BAB V. KING'S LANDING

823 Words
Tiba di King’s Landing Beberapa hari kemudian, Serenya tiba di kota ibukota, menyamar sebagai pedagang rempah dari Lys. Jalanan kotor dan bau Blackwater Bay menusuk hidung, teriakan penjual bercampur tangisan bayi. Malam itu, ia dibawa ke Red Keep. Lorong-lorong batu penuh obor yang menyorot bayangan panjang, menari seperti hantu yang menunggu darah segar. Audiensi dengan Aerys dan Analisa Varys Iron Throne berdiri seperti monster dari besi, gigi-giginya siap mencabik siapa saja yang berani menatapnya. Raja Aerys duduk di atasnya, rambutnya kusut, jubah lusuh, jemarinya berdarah akibat mencakar besi. Matanya liar, bibirnya berbusa tipis, dan setiap napasnya terdengar seperti rintihan api. Di sampingnya, Varys berdiri tenang. Wajah bulatnya menipu—senyum samar menyembunyikan pikiran yang lebih tajam daripada pedang. Serenya berlutut, menyingkap tudungnya. “Yang Mulia. Reach menimbun gandum, besi, dan emas. Mereka menyiapkan sesuatu—bukan untuk Anda, tapi untuk masa depan yang tidak akan pernah Anda duduki.” Aerys tertawa parau, lalu menjerit seperti naga terluka. “Pengkhianat! Mawar hijau itu ingin menusuk nagaku! Apa lagi yang kau lihat, mawar hitamku?” Serenya menunduk, suaranya dingin seperti malam tanpa bulan. “Ada jalur rahasia ke Essos. Emas mengalir tanpa nama. Tapi untuk merobek akarnya… aku harus masuk ke kebun Reach sendiri.” Varys melangkah, tenang, tapi kata-katanya berlapis racun tersembunyi. “Jika Reach benar menimbun persediaan, mereka menyiapkan senjata lebih berbahaya daripada pedang: kelaparan. Kelaparan menundukkan kota lebih cepat daripada api naga. Dan jika Reach menguasai gandum… mereka menentukan siapa yang hidup, siapa yang mati.” Matanya menatap Serenya, penuh pengakuan sekaligus perhitungan. “Lady Serenya punya keahlian menusuk jantung kebun Reach. Tapi ia butuh mata tambahan. Izinkan saya menebarkan burung kecil di Highgarden dan Harrenhal—agar tidak ada rahasia yang lolos.” Aerys menoleh, matanya berkilat gila, darah menetes dari jemari yang mencengkeram Iron Throne. “Ya… burung kecil dan mawar beracun. Bersama-sama, kalian akan mencabut akar Reach. Serenya—gunakan wajahmu, suaramu, tubuhmu bila perlu. Dan bila mereka bungkam… robek tenggorokan mereka. Aku ingin rahasia Reach, meski harus diseret keluar dengan kuku berdarahku!” Serenya melangkah, meraih tangan Aerys yang berlumuran darah, mencium jemarinya tanpa gentar. “Mawar beracun akan mekar di kebun Reach, Yang Mulia. Dan bila mereka menyentuhnya… durinya akan menembus jantung mereka.” Varys menunduk, senyumnya tetap tenang, tapi di dalam hatinya ia tahu: Serenya bukan sekadar racun di kebun Reach. Ia adalah racun yang bisa menetes ke mana saja, bahkan ke dalam istana itu sendiri. Kedatangan Kapal Api Liar Malam di Blackwater Bay Malam itu, kabut tebal menyelimuti King’s Landing. Hanya suara air yang membentur dermaga yang memecah keheningan, bergabung dengan gelegar ombak pelabuhan yang menampar kayu tua. Lampu-lampu kota redup, hampir tak terlihat dari sisi sungai, sementara penjaga biasa telah pulang, mengira malam itu aman.Kabut pekat merayap di atas permukaan Blackwater Bay. Ombak beriak pelan, menelan cahaya bulan yang pucat. Dari kegelapan, muncullah kapal ramping dengan layar hitam. Haluannya terukir kepala naga, gigi besi mencuat ke depan, sementara di buritan bendera Targaryen digulung, tidak berkibar—seolah naga itu memilih tidur dalam senyap. Tidak ada teriakan awak kapal, tidak ada lonceng. Dayung bergerak lambat, hanya derit kayu yang terdengar. Kapal itu bukan untuk kebanggaan, tapi untuk rahasia. Muatan Terlarang Di perut kapal, puluhan tong hijau dipasangi segel lilin hitam dan rantai besi. Dari celah-celahnya, cahaya hijau samar merembes, berdenyut seperti jantung monster yang sedang tidur. Bau belerang dan resin meresap ke udara, menusuk hidung setiap awak kapal hingga mereka menahan muntah. Mereka tahu: sekali percikan, seluruh kapal akan jadi matahari hijau di tengah laut. Pelabuhan Rahasia Red Keep Kapal itu tidak menuju dermaga utama, melainkan berbelok ke arah tebing batu di bawah Red Keep. Di sana, gua gelap menanti—sebuah pelabuhan rahasia yang hanya dikenal oleh para alkemis dan Raja sendiri. Obor kecil menyala di celah bebatuan, tanda bahwa jalur aman. Dengan hati-hati, kapal bermuatan naga hijau itu masuk ke kegelapan. Penyambutan Di dermaga batu sempit, pria berjubah hitam sudah menunggu. Medali kecil berbentuk matahari hijau menggantung di d**a mereka: Guild of Alchemists. Seorang master tua mengangkat lentera, suaranya bergetar penuh gairah. “Anak-anak naga kembali ke sarang.” Tong demi tong dipindahkan ke gerobak besi, dijaga empat orang tiap satu muatan. Rantai bergemerincing, obor berkedip, cahaya hijau menari di dinding gua. Sang Raja dan Bayangan Dari balkon batu di atas, Raja Aerys II berdiri. Rambutnya kusut, bibir pecah-pecah, mata berkilat gila. Jemarinya berdarah, tapi ia menepuk pagar besi seakan menyambut bayi yang baru lahir. “Cantik… naga terakhirku. Api hijau yang tak bisa dipadamkan air. Jika mereka melawan, aku akan memberi mereka kota yang terbakar.” Varys berdiri di dekatnya, kepala tertunduk, senyumnya tipis. Dalam hati ia menghitung, bukan memuja: berapa tong? berapa banyak yang cukup untuk membakar ibukota? Di lorong gelap, Serenya menyaksikan dalam diam. Tudung hitam menutupi wajahnya, tapi matanya memantulkan cahaya hijau. “Naga hijau di bawah kota… dan mawar beracun di Reach. Raja ini menanam racun di dua kebun. Pertanyaannya: racun mana yang akan membunuh lebih dulu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD