Pagi-pagi, Willow turun ke ruang makan.
Kepala pelayan menyambutnya dengan wajah sedikit ragu.
“Ny. Willow, tuan sudah berangkat sejak pagi. Terlihat sangat terburu-buru.”
Biasanya, Willow akan langsung bertanya.
Apakah tuannya sempat makan.
Apa yang dia makan.
Seberapa banyak.
Apakah dia memakai mantel tebal atau tidak.
Biasanya, Willow selalu memastikan suaminya mendapatkan yang terbaik—bahkan sebelum memikirkan dirinya sendiri.
Tapi hari ini… tidak.
“Okay, terima kasih,” jawab Willow tenang.
“Bisa buatkan aku sarapan ringan saja?”
Tidak ada nada khawatir.
Tidak ada rasa penasaran.
Tak lama kemudian, sarapan tersaji. Willow menikmatinya tanpa gangguan, tanpa pikiran yang berlari ke mana-mana, ia merasa… lega.
Lega karena tidak memikirkan Caleb.
Namun rasa lega itu runtuh hanya oleh satu pesan.
[Caleb: Nenek masuk rumah sakit. Aku pergi pagi-pagi karena mengurusnya.]
Dulu, pesan seperti ini akan membuat Willow langsung bergegas.
Berkemas tergesa.
Menyetir sendiri dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Sekarang?
Ia tetap akan datang.
Tapi tidak akan terburu-buru.
Bukan karena ia tidak menyayangi Nenek Margareth—justru sebaliknya. Ia sangat menyayangi nenek. Ia khawatir.
Hanya saja… ia sudah tidak ingin berlari lagi untuk Caleb.
Dan sesuai dugaan Willow—
Di lorong rumah sakit, ia melihat dua sejoli itu.
Berdiri terlalu dekat.
Berpelukan seperti pasangan ABG yang sedang menghadapi akhir dunia.
Perempuan yang tidak tahu malu.
Dan lelaki yang sama saja.
“Ah… Willow… maaf,” ucap Meisie, berpura-pura terkejut—padahal jelas ia sudah tahu Willow akan datang.
“Aku tidak tahu kamu datang. Aku hanya sedih melihat Nenek Margareth, dan Caleb yang menenangkanku.”
Willow hanya melirik sekilas.
Lalu berjalan melewati mereka—tanpa melirik Caleb sama sekali.
Muak.
Ia bahkan merasa Meisie bodoh.
Nenek Margareth tidak pernah menyukainya. Tidak mungkin Meisie benar-benar bersedih untuk nenek.
Benar kata orang—
Saat kau terlalu cinta, rasa sakit terasa seperti kiamat.
Tapi saat cinta itu mati, yang tersisa bukan lagi luka… melainkan ketidakpedulian.
Caleb menarik lengan Willow.
“Apa kamu tak melihatku?” tegurnya.
Willow langsung menampik tangan itu. Tatapannya dingin.
“Aku ke sini untuk melihat nenek,” katanya datar.
“Bukan kamu.”
Tatapan Caleb mengeras. Jelas ia tidak terima.
“Meisie, kamu kembali ke kantor,” kata Caleb akhirnya, suaranya terdengar tidak enak.
“Aku harus mengurus nenek.”
“Caleb, aku ingin menemanimu,” jawab Meisie manja.
“Aku tahu kamu baik dan berhati lembut,” lanjut Caleb.
“Tapi kamu tahu sendiri… nenek nggak suka melihat kamu.”
Meisie memasang wajah cemberut.
Willow hampir muntah mendengarnya.
Sungguh dua sejoli yang serasi, pikirnya pahit.
Untung saja, tangan Nenek Margareth bergerak pelan—pertanda ia sadar.
“Nenek…” Willow segera mendekat, menggenggam tangan perempuan tua itu dengan lembut.
Nenek Margareth tersenyum lemah.
“Kamu sudah di sini,” ucapnya pelan.
“Maafkan nenek tua ini… selalu merepotkanmu.”
Willow menggeleng cepat.
“Nenek nggak pernah merepotkan aku.”
Tiba-tiba mata Nenek Margareth berkaca-kaca.
“Maafkan cucu nenek,” katanya lirih, “yang tidak pernah bisa membahagiakanmu…”
Willow terdiam.
“Kenapa nenek bilang begitu?”
“Kamu perempuan bodoh,” ucap nenek tanpa ragu.
“Sudah tahu suamimu selingkuh dengan sekretarisnya, tapi kamu masih diam saja dan memaafkannya.”
“Nenek tahu?” Willow terkejut.
Caleb langsung menyela, suaranya meninggi.
“Itu tidak benar, Nek!”
“Jangan menyelaku,” bentak Nenek Margareth.
“Aku lebih percaya orang-orangku di perusahaan daripada kamu.”
Nenek menarik napas, lalu melanjutkan dengan tegas,
“Dengar baik-baik. Karena kamu sudah menyakiti Willow—jika kamu bercerai, maka Willow berhak atas lima puluh persen saham perusahaan dan juga beberapa properti di pusat elit kota!”
“Nek…” Caleb terlihat panik.
“Aku dan Willow nggak akan pernah cerai.”
Willow menunduk, menggenggam tangan nenek lebih erat.
Keadaan Nenek Margareth tidak parah.
Hanya saja, ia memang kerap seperti itu. Setelah observasi sebentar, dokter mengizinkan pulang.
Begitu juga hati itu.
Hanya perlu waktu sebentar untuk menyadari… bahwa ia sudah terlalu lama sakit.
Caleb memaksa mengantar Willow pulang setelah mengurus nenek dan kembali ke kediaman utama. Willow sudah menolak, namun pria itu ngotot. Kalau saja Caleb tidak mengatakan ingin membicarakan masalah perceraian, Willow pasti tidak akan peduli.
“Dengar, Willow,” ucap Caleb lirih.
“Kita tidak akan bercerai. Kamu sudah mencintaiku selama enam tahun dan itu tidak akan mudah bagimu. Kamu pikir kamu bisa? Kamu tidak akan bisa.”
Saat itu, Willow merasa apa yang dikatakan Caleb benar.
Selama bersama Caleb, ia terbiasa menyakiti dirinya sendiri.
Siapa pun yang salah saat bertengkar—dia yang selalu meminta maaf lebih dulu.
Bukan karena ia salah, tapi karena ia takut membuat Caleb marah.
“Aku berjanji,” lanjut Caleb cepat.
“Aku berjanji akan bersikap lebih baik padamu.”
“Kenapa?” tanya Willow.
“Karena saham itu?”
Caleb tidak langsung menjawab.
Dan Willow tahu—jika jawabannya iya, tentu saja karena saham. Pernikahan kami hanyalah penjara bagi Caleb.
“Semua yang kamu tuduhkan padaku tidak benar, Willow,” lanjut Caleb.
“Apa kamu pernah melihatku tidur dengan Meisie? Aku hanya melindunginya sebagai teman. Dia tidak memiliki siapa-siapa, dan aku merasa wajib melindunginya.”
Yang Willow inginkan hanyalah jawaban iya atau tidak.
Yang ia dapatkan justru penjelasan panjang—yang isinya hanya pembelaan.
Belum sempat Willow menjawab, Caleb kembali bicara.
“Aku berjanji akan lebih menjaga sikapku.”
Dulu, setiap kali Caleb ingkar janji dan ia kecewa, Willow akan tetap tersenyum—seolah semuanya baik-baik saja.
Karena Caleb tidak menyukai perempuan yang kekanakan.
Sekarang?
Apakah ia masih bisa dengan mudah mempercayai Caleb?
Mengingat keputusan Nenek Margareth tadi tentang kompensasi yang akan ia dapatkan apabila bercerai, Willow semakin sadar—ada ketidakseimbangan yang sangat besar dalam pernikahan mereka.
Meskipun ia sangat mencintai Caleb, ia juga berhak bahagia.
Apalagi ia tidak kekurangan harta.
Jika kembali ke Flora, Rowan, dan neneknya—mereka pasti akan menerimanya dengan tangan terbuka.
“Caleb,” ucap Willow akhirnya, suaranya bergetar namun tegas.
“Pernah nggak kamu sekali saja bertanya… bagaimana perasaanku?”
“Saat kamu selalu mengutamakan Meisie,” lanjutnya emosional,
“apa kamu pernah ingat kalau kamu punya istri? Seorang manusia biasa yang bisa cemburu dan sakit hati?”
Tidak ada jawaban.
“Saat kamu membela Meisie—tidak peduli dia salah atau benar,” suara Willow semakin naik,
“pernahkah kamu berpikir bagaimana kalau istrimu sakit hati, marah, dan pergi?
Apakah aku akan menyesal… atau justru aku akan bahagia?”
“Willow…” Caleb mencoba menyela.
Willow mengangkat tangannya.
Meminta Caleb berhenti bicara.
“Karena kamu tidak pernah mencintaiku,” katanya pelan tapi tajam,
“tidak pernah memikirkan perasaanku, maka…”
Ia menarik napas.
“Ayo kita bercerai!”
“Willow…” Caleb meraih tangan Willow.
Willow langsung mengibaskannya.
“Aku membebaskanmu,” ucapnya tegas,
“untuk menjaga Meisie dengan sepenuh hati.
Dan kalau yang kamu khawatirkan adalah saham lima puluh persen Stirling Holding—maka dengan tegas aku katakan, aku tidak tertarik!”
“Willow… cukup membuatku merasa bersalah,” ucap Caleb frustrasi.
“Kamu mengatakan itu supaya aku terus merasa bersalah padamu, kan?”
“Bukan,” jawab Willow cepat.
“Aku mengatakan ini untuk membuka matamu, Caleb. Bahwa aku tidak butuh tanggung jawabmu.”
“Karena sudah merenggut kesucianku tiga tahun lalu,” lanjutnya tegas.
“Karena aku yakin—”
Willow menatap Caleb tanpa ragu.
“Ada lelaki yang akan bertekuk lutut padaku. Memberikan cintanya dengan tulus.
Tanpa melihat apakah aku masih suci atau tidak—akibat perbuatan b***t seseorang!”
“Baiklah … aku minta maaf”
“Kalau aku memaafkanmu, apakah kamu bisa berjanji tidak akan bertemu Meisie lagi?”
Tidak ada jawaban. Willow tersenyum kemudian dia keluar dari mobil Caleb.