RANIA

2000 Words
Sesampainya di mansion, mereka turun dan masuk bersama. Mereka menarik koper mereka sendiri. Hingga sampai pada ruang tengah, Gilang berhenti, Rania yang ada di belakangnya juga ikut menghentikan langkahnya. "Kamu lihat kamar atas itu." Tunjuk Gilang ke salah satu kamar di lantai dua dengan pintu berwarna putih. "Hum" "Itu kamar kamu." Gilang akan melanjutkan langkahnya jika Rania tidak memanggilnya, "Lalu.. dimana kamar kak Gilang?" "Pintu berwarna coklat." "Yang man-" "Itu" Gilang menunjuk pintu berwarna coklat. Kamar Gilang berjarak 10 meter dari kamar yang ia tempati. Masih sama sama di lantai dua. "Baiklah." Setelahnya Gilang berjalan dan menutup pintu ketika ia sudah berada di dalam kamarnya. Rania juga melakukan hal yang sama. "Astaga punggungku sakit sekali." Rania merenggangkan tubuhnya. Suara bak patahan tulang membuat Rania langsung merebahkan dirinya di atas kasur empuk itu. Sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini. *** Pukul 22:00 WIB Gilang turun ke arah dapur dan membuka kulkas lalu mengeluarkan beberapa minuman bir dari sana. Meneguk 4 hingga 5 botol dan ia sepenuhnya tak sadar. Tepat ketika ia menaruh botol kelima, Rania ada di dapur. "Astaga!" Kaget Rania melihat Gilang ditemani dengan minuman beralkohol itu. "R-Ran..." "Kak Gilang mabuk?" Gilang bangkit dan berjalan sempoyongan ke arah Rania. Rania sedikit takut ketika Gilang berjalan ke arahnya. "Ka huk mu.. hehe" ucap Gilang dengan cegukan dan tersenyum diakhir. "K-Kak?" "Kau huk Rania Larasati huk kan? Ah ya, huk Rania Larasati?" Dengan ragu Rania mengangguk. "Kenapa? Huk kenapa kamu tiba-tiba huk hadir menjadi istriku? Huk Hm? Kenapa? Huk Hahaha" "..Kak.. aku antar ke ka-" Gilang mendekat ke arah Rania dan dengan cepat menubrukkan punggung mungil itu ke tembok. Menciptakan ringisan kecil dari Rania. Sedangkan sang pria dominan itu mendekatkan wajahnya ke wajah si manis. "Kamu senang huh!?" Teriakan Gilang tepat didepan wajah Rania membuat Rania sedikit meringis takut karena suara itu lebih keras. Tidak mempedulikan itu, Gilang mencium kasar bibir Rania. Kedua tangannya menahan tangan Rania di antara kepala si manis. Mulai dari mengulum dan mengigit. Menciptakan bengkak dan itu semakin membuat Gilang gila. Bahkan kini hisapan di bibir Rania di lakukannya. Dengan nakal Gilang mencium dan menyesap leher putih Rania. Mulai menggigit dan menjilati area sensitif itu. Hingga sepenuhnya Rania merasa tubuhnya lemas. Dengan bridal style Gilang membawa Rania ke kamar milik Gilang sendiri. Bahkan tanpa menghilangkan acara menjelajahi leher sang manis. Kembali menurunkan Rania lalu melepaskan semua pakaian yang ada di tubuh mereka. Itu semua Gilang lakukan. Sedangkan kedua tangan Rania tanpa sadar memeluk erat leher yang lebih tua. "s**t!" u*****n kecil dari Gilang kemudian dengan kasar ia meniduri Rania. Masih setengah sadar, Rania merasakan sesuatu dibagian bawahnya. Seperti sesuatu yang panjang, keras, dan entah seberapa besar seakan menusuk lubangnya. Ia membelalakkan kedua matanya kala ia dan pria itu sepenuhnya tanpa pakaian. "Ka-Kak.. Kakak ngapain." Gilang sedikit menjauhkan kepalanya dan memandang Rania. Ia mengecup pelan keningnya dan kembali b******u panas dengan Rania. Tanpa persiapan dari Rania, milik Gilang menerobos masuk ke dalam. Mencoba mendorong dan langsung menemukan titik nikmat Rania. "Hiks.. K-Kak.. sa-sakit hiks." "Ststst diam." Suara rendah dengan geraman dari Gilang menbuat Rania memanas. "Kak hiks.. pelan pelan hiks." Seolah tidak mendengarkan apa yang istrinya katakan, ia justru mendorong miliknya semakain kasar dan dalam. Tentu tempo yang ia pilih adalah cepat. Tubuh Rania tersentak dan bergetar ketika puncaknya datang. Bahkan ia menutup matanya merasakan sensasi aneh di dirinya sendiri. "Diam!" Keempat kalinya Rania mengeluarkan cairannya. Namun pria yang sibuk mendorong itu belum mencapai puncaknya sama sekali. Desahan lega dari Rania karena ia merasakan hangat di dalam. Jika kalian fikir itu berakhir maka tinggalkan fikiran itu, sama halnya Rania. Ia kira Gilang akan berhenti. Namun tidak. Pria itu menghela nafas panjang dan menghentakan lagi miliknya ke dalam lubang basah Rania. Kemudian mendongak merasakan sensasi nikmat dan hangat di dalam sana. "Ka-Kak hiks udah." "Sekali... Lagi" "Kak sakit hiks" Setelah Gilang puas bermain hingga pukul 4 pagi mereka baru berhenti. Dengan Gilang yang mendekap Rania, dan Rania yang menetralkan nafasnya. Permainan gila mereka berakhir dengan manis. "Tidurlah." Perintah Gilang yang langsung di lakukan oleh Rania. *** Keesokan paginya Rania terbangun dengan dirinya sendiri. Tidak ada Gilang di sampingnya. Dan ia berada di kamarnya sendiri? "Apa aku hanya bermimpi?" Ia meringis dan menahan sakit di bagian bawahnya. Jika kemarin malam adalah mimpi lalu kenapa sakit itu terasa. Sekuat tenaga ia bangkit dan melihat keadaan tubuhnya yang memakai pakian lengkap seperti kemarin malam. "Aish itu mimpi atau bukan?" "Dah Pak supir!" Dea melambaikan tangannya melihat mobil yang mengantarkannya tadi menjauh. Ia mengeret dua koper yang ukurannya lumayan besar dan berat memasuki pintu utama mansion dengan begitu saja. Di sambut oleh seorang wanita paruh baya. "Bibi? Aku kira Bibi pergi, ternyata Bibi pindah disini?" "Masuklah nona" "Aish Bibi, panggil Dea saja" "Baiklah, ayo masuk" Melihat interior yang menakjubkan dengan lampu emas membuat rumah itu sangat megah. Dea meletakkan dua kopernya begitu saja dan menuju meja makan. Di sana ada Kakaknya yang fokus pada handphonenya. "Kakak!" Gilang tersentak kecil lalu menoleh ke belakang. "Dea? Kenapa tidak mengabari Kakak dulu hmm?" Dea memeluk Gilang lalu duduk di sampingnya. "Kata Papa, jangan menganggu Kak Gilang dulu dan oh ya? Dimana Ra-Kak Rania?" "Dea?" Rania dengan tertatih berjalan menuju ke arah Kakak Adik itu. "Kak Rania!" Dea dengan senang memeluk Kakak iparnya itu. "Sshhh" Desis Rania ketika pelukan Dea tidak sengaja membuat Rania mundur beberapa langkah. "Kak? Kenapa? Ada yang sakit?" Rania menggelengkan kepalanya dan berkata 'tak apa apa' padahal sebenarnya ia merasakan perih. Setelah duduk dan sarapan mereka mulai makan. "Maaf Kak, aku bangun terlalu siang. Lain kali aku tidak akan melakukan ini lagi" "Hm" Sarapan mereka sudah berakhir dan kini banyak aktivitas yang menunggu. Untuk kamar Dea, ada tepat di sebelah kamar Rania. "Kalian kan udah nikah, udah sah jadi suami istri. Kenapa Kak Gilang dan Kak Rania nggak tidur satu kamar seperti Mama dan Papa?" "I-itu karena.. em.." "Dea kamu istirahat saja, kamu pasti capek kan" Setelahnya Gilang meninggalkan Dea yang terheran. "Kak kenapa-" "Kak Dea-" "Dea saja Kak Rania!" "A-ah ya.. Dea kamu istirahat saja. Aku akan membersihkan rumah ini" "Um, baiklah Kak" Pintu kamar itu tertutup dan Rania bernafas lega. Ia tidak perlu menjawab pertanyaan yang bahkan ia saja tidak tau jawabannya. Rania menuruni tangga dan segera menuju dapur. Melihat wastafel cuci piring penuh, ia dengan senang hati membersihkannya. Setelah selesai ia menyapu seluruh rumah dan mengepelnya. Hingga pukul 12:10 WIB ia tersadar. Sekarang Rania bingung. Apa yang akan ia masak. Sedangkan hanya beberapa menu yang ia kuasai. "Apa aku bertanya pada Dea saja?" Dengan pasti ia kembali memuju kamar adik iparnya itu. Mengetuk pintu dan memasukinya saat pemilik kamar mengizinkan. "Hai Kak Rania, ada apa?" Tanya Dea menyingkirkan handphone lalu memusatkan pandangannya ke Rania. "Ini sudah jam makan siang, sebaiknya.. apa yang aku masak?" "Em.. aku suka semua, aku gak pilih pilih makanan kok!. Kalau untuk Kak Gilang, aku tidak mengetahui apa yang biasa ia makan" "Ah.. baiklah. Aku akan memasak sebentar. Aku akan memanggil kamu ketika semua makanannya sudah siap" "Oke Kak" Rania tersenyum lalu tujuannya adalah kamar sang suami. Dari pintunya yang sedikit terbuka ia bisa melihat jika Gilang tengah fokus pada benda canggih di pangkuannya. Tok tok tok "Kak Gilang?" Pemilik nama mengangkat wajahnya dan melihat bertanya pada Rania. Kacamata tipis itu bertengger di hidung mancungnya. "Em.. ini sudah waktunya makan siang. Kak Gilang ingin makan apa Kak? Aku akan memasaknya" "Tidak perlu" "Tapi-" "Aku terbiasa tidak makan siang" Setelahnya pria itu kembali fokus ke pekerjaannya. Sedangkan Rania menghela nafas pasrah dan kembali menutup pintu. Berjalan menjauh dari kamar Gilang dan menuju dapur. "Apa aku tanya mama saja? Kira kira apa makanan kesukaan Kak Gilang?" Ia mengeluarkan handphone yang berada di sakunya. Hendak menelfon mama namun wanita yang melahirkan suaminya itu sudah terlebih dulu menelfon. "Selamat siang menantu mama" "Siang mama. Ada apa?" "Entah firasat mama, atau memang benar. Kamu akan menghubungi mama bukan?" "Eh? Iya mama. Sebenarnya.." "Apa sayang?" "Rania ingin memasak makanan untuk makan siang. Dea sudah mengatakan ia akan makan apa saja menu untuknya. Tapi Kak Gilang.. ia berkata jika tidak akan makan" "...kalau begitu biarkan saja Gilang tidak makan" "Tapi mama, bagaimana jika ia kelaparan lalu sakit?" "Kau sangat perhatian padanya ya?" "B-bukan itu em.." "Baiklah baiklah mama paham. Dulu waktu kecil Gilang suka sup kepala salmon. Coba saja kau buatkan itu untuknya" "Sup kepala salmon? Aku akan membuatnya mama" "Itu lebih baik. Tapi, jika kau ingin memikatnya buatlah seperti dulu mama membuatnya" "Bagaimana caranya mama?" "Ada stock ikan salmon?" "Ada" "Ada daun bawang?" "Eh? A-ada" "Kau memiliki jahe dan daun jeruk nipis?" "Ada, tapi untuk apa mama?" "Untuk membuat sup kepala salmon. Jadi haluskan semua bahan itu lalu balurkan di semua bagian kepala salmon" "B-baiklah" "Setelah itu masaklah kepala ikan salmon seperti kamu memasak sup pada umumnya" "Baiklah mama" "Kalau begitu segera masak, mama gak sabar tunggu bagaimana reaksi Gilang nanti. Nanti telefon mama lagi oke?" "Iya mama" Telefon terputus dari mama. Istri manis itu menghela nafas panjang lalu bersiap memasak makan siang. Menaruh handphone di atas meja makan lalu memakai apron. "Ayo kita mulai" Ia melakukan segalanya dengan rapi. Sangat tertata. Bahkan ada noda sedikit ia langsung bersihkan dengan lap. Memasak memang salah satu kegemarannya. Setelah menunggu kurang lebih 40 menit, semua menu sudah tersaji. Setelah membereskan beberapa barang, ia melepas apron itu dan menyampirkannya di sebuah gantungan. Merapikan penampilan lalu memanggil Dea dan Gilang. Saat menuju ke lantai dua, ia bertemu dengan Dea. Rania memberitahukannya untuk segera menuju meja makan dan dilaksanakan semangat dari adik iparnya itu. Hanya tinggal suaminya saja. Setelah sampai di kamar yang sama dengannya lagi lagi pemandangan itu yang ada di depannya. Gilang dengan kaca matanya duduk bersandar pada headboard kasur dan memangku sebuah laptop. "Kak?" "Apa?" "Em.. aku sudah memasak-" "Aku tidak makan" Gilang sama sekali tidak melihat ke arah Rania, "Kak setidaknya makanlah sesuatu" "Tidak" "Bagaimana jika nanti Kakak sakit?" "Aku bukan anak kecil. Aku bisa mengurus diriku sendiri" "Bukan itu Kak, maksudku-" "Aku tidak makan" Gilang memandang Rania tajam dan setiap kata yang terucap terselip penekanan. "Kak-" "BERAPA KALI AKU HARUS MENGULAG KATA KATAKU RANIA LARASATI!? AKU TIDAK MAKAN!!" "..." "AKU! TIDAK! MAKAN!" Setelahnya keadaan kembali hening. Meski Rania sekarang sangat takut tapi ia memilih untuk tetap tidak meninggalkan kamar dan Gilang yang kembali fokus mengerjakan pekerjaannya. Bahkan terlihat pria itu tengah mengatur nafasnya karena terlampau emosi. "Pergilah" Rania pasrah dan mengangguk. Kemudian ia menutup pintu dan berjalan lesu menuju meja makan. Sampai di sana Dea sudah menunggunya. "Kak! Eh? Loh kak Gilang mana? Kak Gilang tidak makan?" Rania mengulas senyum tipis. Ia mendudukkan dirinya di samping Dea. "Ia tidak ingin makan" "Kenapa begitu? ini kan sudah waktunya makan siang" "Dia.. hanya tak ingin makan" Dea mengerutkan keningnya tak paham. Kemudian ia berdiri dari kursi dan menuju ke kamar kakaknya. Menghiraukan teriakan Rania untuk menghalaunya. "Kak-" "Apa!?" Dea tersentak kecil. Ia datang dengan senyum dan mood baik. Tapi ketika ia mendengar bentakan dari sang Kakak, semua hal yang ia siapkan hancur. "Dea?" "K-Kak.. ayo makan" dengan terbata Dea mengajak Gilang makan. "Maafin kakak Dea, Kakak tidak bermaksud membentak kamu" "Um" Dea menundukkan kepalanya. Gilang menghela nafas pelan lalu bangkit dari kasurnya. Berjalan menuju Dea lalu bertanya. "Ada apa?" "Kak, ayo makan. Dea sudah lapar" "Tapi-" "Jika Kak Gilang tidak makan maka Dea juga tidak makan. Biarin aja Dea kelaparan." Gilang mengulum bibirnya kemudian mengajak Dea ke meja makan. Membuat adiknya itu bersorak senang. Rania yang menunggu di meja makan terkejut ketika sang suami dengan adik iparnya datang. Ia tidak mengira pengaruh Dea terhadap Gilang sebesar itu. "Ayo makan!" Sorak Dea ketika ketiga orang itu sudah duduk di meja makan. Rania sedikit was was melihat Gilang mencicipi sup kepala salmon yang ia buat. Setelah mencicipi sedikit kuah sup itu, Gilang terdiam. Membuat Rania semakin khawatir, apa masakannya tidak enak ya? apa rasa masakannya seburuk itu?. "Kau membuat ini sendiri?" Tanya Gilang pelan sambil melirik ke arah Rania. "Iya Kak. Kenapa? Apa.. rasanya tidak enak?" "..ini enak" Rania tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Ia sedikit merona hanya dengan pujian sederhana itu. Bahkan ia semakin senang ketika Dea mengatakan bahwa masakannya adalah yang terbaik. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD