bab 6

930 Words
​Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala barat, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang berangsur-angsur berubah menjadi gelap pekat. Suasana Desa Xingxi yang tadinya ramai oleh aktivitas para pedagang kini mulai sepi. Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di setiap teras rumah kayu, memancarkan cahaya kuning temaram yang berpadu dengan hembusan angin malam pegunungan yang semakin menusuk tulang. ​Namun, di tengah keheningan malam itu, Chen Long sama sekali tidak berniat untuk tidur. Berbekal informasi berharga yang ia dapatkan dari warung teh dan pengakuan sang perwira musuh sebelumnya, ia menyusun langkah strategis. Jarak antara Desa Xingxi dan markas besar komando perbatasan Kerajaan Tang Ling sebenarnya hanya terpaut sekitar setengah hari perjalanan jika ditempuh dengan berjalan kaki secara sembunyi-sembunyi melalui jalur hutan tersembunyi. ​Mengenakan jubah abu-abunya yang menyatu dengan kegelapan malam, Chen Long melangkah keluar dari gubuknya. Tangannya menggenggam erat tongkat kayu biasa, sementara langkah kakinya begitu ringan tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas tanah berumput. Naluri tempurnya yang telah terasah selama puluhan tahun di medan perang membuat keberadaannya seolah tak terlihat oleh alam maupun makhluk hidup di sekitarnya. ​Setelah menembus lebatnya hutan bambu dan mendaki bukit terjal selama beberapa jam, Chen Long akhirnya tiba di dataran tinggi yang menjadi lokasi berdirinya perkemahan utama pasukan Kerajaan Tang Ling. ​Dari balik semak belukar yang lebat di atas bukit batu, Chen Long menatap ke arah bawah. Pemandangan di hadapannya membentang luas. Ratusan tenda militer berdiri megah dengan api unggun besar yang menyala di setiap sudut untuk menghalau dingin dan menjaga keamanan. Garis pertahanan itu terlihat kokoh dari luar, dikelilingi oleh pagar kayu runcing dan parit-parit pertahanan. Namun, bagi mata jeli seorang mantan jenderal besar seperti Chen Long, benteng megah itu ibarat sebuah bangunan yang berdiri di atas fondasi pasir rapuh. ​Ia melihat patroli prajurit yang berjalan mondar-mandir. Pola penjagaan mereka sangat longgar di sektor barat daya—sebuah kelalaian fatal yang tidak mungkin dilakukan oleh pasukan profesional kecuali ada unsur kesengajaan dari pihak komandan yang memimpin pos tersebut. ​Chen Long memanfaatkan kelengahan itu. Dengan gerakan secepat kilat dan tanpa suara, ia melompati pagar kayu perkemahan, menyusup di antara bayang-bayang tenda logistik, hingga akhirnya berhasil mendekati tenda komando utama yang berukuran paling besar di tengah perkemahan. Tenda itu dijaga ketat oleh empat orang pengawal elit berzirah perak lengkap dengan tombak panjang di tangan mereka. ​Alih-alih menyerang secara membabi buta, Chen Long memilih menyelinap ke sisi belakang tenda komando tempat kain penutupnya sedikit tersingkap oleh terpaan angin malam. Ia berdiri dengan tenang dalam kegelapan, meredam detak jantungnya, lalu memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan percakapan penting yang sedang berlangsung di dalam sana. ​Di dalam tenda yang diterangi cahaya lampu gantung bercahaya hangat, tampak Jenderal Wang Fang pria paruh baya berwajah tegas yang kemarin sempat mengizinkan Chen Long masuk ke desa sedang mondar-mandir dengan gelisah. Di hadapannya, duduk seorang pria misterius berjubah hitam legam dengan kerudung menutupi separuh wajahnya. Pria misterius itu tampak sedang meletakkan sebuah kantong kain berat di atas meja kayu yang dipenuhi peta strategi perang. ​"Batas waktu yang diberikan oleh Yang Mulia Pangeran hampir habis, Jenderal Wang," suara pria berjubah hitam itu terdengar serak, dingin, dan penuh ancaman. "Jika pasokan logistik dan peta rute pertahanan garis depan ini tidak segera diserahkan kepada pasukan Kerajaan Longxe malam ini, maka kepala keluargamu di ibu kota akan menjadi taruhannya." ​Jenderal Wang Fang menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak pucat pasi, dipenuhi oleh keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya. Sebagai seorang prajurit lapangan, ia sebenarnya sangat mencintai tanah airnya. Namun, tekanan politik dari para petinggi istana pusat dan ancaman terhadap keselamatan keluarganya telah mematahkan prinsip moral yang selama ini ia junjung tinggi. ​"Kau pikir ini mudah?!" bentak Jenderal Wang Fang dengan suara tertahan, meluapkan rasa frustrasi yang selama ini ia pendam. "Aku telah mengabdi puluhan tahun menjaga perbatasan Tang Ling! Dan sekarang kalian memintaku menjadi pengkhianat yang menjual ribuan prajuritku sendiri ke dalam pembantaian?!" ​Pria berjubah hitam itu mendengus sinis, berdiri dari kursinya lalu mendekati Jenderal Wang Fang dengan langkah pelan. "Pengkhianat? Jangan munafik, Jenderal. Di dunia ini, yang bertahan hidup bukanlah yang paling setia, melainkan yang berdiri di sisi pemenang. Kerajaan Tang Ling sudah di ambang kehancuran. Kerajaan Longxe menawarkan posisi kekuasaan yang jauh lebih tinggi jika benteng ini jatuh tanpa perlawanan berarti. Pilihlah dengan bijak: menyerahkan dokumen ini secara sukarela, atau melihat seluruh keluargamu diseret ke alun-alun kota sebagai pemberontak." ​Di luar tenda, Chen Long mendengarkan setiap patah kata yang terucap dari percakapan busuk tersebut. Wajah datarnya semakin mengeras. Dinginnya malam seolah membeku di sekitar tubuhnya. Pengkhianatan di tingkat tertinggi militer ini bukan lagi sekadar rumor; ia mendengarnya langsung dengan telinganya sendiri. ​Chen Long menyadari sepenuhnya bahwa jika dokumen strategi pertahanan itu sampai jatuh ke tangan pasukan Kerajaan Longxe, maka pertahanan Tang Ling akan runtuh dalam hitungan malam. Dan ketika itu terjadi, puluhan ribu prajurit tak berdosa serta warga sipil di desa-desa sekitar termasuk Desa Xingxi tempat ia tinggal akan dibantai tanpa ampun oleh musuh. ​Meskipun ia telah memutuskan untuk pensiun dan hidup tenang sebagai pengembala, ada garis batas moral yang tidak boleh dilanggar oleh dunia. Penjualan nyawa prajurit demi ambisi politik adalah hal paling hina di mata seorang mantan jenderal. ​Chen Long mengepalkan tangan kanannya erat-erat. Tongkat kayu di tangan kirinya bergetar perlahan, menampung aliran tenaga dalam murni yang siap dilepaskan kapan saja. Jaring laba-laba pengkhianatan ini harus dipotong, dimulai dari tenda komando di hadapannya saat ini. Bayangan masa lalu sebagai pemimpin pasukan terkuat di daratan kembali hidup di dalam nadinya. Permainan baru saja dimulai, dan para pengkhianat di dalam tenda itu tidak akan pernah menyangka siapa yang datang bertamu malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD