Chapter 10

1074 Words
“Nona McRide.” Willow mengangkat wajahnya saat pria itu duduk di seberang meja kafe. Setelan jas rapi, map kulit di tangannya—pengacara Caleb. Dari caranya menarik kursi dan membuka map, Willow sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Ini adalah surat kesepakatan perceraian yang telah ditandatangani oleh Tuan Caleb Stirling,” ucapnya profesional. “Beliau menyatakan bahwa karena menurutnya Anda telah melakukan tindakan fatal yang membahayakan pihak ketiga, maka beliau menyetujui perceraian tanpa kewajiban tunjangan apa pun kepada Anda.” Willow mendengarkan tanpa mengedipkan mata. Ia mengambil dokumen itu, membacanya sekilas, lalu menutupnya kembali. “Bagus,” ucapnya singkat. Nada suaranya datar. Tidak bergetar. Tidak juga puas. Pengacara itu sempat terdiam, seolah menunggu reaksi lain—amarah, protes, atau setidaknya keberatan. Namun Willow hanya menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap keluar jendela kafe. Di dalam dadanya, sesuatu yang lama telah ia bunuh memang sudah mati. Tapi jejaknya masih ada. Ia pernah mencintai Caleb. Bertahun-tahun. Dengan cara yang bodoh dan terlalu setia. Dan berakhir seperti ini tetap saja menyakitkan, meski ia tidak lagi ingin kembali. Rasa tidak adil itu menggores pelan—tidak menghancurkan, tapi cukup dalam untuk meninggalkan bekas. Namun justru dari situlah Willow tahu satu hal: semakin Caleb menyakitinya, semakin kuat alasannya untuk benar-benar menghilang dari hidup pria itu. Ia menutup map dan mendorongnya kembali ke arah pengacara. “Saya titip satu hal,” katanya tenang. “Untuk diberikan kepada Tuan Stirling.” Ia mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya. Bersih. Tanpa nama. “Tapi,” Willow menambahkan, menatap pria itu lurus-lurus, “tolong berikan setelah sertifikat perceraian kami resmi terbit.” Pengacara itu menerima amplop tersebut, mengernyit ringan. “Boleh saya tahu isinya apa, Nona?” Willow tersenyum kecil. Senyum yang tidak menyimpan kemenangan. “Sesuatu yang akan membuat dia menyadari satu hal,” jawabnya pelan. “Tanpa saya harus menjelaskannya.” Di dalam amplop itu, tersimpan beberapa lembar foto. Foto Willow kecil, tersenyum canggung, mengenakan kalung berliontin lumba-lumba bermata hijau—dengan inisial LW terukir di bagian belakang. Foto Willow remaja, mengenakan gaun biru lembut. Foto itu diambil beberapa hari setelah tsunami—hari ketika ia kehilangan banyak hal, tapi tetap mengenakan kalung yang sama. Foto Willow berseragam SMA di hari pertamanya, liontin itu masih menggantung di lehernya. Dan terakhir—salinan surat perjanjian damai antara Rowan McRide dan orang tua Meisie. Bukti pembulian yang selama ini disembunyikan rapi. Dengan pikiran yang jernih, Caleb bisa menyimpulkan semuanya sendiri. Willow tidak berniat membuka mulut. “Kenapa harus menunggu sertifikat perceraian keluar?” tanya pengacara itu hati-hati. “Kalau sekarang pun, hasilnya sama saja, bukan?” Willow menggeleng pelan. “Tidak sama,” jawabnya tegas. “Kalau sekarang diberikan, hasilnya akan berbeda.” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Saya minta tolong, Pak.” Pengacara itu menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Baik, Nona.” Willow berdiri, meraih tasnya. Saat melangkah pergi dari kafe itu, langkahnya ringan. Bukan karena lega—melainkan karena akhirnya tidak ada lagi yang ia tunda. Caleb sudah menandatangani kesepakatan bercerai dan dia akan meninggalkan Herlington besok. Namun, sebelumnya dia akan menemui Nenek Margareth. Dia akan memberi tahu sendiri Nenek Margareth tentang perceraiannya. Kebenaran akan sampai pada Caleb. Bukan sebagai permintaan maaf. Bukan sebagai harapan untuk kembali. Karena, kata ‘harapan’ itu jelas tidak ada dalam pernikahan atau hubungan antara mereka kelak setelah bercerai. Melainkan sebagai fakta terakhir—yang akan menghantui pria itu jauh setelah Willow benar-benar pergi dari hidupnya. Willow tiba di kediaman Nenek Margareth menjelang sore. Rumah itu masih sama—terawat, tenang, dan penuh aroma teh yang menenangkan. Di tangannya, Willow membawa sebuah kotak besar yang dibungkus rapi. Pita krem melingkar di atasnya. Tea set dari giok putih. Hadiah yang ia pilih dengan hati-hati. “Nenek,” sapa Willow lembut saat pintu dibuka. Nenek Margareth tersenyum lebar, jelas terkejut. “Kamu datang tiba-tiba,” katanya, lalu menoleh ke belakang Willow. “Mana Caleb?” Willow masuk dan meletakkan kotak itu di atas meja. Ia lalu menggenggam tangan Nenek Margareth—erat, seolah mencari keberanian. “Nenek,” ucapnya pelan, “jangan terkejut. Dan aku harap Nenek bisa menerima keputusan aku dan Caleb… tentang pernikahan kami.” Nenek Margareth terdiam. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada amarah di sana. Hanya kesedihan yang sudah lama ia rasakan, mungkin bahkan sebelum Willow mengatakannya. “Aku mengerti,” katanya akhirnya. Suaranya bergetar. “Kebahagiaanmu yang paling penting. Meskipun aku menyayangimu… aku tidak boleh egois.” Willow langsung memeluknya. “Bocah bodoh itu,” gumam Nenek Margareth sambil membelai punggung Willow. “Benar-benar menyia-nyiakan gadis baik dan setia sepertimu.” Willow tidak menjawab. Ia hanya memeluk lebih erat. “Nenek,” katanya kemudian, melepaskan pelukan dan mendorong kotak hadiah itu ke arah neneknya, “aku berikan kado ulang tahunmu lebih awal. Selamat ulang tahun. Aku harap Nenek selalu sehat.” Nenek Margareth membuka bungkusnya perlahan. Saat melihat tea set giok putih itu, matanya melembut. “Kamu selalu tahu apa yang Nenek suka,” katanya lirih. Ia lalu menatap Willow lebih lama. “Kamu mau ke mana setelah ini? Meskipun kalian bercerai, Nenek yakin kamu masih bisa bekerja di perusahaan. Membesarkannya bersama.” Kalimat itu diucapkan dengan harapan. Mandat lima puluh persen saham itu memang ia berikan bukan semata soal bisnis—melainkan karena ia masih berharap Willow dan Caleb tetap terhubung. Tetap dekat. Mungkin… suatu hari kembali. Namun Willow menggeleng pelan. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat Nenek Margareth menangkap sesuatu yang tidak beres. “Jangan bilang…” suara neneknya menegang. “Bocah b******k itu tidak memberikan hakmu?” Willow menggeleng lagi. Kali ini lebih tegas. “Aku yang menolak, Nek,” jawabnya jujur. “Karena aku harus pergi dari kota ini.” “Kemana?” Suara Nenek Margareth terdengar patah. “Nek,” Willow tersenyum lembut, meski matanya ikut memanas. “Jangan menangis. Aku pasti akan datang lagi menemui Nenek setelah misiku selesai. Nenek ingin aku sukses, kan?” Nenek Margareth mengangguk pelan, air mata akhirnya jatuh. “Aku sayang Nenek,” lanjut Willow. “Selalu.” Ia memang menyayangi Nenek Margareth seperti neneknya sendiri. Bahkan mungkin lebih—karena perempuan tua itu memberinya rasa diterima yang tidak selalu ia dapatkan dalam pernikahannya. Di kepalanya, bayangan lain muncul. Neneknya di Kota Flora. Apa kabarnya sekarang? Willow belum berani mengabari Rowan. Belum berani memberi tahu neneknya bahwa ia berniat kembali. Terlalu banyak yang harus ia selesaikan lebih dulu. Untuk sekarang, cukup satu hal yang pasti: ia akan pergi dari Herlington. Dan kali ini—tanpa menoleh ke belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD