Saat Willow Membuka Mata—
Ia tidak lagi di dalam air. Tapi dinginnya masih melekat di tulang, menggigilkan seluruh tubuhnya. Suara-suara samar berdesir di sekelilingnya, seperti angin yang membawa bisikan-bisikan hina.
Lalu, langit tampak berputar perlahan di atasnya—abu-abu pucat, tanpa cahaya.
Dan sebuah wajah muncul dalam pandangannya, menutupi langit yang suram itu.
Wajah yang terlalu familiar. Terlalu lama ia rindukan, sekaligus terlalu lama ia hindari karena rasa malu.
"Lowi."
Hanya satu panggilan itu. Suaranya serak, parau, dipenuhi oleh marah yang terpendam sedalam lautan, oleh rasa sakit yang sudah mengkristal, dan oleh cemas yang meledak-ledak. Suara itu seperti merobek selimut kebisingan di sekitarnya.
Tangan besar dan hangat—sangat hangat, bertolak belakang dengan dinginnya tubuh Willow—menggenggam tangannya yang masih menggigil. Genggamannya erat, kuat, seolah ingin memindahkan semua kehangatan dan kekuatannya melalui kulit yang basah itu.
"Sudah," bisik pria itu, suaranya tiba-tiba sangat lembut, namun getar emosi yang tertahan membuatnya bergetar. "Kamu sudah cukup terluka. Ayo, kita pulang."
Dan air mata Willow jatuh seketika. Bukan menetes, tapi jatuh deras, bercampur dengan sisa air danau di pipinya. Air mata yang selama ini ia tahan di balik ketegaran palsu, di balik senyuman penurut, di balik kepasrahan yang mematikan.
Air mata untuk pengkhianatan, untuk kesendirian, untuk semua hari di mana ia berharap seseorang—siapa saja—datang menyelamatkannya.
"Ro… Rowan?" suaranya kecil, pecah, penuh ketidakpercayaan. Seperti takut ini adalah halusinasi terakhir sebelum pingsan, atau mimpi indah yang kejam.
Pelukan hangat itu seperti sebuah suntikan senyawa yang membuatnya terus bertahan.
Rowan McRide—kakaknya. Wajahnya lebih tua, lebih keras, ada garis-garis kelelahan dan kekhawatiran yang tidak ada tiga tahun lalu. Tapi matanya… mata itu sama. Mata cokelat tua yang selalu melindungi, yang dulu marah saat ia memutuskan menikah dengan Caleb, yang akhirnya pergi dengan luka karena Willow memilih tidak mendengarkannya.
"Kakak di sini," jawab Rowan, dan suaranya tegas, seperti sumpah. Tangannya yang satu lagi dengan hati-hati menyibakkan rambut basah dari dahi Willow, gerakan yang penuh belaian yang sudah lama tak dirasakan. "Dan kali ini," bisiknya, mendekatkan dahi mereka hampir bersentuhan, "aku tidak akan pergi. Tidak akan membiarkanmu sendirian. Tidak akan membiarkan siapapun—siapa pun itu—menyakitimu lagi. Aku bersumpah, Lowi."
Di belakang Rowan, samar-samar Willow melihat Caleb berdiri kaku, wajahnya pucat bukan karena khawatir, tapi karena rencananya berantakan. Meisie masih terlihat lemah, tapi matanya memancarkan kekecewaan yang cepat ia tutupi dengan pelukan selimut.
Tapi Willow tidak peduli lagi.
Dia menarik napas dalam-dalam—napas pertama yang terasa bebas setelah bertahun-tahun—dan menutup mata, membiarkan dirinya sepenuhnya bersandar pada genggaman kakaknya.
Untuk pertama kalinya sejak lama, sejak tsunami masa kecilnya, sejak pernikahan yang menjadi penjara, sejak segala tipu daya dan pengkhianatan…
Ia merasa aman.
Dan dalam keamanan itu, luka-lukanya yang selama ini dibiarkan berdarah, akhirnya bisa mulai merasa sakit yang sebenarnya—sakit yang membuktikan bahwa ia masih hidup, dan siap untuk disembuhkan.
Udara di koridor rumah sakit terasa tegang, terpotong oleh desisan dingin sistem AC dan suara langkah cepat dari sepatu kulit mahal.
Rowan McRide baru saja memastikan adiknya, Willow, terbaring nyaman di ruangan VVIP. Sprei bersih, monitor dengan detak jantung yang mulai teratur, dan keheningan yang menenangkan. Tapi ketenangan itu langsung pecah.
Caleb Stirling mendobrak masuk ke area perawatan khusus, wajahnya merah oleh amarah yang tertahan. "Anda tidak bisa melakukan ini!" hardiknya, menuding Rowan yang sedang berdiri di depan pintu ruangan Willow.
Rowan membalikkan badan perlahan. Ekspresinya dingin, seperti batu granit yang telah terkikis oleh angin tapi tak pernah retak. "Tidak bisa melakukan apa, tepatnya?"
"Ruangan ini sudah dijadwalkan untuk Meisie Hutton! Dia butuh perawatan intensif setelah kejadian di danau—kejadian yang Willow sebabkan!" Caleb hampir berteriak, mencoba menegaskan dominasinya. "Willow tidak separah itu. Dia bisa dirawat di ruangan VIP biasa!"
Rowan tidak langsung menjawab. Dia mengamati Caleb dari ujung kepala sampai ujung kaki—sebuah tatapan penuh penghakiman yang membuat Caleb, untuk pertama kalinya, merasa kecil.
"Willow kami," ucap Rowan akhirnya, dengan tekanan berat pada kata 'kami', "selama hidupnya, selalu terbiasa mendapatkan yang terbaik. Hanya saja, dalam tiga tahun terakhir, dia memilih untuk menerima yang sisa-sisa." Suaranya rendah, namun setiap kata seperti palu godam. "Pilihan itu berakhir hari ini."
Caleb gemetar. Bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang disertai kebingungan.
Willow kami? Siapa 'kami' ini? Selama ini, dalam pikirannya, Willow adalah seorang yatim-piatu yang kesepian, tanpa tempat berpulang. Itu salah satu alasan mengapa dia merasa bisa mengendalikannya dengan mudah.
"Dua kali lipat," ucap Rowan tiba-tiba, memotong lamunan Caleb. "Aku bersedia membayar dua kali lipat dari tarif VVIP untuk ruangan ini. Dan jika rumah sakit masih menolak," matanya menyipit, "aku akan memastikan izin operasional tempat ini ditinjau ulang. Aku punya otoritas untuk itu."
Seorang direktur rumah sakit yang berkeringat dingin berdiri di belakang Caleb, hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka tahu siapa Rowan McRide. Pengaruhnya melampaui sekadar kekayaan; dia mengakar di institusi dan regulasi.
"Kau tidak bisa mengancam seperti itu!" Caleb membentak, tetapi suaranya kehilangan gayanya. Dia melihat dua pria kekar berkemeja rapi melangkah maju dari balik Rowan, posisinya santai namun waspada, tangan mereka terbuka di sisi tubuh. Itu adalah bahasa tubuh yang jelas: coba saja.
Di saat itulah, realitas yang selama ini diabaikan Caleb menghantamnya seperti truk.
Dia tidak pernah mengenal keluarga Willow.
Dia tidak pernah bertanya.
Dia menganggap itu tidak penting.
Willow baginya adalah kanvas kosong, yang bisa dia lukis sesuai keinginannya. Seorang pendamping yang patuh, yang latar belakangnya tidak relevan. Sekarang, ada seseorang—seorang lelaki dengan aura penguasa yang tak terbantahkan—berdiri di sini, menyebut Willow dengan penuh kepemilikan dan perlindungan. "Willow kami."
‘Selama ini…’ Caleb bergumam dalam hati, lebih kepada dirinya sendiri, suaranya tiba-tiba kehilangan semua amarah, hanya menyisakan sebuah lubang kosong yang menganga. ‘Dia... dari mana asalnya? Siapa keluarganya sebenarnya?’
Rowan menatap Caleb dengan senyuman dingin, penuh cibiran, muncul di sudut bibirnya. "Kamu jangan pernah mendekati Willow lagi, mulai hari ini HARAM bagimu mendekatinya, Tuan Stirling," katanya, sebelum memutar balik dan memasuki ruangan, meninggalkan Caleb sendirian di koridor yang tiba-tiba terasa sangat luas dan sangat hampa.
Pintu tertutup dengan lembut.
Caleb Stirling tetap berdiri di sana, dikelilingi oleh keheningan yang menjerumuskan. Untuk pertama kalinya, dalam pernikahan mereka yang penuh dengan kontrol dan manipulasi, Caleb dihadapkan pada sebuah kebenaran yang menakutkan:
Dia tidak pernah benar-benar mengenal istrinya. Dan ketidaktahuan itu mungkin adalah kesalahan terbesarnya.
Siapa Willow McRide sebenarnya? Dan seberapa luas pengaruh "keluarga Willow" yang selama ini dengan angkuh dia abaikan? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, bersama dengan rasa was-was yang mulai menggerogoti keyakinannya bahwa dirinya adalah orang paling berkuasa dalam kehidupan Willow.
Tampaknya, selama ini, dia hanya berjalan di pinggir tebing, tanpa menyadari jurang yang ada di sisi lain Willow.