Chapter 03

1081 Words
“Kau membuatku muak, Willow!” cacinya. “Kalau kamu memang begitu terpaksa,” Willow balas dengan suara dingin, “kenapa setuju menikahiku? Kenapa tidak bilang saja pada dunia kalau aku yang menjebakmu?” Ia menatap Caleb tanpa gentar. “Kenapa diam? Karena kamu tahu kamu sendiri yang salah, tapi kamu denial! Dan selama tiga tahun ini kamu menjadikanku kambing hitam. Breng sek!” “Aku hanya mengabulkan permohonanmu! Bukannya dari remaja kamu memang menyukaiku dan ingin jadi istriku?” Kata-katanya menusuk, karena itu benar. Willow jatuh cinta pada Caleb sejak pandangan pertama. Tiga tahun mengejar, berharap, berusaha… hingga akhirnya ia mendapatkan pernikahan itu. Willow tahu Caleb tidak pernah mencintainya. Tapi ia percaya cinta dan pengorbanannya cukup untuk membuat hati pria itu melunak. Ternyata ia salah. Sangat salah. Tiga tahun menjadi istri yang patuh, melayani segala kebutuhannya, menerima cacian saat Caleb kesal, menjadi tempat pelampiasan saat pria itu marah—semuanya tidak berarti apa-apa. Bukan karena cintanya kurang besar. Tapi karena hati Caleb tertutup rapat untuk dirinya. “Aku yang bodoh, Caleb…!” suara Willow pecah, “Aku yang bodoh mencintai lelaki jahat sepertimu!” “Menyesal menikah denganku?” Caleb menantang. “Tidak!” Willow menggeleng cepat. “Aku tidak menyesal sedikit pun. Setidaknya aku tahu seperti apa lelaki yang mendapatkan cinta dan pengorbananku yang besar. Jadi di masa depan, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.” Caleb menyipitkan mata. “Apa maksudmu?” Willow menarik napas panjang. “Ayo kita bercerai, Caleb. Anggap saja tiga tahun pernikahan ini eksperimen gagal dalam hidupku. Aku ikhlas. Aku bisa menerimanya. Karena aku sudah mendapatkan banyak pelajaran.” “Kamu berani mengatakan itu?” Caleb mendekat dengan tatapan menusuk. “Kamu akan menangis penuh penyesalan kalau aku mengabulkannya.” “Nggak.” Willow menatap balik. “Aku nggak akan menyesal. Yang ada, aku akan lebih menyesal kalau terus tinggal di sisimu dan membiarkan diriku jadi perempuan bodoh.” “Lakukan saja kalau berani!” Caleb menggeram. “Besok aku tunggu di pengadilan. Tapi ingat… sekali kamu melangkah keluar dari rumah ini, tidak akan ada jalan kembali!” Willow mengangguk ringan, tanpa gentar. “Kalau begitu, sampai jumpa besok di pengadilan, Caleb.” Ia mengambil selimut wolnya dan melangkah keluar dari kamar. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dadanya terasa sedikit lega. Entah kenapa—malam itu—cinta besarnya pada Caleb tidak lagi lebih besar dari keinginannya untuk berpisah darinya. Besok paginya, Willow datang ke pengadilan dengan hati yang sudah mantap. Keputusan yang ia ambil semalam terasa paling jujur yang pernah ia buat untuk dirinya sendiri. Namun dua jam berlalu di ruang tunggu—dan Caleb tidak juga muncul. Awalnya Willow mencoba maklum. Mungkin Caleb sedang meeting. Mungkin sedang sibuk. Mungkin… apa pun. Tapi dua jam bukan waktu sebentar. Dengan dua jam, Willow bisa menyelesaikan banyak hal. Dengan dua jam, ia bisa memilih untuk tidak menunggu seseorang yang tidak pernah melihatnya. Ia akhirnya mengeluarkan ponselnya. Saat jarinya menggulir layar untuk mencari nama Caleb, sudut bibirnya terangkat—pahit. Nama Caleb tersimpan di speed dial sebagai “Suami Tercintaku”. Selama tiga tahun, fitur itu tidak pernah sekalipun terpakai. Willow tertawa kecil, getir. Jangankan menelepon—mengirim pesan saja ia jarang mendapat balasan. Ia ingin menelepon, tapi akhirnya hanya mengetik pesan. [Willow: Kamu di mana? Aku sudah di pengadilan lebih dari dua jam.] Willow bersiap menerima keheningan seperti biasanya. Tapi ia salah. Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar. [Suami Tercintaku: Aku nggak bisa datang hari ini. Meisie tiba-tiba menelpon, nggak masuk kerja. Katanya perutnya kram karena menstruasi. Dia minta aku temani ke rumah sakit.] Willow menatap layar itu lama. Panjang. Jelas. Tanpa ragu. Seolah dia bukan istri. Seolah Meisie-lah yang berhak mendapat prioritas. Willow, seperti inilah lelaki yang selama ini kamu cintai mati-matian, bisiknya pada diri sendiri. Hanya karena kram menstruasi… Caleb membatalkan janji di hari yang seharusnya menuntaskan semuanya. Ia teringat—dulu, saat ia dirawat tiga hari di rumah sakit sampai dokter mengizinkannya pulang, Caleb tidak datang sama sekali. Menjenguk pun tidak. Bertanya kabar pun tidak. Menjemput pun tidak. Willow menelan ludah. Dadanya terasa sesak. GERD-nya sering kambuh ketika ia tertekan. Saat kambuh, ia tidak bisa melakukan apa-apa—bahkan bernapas pun terasa seperti menusuk. Dan penyakit itu muncul setelah ia menikah dengan Caleb. Baru saat itu Willow benar-benar sadar…Selama ini, dia yang menghancurkan hidupnya sendiri. Semata-mata karena membutakan diri dengan cinta yang tidak pernah terbalas. Bahkan sampai pada titik ini, saat mereka sudah sepakat untuk bercerai pun Caleb masih mengabaikannya demi perempuan lain. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Willow menghampiri staf pengadilan untuk menanyakan prosedur perceraian yang harus ia tempuh tanpa kehadiran Caleb. Staf itu menjelaskan dengan hati-hati bahwa ia membutuhkan sertifikat nikah dan ID kedua belah pihak untuk memulai proses resmi. Tanpa dokumen-dokumen itu, tidak ada berkas yang bisa diproses hari ini—yang bisa diberikan hanya formulir pengajuan perceraian untuk diisi terlebih dahulu. Willow mengangguk, suaranya nyaris tak terdengar ketika ia berkata, “Kalau bisa… saya ingin mengajukannya dulu. Yang penting proses ini bisa segera selesai.” Staf itu menatapnya lama. Ada luka yang terlalu jelas di mata Willow—luka yang tampaknya sudah lama ditahan, dan hari itu akhirnya tak bisa disembunyikan lagi. Dengan gerakan teratur, staf itu menyerahkan formulir itu kepada Willow. Ia menunjuk bagian atas kertas sambil berkata dengan nada profesional namun tetap sopan, “Silakan, Bu. Ini formulir pengajuan perceraiannya. Untuk proses selanjutnya, Anda tetap membutuhkan sertifikat nikah dan identitas kedua pihak. Tanpa itu, kami belum bisa memulai proses resmi.” Willow menerima formulir itu dengan kedua tangan, mencoba menahan getar yang hampir tak terlihat. Staf itu menambahkan—singkat, seperlunya, tapi tetap memperhatikan kondisi Willow, “Formulir ini bisa Anda isi di rumah. Kalau sudah lengkap, Anda bisa kembali ke sini kapan saja. Kami akan bantu proseskan sesuai prosedur.” Willow mengangguk pelan. “Terima kasih.” Staf itu sempat menatapnya sejenak—tatapan yang tidak berusaha iba, hanya membaca keadaan. “Maaf sebelumnya, Bu… saya hanya ingin mengingatkan sedikit.” Ia menatap Willow sekilas, memastikan ucapannya tidak menyinggung. “Anda masih sangat muda. Pertengkaran dalam rumah tangga itu memang sering terjadi. Mungkin… ada baiknya dibicarakan dulu dengan suami sebelum mengambil langkah sejauh ini. Banyak pasangan muda yang akhirnya rukun kembali setelah berdiskusi.” Willow menunduk, menggenggam formulir itu lebih erat. Staf itu melanjutkan dengan nada hati-hati, “Kami akan tetap memproses apa pun keputusan Anda. Hanya saja… kalau masih ada ruang untuk dibicarakan, tidak ada salahnya mencoba dulu. Perceraian itu langkah besar.” “Tentu saja” Jawab Willow dengan sopan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD