Willow pulang ke rumah pernikahannya sekitar jam sembilan.
Ia sengaja datang di jam itu—untuk menghindari bertemu dengan Caleb.
“Nyonya,” sapa pelayan senior ketika melihat Willow melangkah masuk.
“Tuan sudah berangkat, kan?” tanya Willow memastikan.
Ia pulang hanya untuk satu tujuan: mengemasi barang-barangnya.
“Tuan tidak pulang semalam,” jawab pelayan itu.
“Nyonya juga… saya pikir kalian—”
“Ah, lupakan,” potong Willow cepat.
“Bibi, kamu bantu aku, ya.”
Ia mengajak pelayan itu menuju kamar.
Willow mulai memilah barang-barangnya.
Semua barang pribadi yang ia bawa ke rumah ini—dan yang ia beli dengan uangnya sendiri—ia masukkan ke dalam koper dan kardus.
Sementara barang-barang pemberian Caleb… ia pisahkan.
“Nyonya, kenapa semua barang dimasukkan ke kardus?” tanya Bibi ragu.
“Aku ingin bersih-bersih saja,” jawab Willow tenang.
“Bibi punya anak seusia aku, kan? Kamu pilih mana yang cocok. Sisanya kita sumbangkan. Untuk barang-barang berharga, aku kirim ke yayasan pelelangan. Hasil penjualannya juga untuk donasi.”
Dalam hati Bibi bergumam,
Enak sekali menjadi orang kaya. Kalau sudah bosan, barang-barang ini disingkirkan begitu saja.
Namun ia hanya mengangguk patuh.
Beberapa jam berlalu.
Setelah semuanya selesai, Willow berpamitan. Ia menyerahkan amplop berisi uang—jumlahnya sesuai dengan jumlah pelayan yang bekerja di rumah itu.
“Apa ini hari bahagia?” tanya Bibi pelan.
Willow tersenyum.
Karena hari ini memang hari bahagianya.
Ia sudah meminta pengacara mengurus seluruh proses perceraiannya. Ia tidak ingin lagi mengurusi Caleb. Itulah sebabnya ia memutuskan pergi dari rumah ini.
“Doakan kehidupanku selalu baik, Bi,” ucap Willow.
“Tentu,” jawab Bibi tulus.
“Saya doakan semoga Nyonya dan Tuan segera memiliki momongan.”
Willow tersenyum tipis.
“Itu tidak mungkin.”
Dari dulu, Caleb sudah mengatakan tidak ingin memiliki anak darinya.
Menyentuh Willow saja jarang—kecuali saat mabuk.
Dan jika sedang mabuk, ditolak pun ia akan memaksa.
Jika dipikirkan kembali, tidak ada satu pun kenangan indah dalam pernikahan itu.
Mungkin itu sebabnya Willow justru merasa lega setelah mengambil langkah untuk bercerai.
Di masa lalu, Willow terlalu banyak menyangkal kenyataan.
Padahal tanda-tanda bahwa Caleb tak akan pernah membuka hatinya sangat jelas.
Namun ia tetap naif—berpikir cintanya bisa melunakkan segalanya.
Kini, ia sadar.
Bukan hatinya yang terlalu lemah.
Hanya saja, ia terlalu lama bertahan di tempat yang tidak pernah benar-benar menginginkannya.
Saat Caleb pulang, hal pertama yang selalu ia lakukan selama tiga tahun pernikahan—sebelum menuju kamar—adalah mengecek ruang makan jika Willow tidak ada di sofa ruang keluarga.
Namun malam ini, yang ia lihat hanya bayangan chandelier di atas meja makan, bergoyang pelan tertiup angin. Ruangan itu kosong. Terlalu kosong.
Caleb memanggil Bibi pelayan, menanyakan keberadaan Willow.
“Nyonya pagi tadi kembali, tapi tidak lama pergi lagi,” jawab pelayan itu singkat.
Karena Caleb hanya bertanya ke mana Willow pergi, pelayan itu memilih diam. Ia tidak ingin menceritakan apa pun yang ia lihat hari ini. Ia pikir, itu urusan majikannya. Lagipula, Nyonya mereka tidak mengatakan apa-apa selain berpamitan—dan memberi mereka uang.
Di kamar, Caleb beberapa kali mencoba menelepon Willow.
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Tetap sunyi.
Baru saja ia hendak meletakkan ponselnya, layar itu menyala—sebuah notifikasi dari i********:.
Unggahan Willow.
Caleb terpaku.
Willow sedang berada di sebuah bar, fotonya terlihat sangat cinematic. Ia mengenakan dress ketat berwarna champagne, anggun, memegang gelas wine. Senyumnya samar tapi penuh percaya diri, mengarah langsung ke kamera. Beberapa helai rambut jatuh ke wajahnya, membuatnya terlihat… sangat menarik. Bukan Willow yang menunggunya di rumah. Bukan Willow yang ia kenal.
Caption itu membuat darah Caleb naik ke kepala.
“Setelah capek menjadi bodoh, sekarang saatnya mencintai diri sendiri.”
Komentar di bawahnya berderet—pujian tentang kecantikan Willow, tentang keberaniannya, tentang caption yang dianggap girl power dan menginspirasi banyak perempuan.
Dan satu komentar membuat tangan Caleb meremas ponselnya lebih keras dari yang ia sadari.
“Jika saja kamu mau jadi pasanganku, pasti aku akan menjadikanmu ratuku.”
Caleb tahu—komentar semacam itu tidak akan Willow tanggapi.
Willow hanya ingin bersenang-senang.
Dan untuk pertama kalinya, kesadaran itu menusuknya.
Satu hal yang Willow pelajari dari pernikahannya dengan Caleb:
saat menikah, sebaiknya jangan berkorban terlalu banyak jika tidak setimpal.
Tetap cintai dirimu lebih dari pasanganmu—karena dengan begitu, kamu akan lebih berharga di mata siapa pun.
Willow terlalu sibuk mencintai suaminya…sampai lupa mencintai dirinya sendiri.
Dan malam itu, Caleb baru menyadari—ia tidak kehilangan Willow karena perceraian. Ia kehilangan Willow jauh sebelum itu. Tiba-tiba saja ada rasa nyeri di ulu hatinya dan dia tidak paham itu apa.
Tapi dia yakin itu bukan cemburu karena cinta, itu hanya perasaan kesal karena Willow yang kini semakin berani memberontak. Dia merasa kehilangan istri yang setia mencintai dan melayaninya tanpa syarat.
Perceraian belum terjadi dan Caleb akan mencegahnya.
Dia mengetik pesan, menyebalkan sekali melihat Willow menebar pesona seperti itu seolah dia sudah single.
[Caleb: Pulang, Willow. Jangan membuatku marah, kamu punya suami] pesan itu terkirim sampai satu jam dan sampai dia tertidur tak ada balasan sama sekali dari Willow.
“Willow, apa maumu sebenarnya?” geram Caleb.
Dia menekan tombol ‘Dial’ panggilan tersambung namun Willow tak mengangkat panggilan itu.
Sementara itu, di apartemennya, Willow baru saja kembali dari club.
Ia memang datang sendirian.
Namun ia cukup bersenang-senang malam ini.
Hanya saja… saat di club tadi, ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.
Ia melihat Meisie.
Meisie bersama teman-temannya—tentu saja mereka adalah teman-teman SMA dulu yang pernah membully Willow. Pemandangan itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa sesak, tapi bukan itu yang benar-benar menghantamnya.
Yang membuat langkah Willow terhenti adalah kalung yang dikenakan Meisie.
Sebuah kalung dengan liontin berbentuk lumba-lumba, dihiasi berlian hijau di tengahnya.
Itu bukan kebetulan.
Kalung itu custom made. Dibuat khusus oleh orang tuanya—seperti halnya Rowan yang memiliki cincin bermata hijau besar. Masing-masing dari mereka memiliki identitas semacam itu di keluarga McRide.
Namun Willow menahan dirinya.
Ia tidak ingin gegabah.
Dunia fashion terus berputar.
Dan siapa yang bisa membatasi imajinasi manusia?
Satu-satunya hal yang membuat dadanya bergetar adalah detail kecil yang hampir tak terlihat siapa pun—kecuali dirinya.
Inisial LW terukir di bagian belakang liontin itu.
Willow kehilangan kalung itu saat ia baru masuk SMA.
Ia sudah mencarinya ke mana-mana. Bertanya. Mengulang ingatan. Membongkar semua tempat yang mungkin.
Namun kalung itu tidak pernah ditemukan.
Kehilangan itu membuatnya menangis tujuh hari tujuh malam.
Karena kalung itu bukan sekadar perhiasan.
Itu satu-satunya peninggalan orang tuanya.
Tsunami di kota Flora telah merenggut segalanya—rumah, kenangan, dan masa kecil Willow bersama orang tuanya.
Ia memang bisa mencetak ulang gambar-gambar yang pernah mereka buat bersama.
Namun tetap saja…semuanya berubah.
Dan malam ini, di dalam apartemen yang sunyi, Willow berdiri terpaku dengan satu pikiran yang terus berputar di kepalanya—jika kalung itu benar-benar miliknya…maka masa lalunya belum selesai mengoyaknya.