"Masa kamu enggak tahu siapa Joko," jawab Andi.
"Apakah kamu memakai jurus hiraishin no jutsu?" tanya Bayu yang curiga.
"Memangnya aku Minato apa?" kesal Joko dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
"Ya siapa tahu," jawab Bayu yang menebak asal.
"Aku sengaja memasukkan seorang maid di mansionmu untuk memasang CCTV tersembunyi dan juga alat pengintai. Jadi seluruh gerak-gerik keluargamu kami tahu semuanya," jawab Joko dengan bangga.
"Ternyata kamu lebih cerdik ketimbang aku," lirih Bayu secara pasrah.
"Aku punya ide. Ketimbang kamu nikahin ulat keket itu. Lebih baik kamu cari perempuan baik-baik," saran Andi ke Bayu.
"Buat apa?" tanya Bayu yang mengerutkan keningnya.
"Buat dinikahin secara diam-diam buat perisai kalau si ulat keket itu beraksi," imbuh Joko dengan datar.
"Terus kalau aku enggak suka?" tanya Bayu yang serius.
"Lebih baik kamu pulangkan saja ke rumah orang tuanya," jawab Andi.
"Oh... Jadi kalian menganut paham Fendy s****n itu?" geram Bayu dengan berteriak.
Mereka mengangguk tanda setuju. Kemudian otak Bayu berpikir secara keras. Kenapa juga enggak ngajakin Rani nikah? Wait kalau mengajak Rani menikah berarti Bayu akan mendapatkan masalah besar. Namun pikirannya langsung ditepis. Bayu harus melangkah dengan cepat sebelum ulat keket itu beraksi.
"Apakah di sekolah ada lowongan untukku?" tanya Bayu.
"Ada," jawab Andi dengan cepat.
"Lowongan apa?" tanya Bayu yang menyelidik.
"Menggantikan ibu Amel yang akan cuti melahirkan," jawab Andi.
Joko langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Andi. Melihat Joko tertawa terbahak-bahak perasaan Bayu mulai tidak enak.
"Mata pelajaran apa itu? Apakah Matematika? Atau Fisika? Atau juga Kimia?" tanya Bayu beruntun tanpa jeda.
"Biologi," jawab Andi dengan cepat.
Mendengar kata biologi Bayu menggelengkan kepalanya. Jujur saja Bayu sangat membenci pelajaran biologi, "Ada lagi?"
"Cuma itu saja," jawab Andi.
Tanpa pikir panjang Bayu langsung mengiyakan. Lalu Bayu segera pergi dari hadapan mereka. Melihat kepergian Bayu, mereka merasa curiga tentang keinginan Bayu.
"Ada udang di balik rempeyek," celetuk Joko.
"Maksudnya?" tanya Andi serius.
"Lihat saja nanti kamu tahu maksudnya si Bayu," jawab Joko.
Rani yang sedang berjalan-jalan di sekitar taman merasakan hatinya sedih. Akhir-akhir ini masalah di sekolah membuatnya stres. Tak lama kemudian datang Icha yang membawa kantong plastik berisi makanan.
"Kenapa kamu bengong?" tanya Icha duduk di depan Icha.
"Aku tidak tahu," jawab Rani.
"Apakah kamu sedang stres?" tanya Icha yang mengkhawatirkan Rani.
"Sangat," jawab Rani yang sendu. "Apakah kamu tahu kalau aku kemarin menabrak seorang pria yang sangat tampan sekali?" tanya Rani yang mengambil air mineral.
"Mana aku tahu," jawab Icha yang serius.
"Tapi sayang dia sangat ketus sekali orangnya. Aku ingin memukulnya saat itu juga," ungkap Rani yang kesal.
"Ciri-cirinya gimana?" tanya Icha yang penasaran.
"Ciri-cirinya adalah orangnya tinggi. Mempunyai rahang tegas, matanya sangat tajam sekali bagaikan elang. Hidungnya mancung, bibirnya tipis namun seksi," jawab Rani yang membayangkan sosok Bayu. "Namun sepertinya dia dingin bagaikan kulkas berjalan."
"Apakah kamu tidak menanyakan namanya?" tanya Rani yang penasaran.
"Ah... Aku lupa... lagian dia marah dan juga pakai bentak segala. Semoga saja pria itu tidak meminta pertanggungjawaban atas kejadian kemarin," jawab Rani yang penuh harap. "Kenapa kamu menyuruhku ke sini?"
"Temani aku untuk curhat yang enggak penting," jawab Icha.
"Aish... Kamu itu," Rani menggelengkan kepalanya melihat Icha.
Kemudian Rani dan Icha menghabiskan waktu untuk bersama. Di seberang sana ada seorang yang memakai baju serba hitam sedang memperhatikan mereka. Terutama pada Rani yang sedang serius mendengarkan cerita Icha.
"Ran, apakah aku harus pergi jauh ya dari sini?" tanya Icha.
Rani menggelengkan kepalanya lalu memegang tangan Icha, "Kamu kenapa sih Cha?"
"Pagi ini papa mendepakku," jawab Icha lemah.
"Apa!!!" teriak Rani.
"Itu benar. Gara-gara ulat keket itu aku didepak dari keluarga," jawab Icha.
"Setelah ini apa yang kamu lakukan?" tanya Rani yang mencari solusi.
"Rencananya aku ingin menghubungi Kak Fendy. Aku ingin tinggal di Helsinki," jawab Icha.
"Oh... kenapa masalah orang kaya rumit sekali?" tanya Rani yang belum paham tentang kehidupan orang kaya.
"Ya gitu deh. Terima kasih sudah mendengar celotehanku yang tidak berguna ini," jawab Icha.
"Eh...," ucapku. "Cha... Pulanglah... Kamu tahu kawasan sini tidak aman lagi. Aku takut kenapa-kenapa."
"Iya aku hari ini cukup lelah," ucap Icha.
"Mau aku antar?" tanya Rani.
"Tidak perlu. Kamu tahukan kalau apartemenku di sana," tunjuk Icha pada gedung pencakar langit yang berada di depan mereka.
Kemudian Icha perlahan meninggalkan Rani. Rani hanya menggelengkan kepalanya ketika Icha curhat abis-abisan tentang keluarganya itu. Saat ingin melangkah pergi Rani merasakan sesuatu. Mata Rani sedang mencari seseorang yang sedari tadi memperhatikannya.
"Hmmp... Saat aku berangkat dan mau pulang sepertinya ada yang mengikuti. Tapi siapa yang mengikutiku? Apakah para p*******a itu? Icha udah pulang duluan. Manalagi aku di sini sendirian," batin Rani yang gelisah.
Sedangkan Bayu yang baru saja sampai taman langsung membeli siomay Mang Udin. Bayu kesal mendapat pesan dari ulat keket itu. Entah dari mana ulat keket itu mendapat nomor yang baru dibelinya kemarin.
Dengan hati yang dongkol Bayu melemparkan ponsel iPhone 13 itu ke sembarang arah. Tanpa disadari oleh Bayu, ponsel itu mengenai kepala Rani yang sedang dihadapkan oleh orang yang tidak dikenalnya.
PLAAAAAK.
"Aduh!!!" Rani langsung memegang kepalanya yang terkena lemparan ponsel, "Aduh.... s**l banget ya hari ini!"
Sambil memegang kepalanya Rani pun menunduk. Rani merasakan kepalanya yang pusing. Tak sengaja mata indah Rani menemukan benda pipih tadi yang mengenai kepalanya itu. Meskipun apes tapi hari ini cukup beruntung. Rani segera mengambil ponsel itu dan memeriksanya kembali.
"Wow... Apel growak coy!!!" seru Rani dengan mata yang berbinar. "Bodoh sekali ya ada orang yang melempar ponsel mahal ini. Alhamdulillah rejeki anak soleh."
Akhirnya Rani memutuskan untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan hati berbunga-bunga. Baru seumur hidupnya Rani mendapatkan rejeki nomplok walau itu bukan uang segepok. Sedangkan Bayu sang pemilik ponsel itu tidak memperdulikan lagi. Bayu merasa bersyukur karena tidak ada lagi terror yang sedang melanda.
"Akhirnya aman juga. Hidup tanpa ponsel bagaikan hidup damai tanpa harus dikejar-kejar sama sang penagih hutang," batinnya yang bersorak gembira.
Bayu duduk di taman sambil memakan siomay. Tanpa disadari oleh Bayu ada tangan kekar melayang di pundaknya.
PLETAAAAAK.
Bayu melihat siapa yang memukul dirinya itu. Matanya membulat sempurna dan hampir saja kesedak siomay.
Uhukkk... Uhukkkk... Uhukkkk...
Irwan langsung menyodorkan air mineralnya ke arah Bayu. Bayu meraih botol itu dan menghabiskan hingga tandas. Selesai minum Bayu melihat Irwan yang sedang lesu.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Bayu dingin.
"Aku baru putus," jawab Irwan yang duduk di samping Bayu.
"Kenapa lu putus?" tanya Bayu yang tanpa basa-basi.
"Dia minta mobil Lamborghini," jawab Irwan yang murung.
"Beliin aja. Lu kan sekarang sudah megang Pradipta Groups International," jawab Bayu yang enteng.
"Lu kalo ngomong enak ya? Beliin orang yang belum jelas jadi pendamping hidup kelak," kesal Imam.
"Terus?" tanya Bayu yang bingung.