Kenzo Julian, pria 27 tahun dengan iris cokelat pekat dan berparas tampan itu telah lama berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Belasan tahun yang lalu, sejak dia terlepas dari jurang dalam nan mengerikan, hingga detik ini sosoknya masih diandalkan kalangan berduit.
Soul Hunter, begitulah mereka menyebutnya. Dari bilik-bilik tanpa suara, julukan itu menggaung tanpa dosa. Setiap kali dia beraksi, tak setitik pun noda yang tertinggal; di lokasi pembunuhan maupun jalan-jalan yang dia tapaki hingga jasad lenyap ditelan bumi. Bahkan anjing CIA pun tidak akan pernah bisa mengendusnya.
Melayangkan satu nyawa tak butuh waktu lama bagi manusia terlatih sepertinya. Lima belas menit, sudah cukup bagi Kenzo. Karena itulah, mereka berani membayar mahal. Tak hanya ratusan juta, dia bahkan pernah menerima miliaran rupiah hanya untuk satu tarikan napas.
Hal lain yang mereka suka, Kenzo tak peduli siapa target maupun sang pesuruh. Tak jua peduli motif di balik keinginan sang peminta nyawa. Asal harganya pantas, dia akan beraksi bagai bayangan malam. Gesit dan tanpa jejak. Selain demi uang, Kenzo membunuh untuk memuaskan hasrat gila yang menempel lekat dalam jiwanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, dia hanya seorang pemilik kedai makanan siap saji di sudut kota. Dengan sepuluh pegawai yang sigap melayani pelanggan. Dan orang-orang percaya akan hal itu.
Jauh berbeda dengan sisi misteriusnya. Sebagai pemilik kedai, Kenzo selalu tampil ramah dan bersahabat. Walau begitu, dia tetap saja menjaga jarak. Dia tidak menjalin hubungan pertemanan dengan siapa pun, kecuali orang-orang Dark Zone. Apalagi cinta, hah, itu hanya omong kosong baginya.
Dia menikmati hidup. Sangat menikmati. Berfoya-foya hampir setiap malam. Minuman keras menjadi teman setianya. Wanita? Jangan berharap dia mau mendekatinya. Bagi Kenzo, wanita adalah pembunuh tersadis.
Cinta itu lebih menakutkan dari tangannya. Dia akan membunuhmu dengan siksaan. Membawamu terbang, lalu menjatuhkanmu. Merobek hatimu perlahan, kemudian mencabiknya hingga tak berbentuk. Kamu pun mati dengan napas tertatih.
Kengerian itu yang selalu terbayang dalam angan Kenzo ketika kata cinta terdengar di telinga.
Setelah menyalakan lampu kamar, dia berjalan menuju ruang ganti. Penerang ruang itu menyala otomatis kala tubuhnya melewati pintu geser. Deretan pakaian formal dan kasual menggantung di sisi kanan dan kiri. Di bagian tengah, ada meja kayu setinggi lutut. Koleksi dasi, jam tangan, dan kacamata Kenzo tertata apik di setiap laci.
Dia terus melangkah hingga berada di hadapan dinding putih, kosong. Kenzo menghela napas, lalu menempelkan telapak tangan kirinya tepat di tengah dinding. Tiba-tiba, sisi datar nan polos itu menyala layaknya monitor komputer. Sesaat kemudian, ruang rahasia di balik dinding itu mulai tampak.
Barisan senjata menyapanya dengan meriah. Barrett M82, Knight Armament M110, AS50, pistol FN 57, koleksi belati dan peluru-pelurunya membuat ruang sempit itu serupa galeri militer. Kotak hitam diletakkan di ruang kosong, tepat di bawah Knight Armament. Setelahnya, dia kembali menutup almari itu.
Di sisi lainnya, dia menyusun tumpukan kertas berharga, mengumpulkannya dengan benda sejenis. Brangkas seukuran kulkas satu pintu, penuh dengan lembaran-lembaran rupiah yang dia dapat dari pekerjaannya. Wangi yang melebihi parfum termewah di seluruh dunia. Kenzo menyukai itu. Kilatan kepuasan terlihat dari sorot matanya.
Bagi Kenzo, uanglah yang berkuasa atas segalanya. Uang pula yang menjadi senjata penggerak terhebat, pengatur hidup dan mati seseorang. Kenzo menutup brangkas, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Air dingin yang keluar dari shower, mulai menyelinap masuk lewat pori-pori. Memberi rasa sejuk yang menyegarkan. Aroma sabun menggantikan bau anyir yang sedari tadi tercium pekat dari tubuhnya. Dengan handuk yang melingkar di pinggang, lelaki bertubuh tegap kembali memasuki ruang ganti. Kenzo memilih kaos marun dan celana denim biru muda, untuk pesta malam ini.
Pria bergaris wajah tegas itu berjalan menuruni anak tangga dan beberapa ruang lain dalam rumah megahnya. Di balik pintu putih, Pajero hitam metalik, Ducati, Maserati, berjejer rapi. Ada satu tempat kosong yang akan diisi oleh Lykan.
Dia tersenyum menikmati kekayaannya. Upah Soul Hunter yang tak murah, membuat Kenzo bisa mendapatkan apa pun yang diinginkan.
Kali ini, Kenzo memilih roda dua kesayangan. Dia meninggalkan huniannya dan mulai memecah hening area perumahan.
Tiga ratus meter lepas dari garasi, Kenzo menghentikan laju roda kembar. Dalam keheningan, dia mendengar pekikan yang cukup jelas. Telinganya mulai meneliti arah suara itu berasal.
"Tolong! Emmm... Emmm.”
Suara wanita yang terbungkam. Penculikan. Kesimpulan dari hasil kerja otaknya.
Dia berdarah dingin. Namun, entah mengapa suara itu begitu mengusik. Seakan memanggil Kenzo untuk bertindak. Hal yang tak mungkin dia hiraukan, mengingat sikapnya yang tak pernah peduli dengan pekikan maupun ronta dari korban.
Namun, siapa sangka usaha kerasnya untuk tak acuh, tertolak. Tubuhnya memberontak, tetapi hati telah memerintah saraf otak untuk pergi dan menolong wanita itu. Alhasil, Kenzo tak bisa lagi melawan ego-nya.
Dengan kesal, dia menjejakkan mahakarya Louis Voitton di rerumputan, menyusuri deretan dedaunan yang rimbun. Tak berapa lama, dia mendapati tubuh yang terseret.
"Woi!" Tanpa sadar dia berteriak dan menghentikan aksi dua pria di hadapannya.
Give and take, selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Suara keras Kenzo langsung mendapat respons negatif dari mereka, yang masih memegang pergelangan tangan seorang wanita.
Fokus kedua pria itu terpecah, tak lagi berminat pada wanita berhijab. Setelah melepas lengan calon korban, mereka memelototi Kenzo, mendengkus layaknya banteng di tengah Colloseum.
Namun, bukan Kenzo namanya jika dia mengabaikan tantangan. Lelaki berkaus marun itu semakin b*******h untuk memberi mereka pelajaran. Setidaknya beberapa luka sayatan dirasa cukup. Ah, aroma anyir menggelitik di hidungnya tatkala bayang itu ada.
Perkelahian pun pecah. Kenzo tahu ini akan menjadi hal yang sia-sia, tapi ketika teringat bagaimana cara mereka memandangnya, amarah kembali memenuhi setiap bilik sanubari. Pukul, tendang, dan matikan. Tiga kata itu menggema di kepala, bersamaan dengan gerak cepat tubuhnya yang mem-Bruce Lee b****g kedua begundal itu.
Aksi heroik Kenzo mematahkan keberanian musuh, yang tak lebih dari sampah masyarakat. Keduanya berlari tunggang langgang. Wajah-wajah itu, tinggal menunggu waktu untuk menghilang dari bumi.
Kenzo mengatur jalur oksigennya. Sedikit pun dia tak peduli dengan sosok yang telah diselamatkan. Bahkan mungkin ... dia tak menyadari jika tindakan yang baru saja dilakukan adalah sebuah aksi penyelamatan. Pembunuh bengis menjadi seorang hero dalam semalam. Hah, sulit dipercaya.
“Terima kasih.”
Telinga Kenzo tersentil ucapan seorang wanita. Suara lembut yang terasa aneh baginya. Seakan-akan ada sesuatu yang nyaman dalam d**a. Entah akan diartikan apa olehnya.
Akibat kalimat itu, dia memutar arah. Di bawah sinar penguasa malam yang samar menembus dedaunan, Kenzo melihat sosok wanita berkerudung panjang, lengkap dengan niqob yang menyembunyikan kecantikannya. Lelaki itu mengembuskan napas dan kembali tak respek.
Sejenak dia termangu.
Ingatannya mundur beberapa langkah. Sosok di hadapannya seperti tak asing. Kenzo pernah melihat wanita yang sama, yang pernah keluar dari rumah sederhana tepat di samping miliknya.
Mungkinkah?
Tubuhnya bergerak otomatis, mendekati wanita itu. Bagai sosok malaikat bersayap nan tampan, dia mengulurkan tangannya untuk memberi pertolongan pertama.
“Kau baik-baik saja?" Pertanyaan yang tak terbalas. Begitu pula uluran tangannya yang tak bersambut manis.
Dia mengernyit. Untuk pertama kalinya dia menolong dan terabaikan. Ada seorang wanita yang menolaknya, itu menyakitkan. Mengingat selama ini, banyak kaum hawa yang mengincarnya.
Sial! Umpatan yang hanya terucap dalam hati.
Malaikat bersayap itu kembali berubah menjadi devil di detik berikutnya. Sorot mata yang lembut, sirna. Emosi meledak dalam hatinya. Dia pun beranjak dari lokasi menyebalkan itu. Kembali memegang kemudinya dan menghilang di balik tikungan, bersama deru knalpot yang memekakkan telinga.
.