“Ya aku memang ingin melihat Larasati. Aku ingin mengambil barang buktinya di ponselku,” jawab Bayu.
“Mereka ada di dalam sedang b******u ria dengan pria tambun,” ucap Icha.
“Ok. Pulanglah. Jangan kelayapan di jalan!” titah Bayu.
“Aku tidur di rumah Rani. Aku enggak pulang ke apartemen,” sahut Icha yang berlalu pergi.
Bayu dan March memutuskan untuk masuk ke dalam kafe dan melihat keberadaan Laras. Mereka mengambil sebuah tempat yang berada di dekat Larasati. Sebelum duduk Bayu menatap March dengan seksama.
“Apakah kamu yakin mengambil tempat di sini?” tanya Bayu.
“Yakinlah. Apakah kamu ragu dengan pekerjaan sebagai mata-mata?” tanya March.
Lalu March mengajak Bayu untuk mengambil beberapa foto. Bayu ingin membuktikan kalau Laras bukan orang yang pantas untuk mendampingi dirinya. Sedangkan March sudah mempunyai banyak bukti. March masih mendalami cara kerja keluarga Wiguna saat menjerat sang musuh.
Selesai mendapat barang bukti, Bayu mengajak March untuk kembali markas. Di dalam perjalanan Bayu masih belum percaya apa yang dilihatnya.
“Apa yang lu lakukan setelah ini?” tanya March ke Bayu.
“Lu kan sudah ngumpulin semua barang bukti. Begitu juga dengan gue. Gue akan tarik ulur sampai nemuin seseorang untuk dijadikan istri. Setelah gue resmi menyandang sebagai suami. Gue mau lu nyerahin barang bukti itu secara perlahan ke Pak Aryo. Jika Pak Aryo masih berkelit untuk tetap nikahin di ulat keket itu. Gue akan beberin semuanya,” jawab Bayu serius.
“Itu terserah kamu. Kita hanya mendukungmu. Kami juga enggak suka kalau Laras jadi kekasih bahkan istrimu. Kalau itu sampai terjadi semua akan berdampak pada semuanya,” kata March yang masih fokus pada kemudinya.
Keesokan harinya. Icha yang selesai bertemu dengan Bayu segera melaksanakan tugasnya. Bayu meminta rencana penjebakan Rani jangan sampai ketahuan. Bayu mengingatkan kalau tugas ini harus dijalankan dengan baik. Karena menyangkut orang banyak.
“Apakah kamu sudah bertemu Rendy?” tanya Bayu yang serius.
“Aku sudah bertemu dengannya tadi malam. Katanya dia ok... Ok... Ok... saja,” jawab Icha.
“Lakukanlah. Jangan sampai gagal. Kamu tahu taruhan ini menyangkut hidup orang banyak!” titah Bayu.
“Ok siap kak,” sahut Icha.
Setelah menemui Bayu di ruangan guru. Icha segera mencari Rani ke taman. Icha tahu kalau Rani suka duduk di taman sambil baca buku. Sepanjang perjalanan Icha mencari kata-kata yang tepat agar Rani tidak curiga sama sekali.
Sesampainya di taman. Icha mendekati Rani dan langsung memukulnya. Rani yang melihat Icha sangat terkejut dan hampir saja terjatuh.
“Kebiasaan banget sih. Sukanya mukul pundakku,” kesal Rani.
“Hey... Jika aku sudah tidak. Kemungkinan tidak ada lagi yang mukul kamu seperti ini,” ucap Icha sambil cengar-cengir.
“Ya enggak gitu kali. Orang lagi nyari inspirasi mau buat apa? Kamu kagetin. Jadinya buyar kan,” ujar Rani.
“Nanti aku bantuin nata lagi dech,” sahut Icha.
“Bukannya kamu masih sama pak Bayu?” tanya Rani.
“Sudah enggak,” jawab Icha yang menghempaskan bokongnya di sebelah Rani. “Ran... Bagaimana kalau kita taruhan?”
“Taruhan apa?” tanya Rani. “Kalau duit aku enggak mau.”
“Idih... Pake duit segala. Enggaklah Ran. Aku mau ngajakin kamu taruhan buat naklukin murid laki-laki yang terfamous di sekolah ini,” ajak Icha yang mulai meyakinkan Rani.
“Siapa dia? Kak Dicky kapten basket. Atau kak Seto murid terkaya di sekolah ini,” jawab Rani yang penasaran.
“Aku enggak mau itu. Aku mau kamu naklukin Rendy ketua OSIS yang wajahnya mirip Jerry Yan itu,” ucap Icha.
“Ah... Iya. Dia memang mirip salah satu anggota F4,” puji Rani. “Tapi kenapa harus dia?”
“Karena dia orang yang mempunyai banyak fans yang berjubel. Kamu harus naklukin Rendy dalam jangka waktu dua hari. Jika kamu gagal ginjal,” tambah Icha.
“Kalau aku gagal ginjal. Kamu maunya apa?” tanya Rani lagi.
“Kamu harus menuruti apa permintaanku,” jawab Icha.
“Tapi jangan berat-berat loh ya,” sahut Rani.
“Enggak bakalan berat. Masih ringan. Kamu tenang saja tidak akan rugi kok,” bisik Icha.
“Ok,” sahut Rani.
Tak lama bel sekolah berbunyi. Rani dan Icha langsung masuk ke kelas. Mereka akan segera melanjutkan pelajaran kimia. Sepanjang pelajaran Rani sedang bingung. Apa yang akan dilakukannya. Pasalnya Rani belum memiliki seorang kekasih dan belum tahu cara menembak seorang pria untuk dijadikan kekasihnya.
Tepat pukul 13.00 Rani masuk ke dalam kamar. Hari ini Rani sangat lelah sekali. Beberapa pelajaran sangat menguras otaknya. Rani terkejut sekali dengan pelajaran Biologi.
“Huaha... Besok ada pelajaran Biologi. Habislah aku,” sahut Rani dengan memejamkan mata.
Ceklek.
Pintu terbuka.
“Idihh... Mau ngerjain tugas malah tepar,” sindir Icha.
“Kapan datangnya?” tanya Rani yang memejamkan matanya.
“Barusan,” jawab Icha.
“Katanya tadi pulang ke apartemen. Kenapa kamu ada di sini?”
“Lagi malas ke sana. Tadi pas waktu pelajaran kimia Mama Wa. Katanya aku disuruh pulang nanti malam.”
“Ya udah pulang ke sana. Lagian juga kamu sudah tiga bulan enggak nampakin wajahmu dihadapan ortu kamu.”
“Jujur saja. Selama ada ulat keket itu masih di mansion. Aku malas pulang.”
“Memangnya masalah kamu belum selesai? Bukannya kakakmu sudah pulang?”
“Gimana mau selesai? Ulat keket itu selalu buat masalah. Kalau pun cepat ya sudah kemarin.”
“Terus kakakmu itu?”
“Kakak enggak bisa menjamin juga kali.”
“Masalah keluargamu kok ribet banget ya? Kenapa juga orang yang enggak suka atau enggak senang pake dijodohkan segala. Lagian ini bukan jaman Siti Nurhaliza.”
“Non... Bukan jaman Siti Nurhaliza. Tapi jaman Siti Badriah.”
“Enggak ada yang beres ya dengan otak kita.”
“Baru tahu kalau enggak ada yang beres dengan otak kita ya.”
“Maksudnya itu jaman Siti Nurbaya. Yang jaman perjodohan itu.”
“Yang kamu katakan benar. Jika kamu hidup dalam lingkungan pembisnis. Kamu harus kuat untuk menerima perjodohan dengan orang yang tidak kamu suka. Cinta enggak cinta itu masalah nanti. Soalnya pihak A dan B akan berlomba-lomba untuk memperbesar perusahaan mereka masing-masing. Jadi maklum sajalah.”
“Syukurlah aku tidak hidup di keluarga pembisnis. Hidupku dipenuhi oleh nasi goreng mercon.”
“Rasanya aku pengen nasi goreng mercon dengan telur setengah matang. Ditambah dengan pasrahan keju di atasnya. Ah... Rasanya lumer di mulut.”
“Apakah kamu ingin?”
“Ya aku ingin. Apakah bapak masih tidur?”
“Bapak mah jam segini masih pulas. Nanti sore aja.”
“Ketimbang kamu nungguin bapak. Lebih baik makan sayur asem sama ikan lele plus sambal terasi.”
“Yummy... Ayo dech kita makan.”
Rani terbangun dari tidurnya. Lalu memakai baju ganti. Sementara di markas Bayu semakin pusing dengan ulah Laras. Laras semakin menjadi dan tidak pernah melepaskan Bayu sedikitpun. Sebelum keluar dari kamar. Arga masuk dalam keadaan wajah pucat. Saham Asco yang berada di Balikpapan menurun drastis. Dan terjadinya korupsi secara besar-besaran.
“Tuan,” panggil Arga.
“Ada apa?” tanya Bayu.
“Saham Asco di kantor cabang Balikpapan melemah,” jawab Arga.
“Apa!!!” pekik Bayu.
“Iya Tuan. Jaringan sistem informasi dibobol oleh orang yang tidak dikenal.”
“Masalah baru lagi ternyata. Apakah tim hacker di sana tidak bisa melakukannya?”
“Tidak bisa tuan.”
“Siapkan jet. Hubungi Andi agar ikut bersamaku.”
“Baik tuan.”
Arga akhirnya pergi meninggalkan Bayu sendiri di kamar. Dengan baju seadanya Bayu tidak mengganti bajunya. Sedangkan Andi yang baru saja datang langsung mendapat laporan dari Arga.
“Tuan Andi,” panggil Arga.
“Ada apa?” tanya Andi.
“Anda di minta tolong oleh tuan Bayu untuk pergi ke Balikpapan,” jawab Arga.
Andi segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar Bayu. Bayu yang sedang mengemasi pakaiannya dalam koper mencium aroma Andi. Bayu menutup kopernya dan melihat Andi yang berdiri di depan pintu, “Untung kamu sudah pulang.”
“Ada apa kamu menyuruhku ke Balikpapan?” tanya Andi.
“Ada masalah dengan cabang Balikpapan. Saham Asco di Balikpapan turun secara drastis. Dan di sana banyak korupsi,” jawab Bayu.
“Terus kamu mengajakku?” tanya Andi yang serius.
“Ya aku memang mengajakmu ke sana. Aku ingin kamu ikut menyelidiki siapa saja yang terlibat?”
Andi hanya manggut-manggut saja. Andi menuruti kemauan Bayu. Lalu Andi pergi meninggalkan Bayu untuk mengemasi beberapa pakaiannya.
Beberapa saat kemudian. Suara jet yang mendarat tepat berada di depan markas. Bayu yang sedang duduk langsung menuju ke depan markas. Begitu juga dengan Andi.
“Aku sangka jet enggak bisa turun di sini?” tanya Bayu.