membalas pesan dari aku, apakah dia gak bisa memaafkan aku "Nisa merasa sangat bersalah
Di tempat lain
Reno yang begitu puas melihat ekspresi wajah Nisa , Reno yakin kalau Nisa sudah ketakutan,
"Wah dari mana bos "
"Kantin yu ,gue laper "tanpa menjawab Reno mengajak Adit
"Tapi bos yang traktir ya "Adit nyegir kuda
"Kebiasaan banget Lo dit , kalau bukan sepupu gue udah gue usir dari sekolah"
Di kantin Reno tersenyum bahagia, dia membayangkan wajah Nisa yang terlihat takut , Reno merasa kalau dia sudah menang kali ini
"Bos ,Lo apain Bu Nisa ,gue liat wajahnya sampai pucat kaya gitu" Adit mengambil minuman di meja
"Gue , gak ada Hanya ngasih peringatan kecil ,gak ada yang bisa mengusik Reno di sekolah ini "
"Hebat ,keren bos " Adit mengacungkan kedua jempolnya
"Kita liat aja ,apa dia masih berani mengusik aku "
"Sudah bos ,gue rasa dia gak akan berani lagi
" Bagus itu yang gue mau , gue balik duluan ya "
"Lah Lo gak makan , ini baso gimana siapa yang mau makan " Adit bertanya
"Terserah Lo aja ,gue mau pulang "Reno pergi dengan perasaan bahagia
Sementara itu Nisa yang gak langsung pulang ,dia lebih memilih duduk di bangku taman menyendiri, Nisa memikirkan masalah yang dia alami hari ini dan dari kemarin, mulai dari bertengkar dengan Daniel sampai di buat pusing oleh Reno
Pikiran Nisa menerawang , dia masih kepikiran perkataan dari Daniel ,dia ingin menerima namun dia ingin membahagiakan orangtuanya, dia ingin membiayai kuliah adiknya,
Daniel mungkin bisa menerima keadaan keluarga Nisa , namun sepenuhnya bergantung pada suami Nisa rasa tak mungkin
Bukan pilihan tepat membebani Daniel dengan biaya sekolah adikku yang tak sedikit
"Maafkan aku mas ,aku mencintaimu
Tapi ingin melihat adikku sukses dan membahagiakan orang tua aku
BERSAMBUNG.......