"Jadi, aku hanya perlu mengabaikan teleponnya beberapa kali, lalu saat mengangkatnya aku harus menolaknya?"
Ucapan Yamada itu diangguki oleh Kairi. Lelaki itu setuju untuk bekerjasama dalam menipu Sora. Yah, tentu saja suaminya mau. Terlebih lagi itu pekerjaan mudah dengan bayaran bombastis.
"Ingat dialog yang sudah kita latih barusan," tegas Kairi memberi perintah.
Yamada memutar kedua bola matanya malas. "Hanya karena kau yang mendapatkan kenalan kaya sepertinya, bukan berarti kau berhak memeribtahku seenaknya."
Kairi meliriknya sekilas dengan tatapan acuh. "Memangnya jika bukan karenaku, kau bisa membayar hutang judimu itu?"
Mereka hampir saja berdebat sekali lagi andaikan panggilan masuk dari Sora tidak ada. Gawai Yamada bergetar di atas meja makan. Pasangan suami istri itu menunggu sampai panggilan pertama otomatis terputus karena tak kunjung diangkat.
"Jadi, aku harus mengangkatnya dipanggilan yang ke berapa?" tanya Yamada sembari memperhatikan layar ponselnya yang kembali menyala ketika panggilan masuk.
Kairi tidak langsung menjawab. Ia mengira-ira kapan baiknya panggilan itu diangkat. "Panggilan kelima di dering kelima," katanya kemudian.
Yamada menoleh pada sang istri, lalu berujar, "Lama sekali. Apa nanti dia tidak merasa aku acuhkan?"
"Kau memang mengacuhkannya. Karena Akeno Bullet itu adalah detektif yang sangat sibuk. Mana ada orang yang sibuk langsung mengangkat telpon?"
"Bagaimana jika akhirnya dia menyerah dan berpikir untuk tidak menggunakan jasa palsu Akeno?"
Panggilan ketiga masuk. Fokus Kairi kembali ke layar. Ia tampak serius mempertimbangkan pertanyaan Yamada.
Benar juga. Jika Sora berpikir untuk tidak jadi menggunakan jasa Akeno Bullet alias Yamada Takara, ia yang akan rugi total kehilangan tangkapan besar seperti Sora.
"Kalau begitu, angkat dipanggilan keempat dering kelima," putusnya pada akhirnya.
Kini giliran Yamada yang mempertimbangkan perintah itu. Bukannya menuruti perkataan istrinya, pria berambut gondrong itu justru langsung mengangkat panggilan ketiga Sora di dering terakhir sebelum terputus.
Kairi yang melihatnya mendelik tidak senang. Suaminya itu malah mengambil tindakan sendiri tanpa mengikuti instruksinya. Sungguh menyebalkan.
"Halo?" sapa Yamada dengan suara seraknya karena kebiasaan merokok.
Terdengar suara berdenting di balik telepon. Sepertinya Sora baru saja menghangatkan sesuatu dengan mesin. "Ha-halo. Selamat malam," balas Sora sedikit tergagap.
Kairi memberi isyarat pada Yamada agar menekan pengeras suara pada ponselnya. Ia juga ingin mendengar pembicaraan di sambungan telepon itu.
"Saya Sora Igarashi, teman dari Kairi Takara. Saya ngin meminta bantuan pada Anda," lanjutnya.
Pandangan Yamada bersiborok dengan milik Kairi. Lalu istrinya memberikan anggukan sekali yang berarti akting dimulai. Pria itu berdeham sekali, "Apa kau sudah membuat janji denganku sebelumnya?"
"Eh? Haruskah membuat janji terlebih dahulu?"
"Tentu saja. Jadwalku sangat padat."
"Ta-tapi Kairi tidak memberitahu saya tadi siang."
"Kalau begitu kau sudah tahu sekarang."
"Lalu kapan saya bisa membuat janji temu dengan Anda?"
"Aku orang yang sangat sibuk. Jadi, tidak mungkin bagimu bertemu denganku dalam waktu dekat."
Rencananya adalah Akeno yang tidak mudah ditemui oleh sembarang orang, kecuali orang yang ia kenal. Jika Yamada menolaknya secara langsung, maka kemungkinan Sora akan meminta tolong pada Kairi untuk menjembatani antara Akeno dengan wanita itu.
"Tapi aku membutuhkan bantuanmu sesegera mungkin," desak Sora. Suaranya terdengar bergetar. Mungkin wanita itu sudah ingin menangis di depan gawainya.
Dasar cengeng.
"Yah. Bukan hanya kau yang memiliki masalah dan butuh bantuan. Jika memang sangat mendesak kau bisa meminta tolong agen detektif lainnya," tolak Yamada.
Mendengar hal itu, spontan Kairi memukul pundak Yamada keras. Pria itu sampai mengaduh pelan. Jika suaminya mengatakan demikian, sama saja Yamada melepas ikan berkualitas dengan percuma.
Semua yang dilakukan oleh Kairi akan menjadi sia-sia.
Yamada hanya menaikan kedua alisnya tanpa rasa bersalah saat mendapatkan pelototan dari sang istri. Ia tidak mengerti kenapa istrinya harus bertindak begitu. Bukankah tadi dia bilang Yamada harus menolaknya? Dia sudah melakukannya.
Lalu di mana salahnya?
"Ah, begitu. Maafkan saya karena sudah mengganggu waktu Anda. Selamat malam," pamit Sora sembari memutus sambungan.
Kairi dan Yamada menatap ponsel itu dengan tatapan bingung bercampur terkejut. "Inilah akibatnya jika memiliki pasangan yang bodoh dan tidak bisa diandalkan," ucap Kairi setelah beberapa detik terdiam.
"Apa? Kenapa ini menjadi salahku? Aku sudah mengikuti semua yang kau katakan," bela Yamada.
"Aku memintamu menolaknya secara halus. Tapi bukan berarti memintamu untuk membuatnya berpikir mencari bantuan ke orang lain. Lalu bagaimana sekarang kau bertanggungjawab agar ia kembali bergantung pada bantuanku?" kata Kairi dengan nada menekan.
"Kalau dia sampai berpikir untuk mencari bantuan orang lain setelah apa yang kukatakan, itu terjadi di luar kehendakku. Kenapa harus aku yang bertanggungjawab?" sahut Yamada tak mau kalah.
Jelas saja. Semua yang ia katakan sudah sesuai dialog yang direncanakan. Jika terjadi hal-hal di luar dugaan, apakah itu menjadi salahnya?
Kairi berdecak keras. Percuma saja berbicara pada Yamada. Lelaki itu tidak akan mau mendengarkannya. Sial. Kenapa dulu ia bisa jatuh cinta dan menikah dengan pria seperti ini?
"Kalau kau merasa dia harus sangat bergantung padamu, kenapa kau tidak coba menghubunginya dan menanyakan bagaimana hasil dari menghubungi Aki Nobule?" sambung Yamada.
"Namanya Akeno Bullet. Setidaknya ejalah nama samaran itu dengan benar," kata Kairi lelah.
Jari telunjuk Kairi mengetuk meja makan berirama. Ia tidak memiliki pilihan lain. Sepertinya ide dari pria di sebelahnya tidak buruk juga.
"Apa kau akan menghubunginya?" tanya Yamada setelah melihat Kairi mengambil ponselnya dan mencari daftar kontak.
"Diamlah." Kairi sedang menunggu nada sambung itu diangkat. Ia menjadi tidak sabaran ketika sampai dering kelima tak kunjung diangkat oleh Sora.
Apa wanita itu berniat balas dendam? Sial.
Sampai akhirnya saat sambungan akan terputus, Sora mengangkat. "Ah, maaf, Kairi. Aku baru saja selesai membersihkan sup yang ditumpahkan Kana," kata Sora membuka percakapan dengan sebuah alasan.
Kairi segera menata nada suaranya. Kekesalan yang sempat terbendung, ia sembunyikan. "Bagaimana, Sora? Apa kau sudah menghungi Akeno Bullet?" tanya Kairi langsung tanpa basa-basi.
"Ah, iya sudah. Tetapi dia bilang aku harus membuat janji terlebih dahulu. Dan sepertinya aku telah membuat Akeno Bullet tersinggung."
Perkataan Sora membuat Kairi berpikir. Tunggu. Jadi, itu yang dipikirkan oleh wanita naif ini?
"Apa? Memangnya kau mengatakan apa sampai berpikir begitu?"
"Yah, aku secara tidak langsung mendesaknya untuk bertemu dan membantuku. Aku mengabaikan bahwa ia juga sangat sibuk. Lalu dia berkata jika aku bisa meminta bantuan orang lain," jelas Sora dengan nada menyesal.
Wajah muram Kairi berubah cerah. Kini ia tidak perlu khawatir jika Sora akan berhenti bergantung padanya. Ia melihat sebuah peluang besar untuk memanfaatkan rasa tidak enakan yang menjadi sifat Sora.
Benar. Keberuntungan memang selalu berpihak padanya sekalipun ia melakukan banyak dosa.
"Ah, begitu rupanya. Aku rasa aku tidak akan berani lagi berbicara padanya." Kairi sengaja mengeluarkan nada sedih. Seolah ia adalah korban dari tindakan Sora.
"Maafkan aku, Kairi. Aku telah tanpa sengaja merusak pertemanan kalian," timpal Sora menyesal di balik telepon.
"Tidak apa. Aku akan menjelaskan kepadanya saat kami bertemu. Kebetulan aku sudah membuat janji temu untuk berkunjung ke rumahnya. Istrinya adalah teman baikku."
Ada keheningan sesaat sebelum Sora merespon. "Aku tahu aku sangat tidak tahu diri. Tapi boleh aku meminta bantuanmu? Bisakah kau berbicara pada Akeno Bullet agar mau membantuku mencari bukti tentang Akihiko dan teman-temannya?"
Yup. Sesuai dengan harapan. Lagi dan lagi, Sora terperangkap.
"Tentu saja. Aku adalah teman baikmu. Dan teman pasti saling membantu."
"Terimakasih banyak, Kairi. Terimakasih. Kau sungguh teman yang baik."
"Tapi, aku tidak mungkin meminta bantuannya tanpa membawa uang muka." Terlebih lagi setelah apa yang kau katakan padanya."
"Ah, itu. Berapa kira-kira uang mukanya?"
Kairi lalu menyebutkan nominal yang cukup besar sampai membuat mulut Yamada yang mencuri dengar menganga. Jumlah yang dikatakan sang istri adalah jumlah yang sangat banyak. Ia bahkan percaya seandainya Sora menolak memberikan uang sebanyak itu.
"Kau tidak perlu meragukan kinerjanya. Ia pasti akan dengan mudah menemukan semua yang kau butuhkan. Uang segitu tidak berarti apapun jika memang Akihiko terbukti bersih," rayu Kairi.
"Hm, baiklah. Aku akan mentransfer uangnya padamu. Kirimkan saja nomer rekeningnya."
Setelah menanyakan beberapa pertanyaan tak penting, sambungan telpon akhirnya ditutup. Kairi tersenyum sumringah. Sedangkan Yamada menatapnya bingung.
"Kau pikir dia akan benar-benar mengirimkan uang sebanyak itu?"
Kedua alis Kairi terangkat bersamaan. Lalu bunyi berdenting sekali tanda sebuah pemberitahuan masuk ke ponselnya. Ia menunjukan layar dengan tampilan pemberitahuan yang sudah ia baca.
"Tentu saja. Orang bodoh memang mudah dikelabui."