Kebersamaan Dengan Mia

1207 Words
Azdhan tercengang, meliriknya tampak sedikit ragu-ragu, tetapi dengan cepat ia pun mengangguk. Mia berjalan maju beberapa langkah, mengetuk pintu seraya berkata kepada anak kecil yang ada di dalam kamarnya. "Sayang, nasi sayur sudah siap, jika kamu tidak makan secepatnya, nasi dengan sayurnya akan dingin, kamu mau kan keluar untuk makan?" Ada suara pergerakan dari dalam kamar, tetapi pintunya tetap tertutup. Sehingga Mia harus berkata lagi dan lagi. "Lihatlah, aku sudah bekerja keras sepanjang hari, dan aku benar-benar lapar, bisakah kamu keluar dan makan bersamaku? Kalau tidak, tantemu ini akan sakit perut nanti. Tante harus minum obat, lalu kalau sakit tante tidak juga sembuh, maka tante harus pergi ke dokter untuk mendapatkan perawatan. Sangat menyedihkan sekali menjadi aku. Sangat malang." Tidak lagi terdengar suara dari dalam, sehingga akhirnya secara tiba-tiba pintu kamar pun terbuka, memperlihatkan kepal kecil dengan wajah nan imut itu berdiri di balik pintu. Hal itu jelas membuat Azdhan terkejut mengingat kebiasaan Rafka, kalau sedang marah, butuh waktu satu minggu untuk membuat ia berhenti marah. Bahkan, mengerahkan satu keluarga untuk membujuk seorang Rafka, akan dirasa percuma. Sedangkan oleh Mia, hanya dengan dua kalimat saja, sudah cukup untuk dia berhasil membujuk Tuan Muda Rafka. Tuan Azdhan tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap kagum wanita kecil di sampingnya. Mia tidak sadar kalau saat ini ia sedang dipandang oleh seorang Presiden Direktur Azdhan, dia lebih tertarik untuk memeluk Rafka dengan senang hati seraya berkata, "Tuan Muda Rafka yang sangat menggemaskan, ayo kita pergi makan, tante sangat lapar," ajak Mia tanpa melepaskan pelukannya. Anak kecil itu mengangguk, bahkan ia sama sekali tidak melihat ayahnya, lalu pergi menuju meja makan bersama dengan Mia, duduk kembali di kursi tempat semula, siap untuk menyantap semua makanan yang tersedia. Azdhan tidak berhenti menatap kagum ke arah wanita itu. Ia masih berdiri di depan pintu kamarnya, lalu Mia pun memanggil Azdhan seraya melambaikan tangan. "Apakah Tuan Azdhan sudah makan? kalau belum, sini makan bersama kami!" ajak Mia sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Penawaran iseng itu tidak menyangka akan membuat Tuan Azdhan menggguk setuju, lalu ia berkata, "Oke. Aku akan bergabung, tidak masalah." Mia tercengang. Ia tidak menyangka seorang Azdhan Zakhair Athar bersedia makan bersamanya. Beruntung tadi dia memasak makanannya sedikit lebih banyak, sehingga ia tidak harus takut akan kekurangan lauk pauknya. Azdhan mendudukkan diri di kursi depan putranya, lalu Mia pun bangkit dari duduknya hendak mengambil mangkuk juga sendok makan untuk Tuan Azdhan. Ia meletakkan semuanya di depan pria itu seraya berkata, "Jika Anda tidak terbiasa makan di tempat kumuh seperti ini, Anda bisa pergi ke restoran!" ujar Mia seraya menuangkan nasi ke atas piringnya. Azdhan yang begitu tergoda dengan dengan masakan Mia, langsung mengambil sosis bakar dengan dituangkan sedikit mayonaise di atasnya, lalu menggigit sosis tersebut dan berkata. "Wow, saya tidak menyangka sosis ini terasa sangat enak." Mia menarik napas lega setelah Azdhan memberikan pujian atas sosis yang baru saja ia masak, lalu kembali duduk sedikit malu-malu. Terlebih, saat ini ia dihadapkan langsung dengan pria tampan nan mempesona di depan matanya. Ini baru pertama kalinya Mia bertemu dengan Tuan Azdhan pemilik perusahaan MZ Corporation dan dalam keadaan seperti ini Mia benar-benar merasa canggung. Beruntung di sana bukan hanya ada mereka berdua, kehadiran Rafka diantara mereka cukup menguntungkan agar suasana tidak terlalu serius. Makan malam berlangsung dengan khidmat. Mia tidak segan menyuapi Rafka hingga nasi di atas piringnya habis tanpa sisa. Mia sangat telaten, sangat menjaga kebersihan, dia mengusap sudut bibir Rafka dengan tisyu, lalu makan malam pun berakhir. Setelah selesai makan, Mia membersihkan meja, menata kembali makanan yang masih ada. Setelah itu Mia berencana akan membuatkan minuman hangat untuk mereka nikmati. Dalam hati ia berkata, "Akan aku segera buatkan minuma agar mereka segera pulang. Aku merasa canggung kalau mereka terus berada di sini," batin Mia. Seakan Tuan Azdhan tahu apa yang ada di dalam pikiran Mia, hingga akhirnya Azdhan pun berpamitan. "Terima kasih, Nona Mia. Untuk makan malamnya, ini sudah larut, aku bersama Rafka harus segera pulang." Sedikit aneh, tetapi diam-diam ia menarik napas lega, setelah Azdhan memutuskan untuk pulang, lalu dengan cepat Mia pun membalas ucapan terima kasih yang dolontarkam. "Sama-sama, Tuan. Ini hanya jamuan makan malam biasa, bukan ala restoran ternama." Mendengar ayahnya berpamitan, Rafka memasang wajah cemas, dia yang tidak mau terpisah dari Mia dan langsung memeluk Mia yang hendak berdiri dengan meraih lengannya. "Aku tidak ingin pulang! aku ingin tetap berada di sini bersama dengan Tante Mia, Ayah," pinta Rafka dengan merengek. Tuan Azdhan mengerutkan keningnya atas permintaan Rafka yang aneh. "Jangan merepotkan orang lain, Rafka. Kamu sudah bersama Tante dari pagi sampai malam. Kamu sudah mengganggu orang lain sepanjang hari, Nak." Coba ia bicara dengan sangat lembut, berharap dapat diterima oleh Rafka tanpa marah-marah. Namun, hal mengejutkan saat Rafka berkata, "Aku menyukai Tante Mia, aku ingin tidur di sini bersama dengan Tante Mia." Ia mengatakannya sangat lantang. Memegang tangannya lebih erat. Sejak awal Mia sudah merasa terharu disukai oleh anak kecil seperti Rafka. Bantuan yang ia berikan kepadanya membuat Mia harus bertemia kasih dengan membawa Rafka ke rumahnya. Akan tetapi, ia tidak menyangka kalau anak kecil itu juga ingin bermalam di rumahnya. Tuan Azdhan terlihat kelelahan sekaligus bingung sudah kehabisan akal atas penolakan putranya untuk pulang. Mia dengan cepat membujuknya. "Tuan muda kecil, kamu harus pulang. Kasian kakak dan nenek akan khawatir." Rafka langsung menolak keras perintah Mia. "Tidak!" Ia mendongakan kepalanya ke atas, matanya merah menyala. "Pokoknya aku ingin tidur dengan Tante." Seakan tidak ada yang mengerti dengan keinginannya, Rafka pun menangisi, membuat Mia merasa bersalah. Dia tidak tega kalau harus mengusir anak kecil ini. Hatinya seakan sudah terikat. Semua bujuk rayu sudah Azdhan utarakan, tetapi Rafka tetap menolaknya dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, hanya bisa memandang Tuan Azdhan tanpa sadar. "Ayolah! Pekerjaanku banyak. Bukan hanya menjaga dirimu. Aku punya banyak cabang di negeri ini untuk aku urus," kata Azdhan masih duduk di kursi meja makan. Ia tidak menyangka kalau Rafka akan sangat bergantung pada wanita yang baru ia kenal dalam kurun waktu satu hari. Azdhan tidak mungkin meninggalkan putanya kepada orang asing begitu saja, ia terus mengajak Rafka untuk pulang. "Ayolah, Nak. Ikut pulang bersamaku!" Merasa kasihan melihat Azdhan, akhirnya Mia pun ikut bicara. "Tuan muda Rafka, untuk malam ini Rafka pulang dulu, ya. Besok-besok lagi kalau Rafka ingin mengunjungi tante, boleh kok. Tante tidak akan melarang. Kalau Rafka tidur di sini, tante benar-benar tidak memiliki tempat yang layak untuk Rafka tidur. Jadi, untuk malam ini pulang dengan ayahmu dulu, ya!" bujuk Mia, berharap anak kecil itu mengerti dan tidak mempersulit ayahnya yang terlihat gusar. Rafka menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia tetap tidak ingin pulang, tidak ingin jauh-jauh dari Mia. Telah habis kesabaran seorang Azdhan Zakhair, tidak bisa hanya dengan bujuk rayu. Azdhan melangkah maju, lalu mengangkat tubuh kecil itu tanpa persetujuan seraya berkata. "Tidak seharusnya kamu semarah ini. Semua ada batasannya, Rafka. Ayah tidak bisa terus memanjakan kamu!" Dengan tegas Azdhan mengatakan itu kepada putranya. Rafka tersendak setelah mendapatkan teguran keras dari sang ayah. Ia menatap ayahnya dengan keras kepala, tidak ingin lagi Setelah berhasil menggendong putranya, Azdhan pun berpamitan kepada Mia. "Terima kasih untuk malam ini, maaf kalau kami sudah merepotkan Anda. Kami permisi dulu." Ada perasaan aneh saat Tuan Azdhan mengajak putranya pergi. Ingin menghalanginya, tetapi ia tidak memiliki kuasa. Sehingga Mia hanya bisa diam ketika anak kecil itu digendong ayahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD