Ketika aku ingin mengucapkan kata maaf kenapa dia malah memilih pergi? Ataukah aku yang salah karena baru sadar saat dia sudah sangat lelah dan hendak beranjak dari sisi?
Lalu, rasa ini hendak kubawa pada siapa? Sedangkan, hanya dia satu-satunya pemilik hati.
Apa aku harus mengemis, demi dapat menebus kesalahan yang sangat fatal? Luka yang tergores terlalu dalam, bagaimana jika aku tidak mampu lagi menyembuhkannya?
Bagaimana jika ada sosok lain yang menawarkan obat untuk hati yang baru saja kukoyak dengan brutal?
Bagaimana?
****
Bismillah.
"Sayang!" panggilku beriringan dengan pintu yang mulai terbuka.
Luna menoleh dengan beberapa pakaian miliknya yang berada di tangan, dan ada sebagian yang sudah berpindah ke dalam koper yang masih terbuka yang terletak di atas ranjang.
"Aku tidak bermaksud mengaggu waktu Mas. Tapi, orangtuaku sedang dalam perjalanan kemari. Rasanya tidak etis jika mereka menjemputku saat tuan rumah tidak ada."
Hatiku mencolos.
Ada apa ini?
Mengapa pemandangan yang kini terpampang sangat berbanding terbalik dengan apa yang sempat kukhayalkan dalam perjalanan pulang.
"Sayang, kenapa kamu memasukkan semua pakaian kamu dalam koper?! Dan kenapa mama sama papa jemput kamu? Kenapa, Sayang?!"
Aku menghampiri Luna dengan tergesa dan menariknya dalam pelukan. Tidak peduli meski dia terus memberontak, tidak peduli meski tangannya terus memukul dadaku.
Aku tidak peduli itu semua, aku hanya ingin Luna.
"Lepas!"
Luna menggertak dengan volume suara yang tinggi, namun terdengar bergetar.
Aku tidak sebodoh itu untuk menuruti kemauannya, dengan bukti kedua tangan ini malah merengkuhnya semakin erat. Mengecup pucuk kepalanya lama, hingga kepalaku yang berakhir di bahunya.
Kucium setiap inci leher istriku tanpa terlewat. Kuhirup dalam aroma tubuhnya yang membuatku candu selama ini.
Aku juga tidak peduli jika Luna marah karena air mataku yang tertinggal di sana. Luna milikku, aku tidak mau kehilangannya.
Pergerakan tangan Luna kini mulai terasa pelan dan kemudian hilang. Hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak jauh berbeda denganku ketika tangan mungilnya tak lagi berada di d**a untuk menyerang.
Aku tidak menyangka, istriku sudah melangkah sejauh ini. Karena kesalahan yang tak kunjung kusadari.
"Sayang, tolong jangan seperti ini. Kamu mau ke mana, rumah kamu itu di sini."
Aku memohon dengan lirih bersamaan dengan air mata yang terus-menerus keluar.
"Lepas Mas! Ini engap."
Aku tersadar saat istriku meringis, dan akhirnya melepas pelukan karena tidak tega. Luna tampak beberapa kali menghirup udara.
Saat tanganku ingin merapikan helain rambutnya yang tampak berantakan, Luna menepis.
Wanita ini menatapku sebentar, lalu membungkuk mengambil beberapa helai baju yang tadi terjatuh ke lantai.
Aku menahan tangannya saat hendak memasukkan baju-bajunya kembali dalam koper itu.
"Sayang, udah! Baju itu tempatnya di lemari, bukan di sini, Sayang!"
"Saat orang akan pergi tidak membawa lemari, melainkan koper. Minggirlah! Aku harus sudah siap saat mama sama papa tiba," ujarnya sambil terus berusaha melepas tangannya dalam genggamanku.
Tanpa berpikir panjang, aku menyingkirkan koper itu ke ujung ranjang agar tidak bisa dijangkau dan memilih duduk di hadapannya.
Aku tidak peduli dengan Luna yang menatapku kesal karena tak kunjung melepas kedua tangannya.
"Maafin Mas, Lun! Kamu boleh membenci Mas dan menghukum Mas sesuka hati. Tapi, tolong jangan pergi! Tolong tetap di sini!"
"Mas memang salah, Sayang. Ayo pukul Mas sekarang! Tapi, tolong jangan tinggalin Mas di sini. Mas sangat membutuhkanmu ...."
Aku terus memohon dengan linangan air mata, berharap Luna merasa iba. Tapi, istriku malah membuang mukanya ke arah lain. Dia bahkan tidak mau menatapku.
Ternyata aku semenjijikkan itu.
"Sayang tolong jangan diam seperti ini! Jawab Mas, Sayang! Kamu mau 'kan memaafkan kesalahan Mas dan memulai semuanya dari awal. Mas janji akan menyuruh Tiara untuk pulang. Mas janji untuk tidak egois lagi dan mengabaikan kamu. Mas sangat mencintai kamu luna, kamu tahu itu 'kan?"
Istriku tampak menghela nafas kasar beberapa saat, lalu menatap ke arahku yang masih terduduk di atas ranjang tepat di hadapannya.
"Maaf Mas! Kesabaranku sudah sampai pada titik puncak. Aku tidak sanggup lagi untuk terus berlarut dalam rasa sakit yang Mas torehkan setiap hari. Aku hanya mampu bertahan sampai kemarin Mas, untuk hari ini aku menyerah. Aku tidak bisa hidup bersama laki-laki yang tidak menghargaiku sama sekali."
Perkataan Luna membuat air mataku semakin deras. Setiap kalimat yang terlontar dari bibirnya menancap tepat di ulu hati. Betapa aku tidak sadar, jika selama ini sudah menyakitinya terlalu lama.
Sungguh aku telah menjadi suami yang paling buruk dan kejam untuknya.
"Maaf Luna, maaf!" lirihku tergugu. Cuma itu yang mampu kuucapkan saat ini. Walaupun terdengar sangat basi. Tapi, apalagi yang bisa diucapkan oleh seorang pendosa.
"Simpan saja kata-kata maafmu seperti kemarin-kemarin, Mas. Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Bukankah selama ini aku yang selalu disalahkan dan dituntut untuk meminta maaf padamu juga Tiara. Bukankah aku yang selama ini kamu bilang egois dan kekanakan karena tidak bisa mengerti posisimu.
Aku bahkan sering kamu tuntut untuk mengakui kesalahan yang tidak aku lakukan pada sahabatmu, Mas. Saat aku melakukan hal yang tidak kamu sukai, Mas selalu memojokkanku dengan dalih hukum agama. Sedangkan, untuk kesalahanmu sendiri, Mas selalu menutup mata," ujarnya sembari beberapa kali mengusap air mata lalu, menekan dadanya.
Perih.
Benar-benar perih aku melihat keadaan wanita yang begitu kucintai.
Sialnya, akulah sumber penyakit bagi hati dan mentalnya. Akulah sebab bekunya Luna seperti balok es.
Aku kembali membawa jari-jemari mungil Luna dalam genggaman, agar berhenti memukul dadanya yang mungkin sesak membayangkan kelakuanku.
Aku yang lebih pantas mendapat pukulan itu.
Apa yang Luna rasakan selama ini, jauh lebih sakit ketimbang rasa cemburuku melihatnya bersama laki-laki lain tadi pagi.
Aku kembali teringat beberapa kali sempat menegur Luna bahkan sampai memarahinya karena berlaku tidak sopan pada Tiara di belakangku.
"Dipt, kenapa sih istri kamu selalu jutek sama aku kalau kamu nggak ada. Bahkan sering nyindir-nyindir aku sama Mbok Asih. Aku salah apa sih, Dipt sampai Luna membenciku."
Setiap kali Tiara mengadu, aku langsung menemui Luna untuk menegurnya tanpa mau mendengar penjelasannya. Tanpa bertanya dari sudut pandangnya.
"Sayang kamu kenapa sih selalu jahat sama Tiara. Tiara itu tamu di sini, sudah sepatutnya kamu menghormatinya. Kalau bukan karena Tiara kita nggak bisa seperti sekarang. Tolong ngertiin Mas dan jangan buat Mas malu, sekali saja!"
"Tapi, Mas aku ...."
"Jangan berkilah Luna. Sudah berkali-kali kamu seperti itu, membuat Tiara nggak nyaman tinggal di sini. Mas nggak suka lihat kamu seperti ini. Mas mau kamu minta maaf sama Tiara!.
Aku bahkan tidak pernah memberinya kesempatan untuk berbicara yang perlahan- lahan membuatnya berubah menjadi lebih pendiam.
Dan sialnya, aku malah menganggap itu hormon kehamilan dan tidak terlalu mempermasalahkannya.
Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, dengan perasaan Tiara hingga lupa dengan perasaan istriku sendiri. Sungguh, tidak ada definisi laki-laki paling bodoh selain aku.
"Sayang ...."
Luna menarik tangannya dari genggamanku dengan cepat dan menyilangkannya di d**a.
"Sekarang aku sedang mencoba mengerti posisimu, dengan cara keluar dari rumah ini, agar Tiara bisa tinggal dengan nyaman dan kalian lebih leluasa. Walau bagaimanapun dia lebih berhak atas ini semua, termasuk atas kamu.
Andai aku tahu akan berakhir seperti ini, aku bersumpah tidak akan pernah mau menerima laki-laki sepertimu. Sungguh aku sangat menyesali ini semua, apa kamu tahu, Mas. Aku menyesal kenal dan menikah dengan kamu!"
Hatiku teriris mendengar Luna mengatakan hal itu untuk kedua kali. Sungguh, aku tidak mau kehilangan Luna, aku akan melakukan apapun agar dia tidak pergi.
"Sayang tolong jangan bilang seperti itu! Mas sangat mencintai kamu, Sayang. Mas janji akan berubah demi rumah tangga kita, Mas janji tidak akan berteman dengan wanita manapun. Mas tidak akan mengulanginya lagi. Maaf Mas telah sangat menyakitimu selama ini."
Aku terus memohon dengan memeluk kedua lututnya walaupun dicoba lepas oleh Luna. Aku tidak peduli dengan harga diri, aku hanya ingin Luna tidak pergi. Sungguh aku menyesal telah mengabaikan istriku.
Ya Tuhan, luluhkan hatinya agar sudi memberiku kesempatan sekali lagi.
"Mas mohon, Sayang. Mas nggak bisa hidup tanpa kamu."
Aku terus bertahan pada posisiku yang seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal ibunya. Meski Luna terus memberontak aku tidak mau melepaskan pelukanku pada kedua lututnya dan menyembunyikan wajahku di sana, hingga aku terbuai untuk beberapa saat.
Tubuh istriku adalah yang paling nyaman untuk membuatku lebih tenang.
Terus kalau dia pergi, pada siapa lagi aku akan bersandar. Hanya padanya aku menemukan kebahagiaan, hanya bersamaanya kata cinta akan terucap. Hanya tatapan matanya yang bisa menyakinkan, hanya tutur kata lembutnya yang mampu meneduhkan.
Semua yang aku butuhkan hanya Luna yang memilikinya. Yang telah kusia-siakan sendiri karena dibutakan oleh rasa terimakasih dan balas budi yang tidak wajar.
"Tidak Mas. Aku tidak bisa, aku bukan wanita mulia yang bisa memaafkan dan melupakan dengan mudah atas apa yang terjadi. Keputusanku sudah bulat, biar aku yang pergi dan lanjutkan hidupmu dengan Tiara. Kalian cocok, sama-sama saling membutuhkan. Aku tidak bisa bertahan lebih lama, sudah cukup anakku saja yang kehilangan nyawanya."
Aku mendongak, menatap Luna yang juga tengah menatap entah ke arahku. Ada kilatan amarah dalam kedua matanya. Saat membahas kepergian anak kami istriku tampak begitu murka.
Apa Luna menyalahkanku atas kejadian itu. Ya, aku memang patut disalahkan, Luna pantas melakukan itu.
Tapi, bagaimana bisa dia menyuruhku untuk hidup dengan Tiara. Sedang wanita yang aku cintai hanya yang sedang berdiri di sini, di hadapanku.
"Mas tidak akan berhubungan lagi dengan Tiara. Mas tidak akan berteman dengan wanita manapun mulai sekarang. Jadi, kamu jangan pergi ya, Sayang."
Aku melepas pelukan dari kaki istriku dan menyenderkan diri di kaki ranjang sambil terus mendongak, menanti persetujuannya. Menanti maaf dan kesempatan yang sangat mustahil kudapatkan. Melihat bagaimana cara Luna melihatku.
Tapi, aku tidak boleh menyerah, aku akan berjuang semaksimal mungkin untuk mendapat Luna kembali. Aku tidak peduli, sudah cukup aku bodoh sekali. Aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama kali ini.
Istriku itu wanita yang lembut, tidakkah dia merasa iba pada laki-laki bodoh yang kini terduduk putus asa berharap keajaiban.
Tidakkah Luna membutuhkan cintaku lagi untuk menemani siang malamnya.
Aku ingin mengucap kata rindu yang telah lama terlupakan. Aku ingin kembali memberi rasa damai pada setiap kekhawatirannya.
Aku ingin kembali meraih hatinya yang sudah lama beku. Sungguh, aku ingin menua bersamanya.
Harap-harap cemas aku menanti Luna bersuara, terus menatapnya dengan air mata mengucur deras.
Aku masih bisa melihat dengan jelas, masih ada cinta dalam sepasang mata itu. Meski rasa benci tampak lebih mendominasi.
Lama kami terjebak dalam hening, hingga deru mobil dari luar membuat kami tersadar.
Deg.
Jadi, orangtua Luna benar-benar kemari menjemput istriku?
"Maaf, Mas! Aku tidak bisa. Ayo, kita hidup masing-masing!"
Aku bangkit berdiri dengan cepat memeluk Luna yang kembali memasukkan baju dalam koper dari belakang.
"Tidak Sayang. Jangan katakan itu dan jangan pergi. Mas tidak mau berpisah dari kamu."
Istriku terus memberontak, tapi aku memilih bersikap egois kali ini. Luna milikku.
"Lepasin, Mas!"
"Nggak, kamu nggak boleh pergi! Nggak ada yang bisa memisahkan kamu dariku," ujarku semakin erat memeluknya.
Tok tok.
Aku terlonjak saat ada yang mengetuk pintu kamar dari luar.
Bagaimana kalau benar-benar ada yang mengambil istriku?
*****
Bersambung ....