DUA

984 Words
Lelaki itu membuka pintu mobil dan mendudukan Lea di kursi penumpang, memakaikan seat belt sebelum menutup pintu. Lea yang mendadak lemas, seolah tidak lagi punya kuasa atas tubuhnya sendiri. Dia hanya menatap lelaki itu memutari bagian depan mobil, dan duduk di balik kemudi. Membawa Lea pergi dari istri Pak Toni yang sudah sadar dari terkejutnya, kemudian kembali berteriak memaki. Cukup lama mereka hanya diam, di jalanan yang cukup merayap. Sampai Lea memecah keheningan. Kejadian menghebohkan tadi bahkan langsung terlupakan. Otaknya terlalu sibuk dengan semburan kenangan menyakitkan. “Aku tidak akan berterimakasih.” Ujarnya sedikit ketus. “Aku tidak butuh.” Balas lelaki itu tidak kalah dingin. Lea membuang pandangannya ke luar jendela. Brian Dewangga. Lelaki yang paling berperan dalam pernikahannya yang menyakitkan. Lelaki yang menipu Lea habis-habisan. Kakak Iparnya. Mantan Kakak Iparnya. “Bagaimana kabarmu?” tanya Brian setelah cukup lama mereka membisu lagi. Hanya basa-basi sepertinya. “Baik.” “Kurasa tidak terlalu.” Lea memejamkan mata. Brian tidak pernah berubah. Dia tau segalanya tapi berpura-pura tidak tau apa-apa. Dia tau bagaimana mengendalikan orang-orang sekitarnya, termasuk Lea. Dulu. Waktu dia harus menikah dengan Raka. “Apa yang membawa kamu kehadapanku, setelah tiga tahun kita saling menghindari?” tanya Lea, merasa kehadiran Brian di depan kantornya bukan kebetulan semata. “Tidak ada.” Tidak mungkin! Batin Lea. Tapi dia malas berdebat lagi. Jadi mereka hanya diam sepanjang sisa perjalanan. Tapi justru diam membuat Lea lelah. Atau aura lelaki itu yang dominan yang membuatnya lelah? “Dengan uang yang aku kirim setiap bulan, bukannya tidak perlu lagi kamu bekerja? Cukup dengan menjaga Sean di rumah.” Lea tidak menjawab. Lebih tepatnya malas membalas. Uang itu entah sudah ada berapa di ATM yang tidak pernah Lea sentuh. Dia tidak akan memakainya. Akan jadi kesenangannya sendiri jika dia bisa menebar uang itu di depan rumah Brian suatu saat. Hanya saja, sekarang dia akan terus menyimpannya untuk Sean. Dia harus realistis. Dia tidak tau kedepannya akan bagaimana. “Turunkan aku di gang saja.” Pintanya yang langsung disetujui Brian dengan menepikan kendaraan. Lea turun. Tanpa ada kata lagi langsung pergi tanpa menoleh. Lukanya terbuka lagi. Jika saja dulu dia tidak bertemu dan tertarik pada lelaki itu, dia pasti tidak akan menyiakan hidupnya dalam rasa sakit. Hanya Sean hal paling indah yang hadir dalam pernikahannya. Selebihnya sampah! “Pulang Neng Lea?” sapa Pak Ridwan, tetangga yang hanya beberapa rumah dari rumahnya. Lea mencoba tersenyum sambil mengangguk. “Iya, Pak.” Jawabnya sesingkat mungkin. Ingin buru-buru sampai rumah dan mengistirahatkan tubuh dan batinnya yang lelah. “Sekarang kerja di mana?” tanya Pak Ridwan lagi. Seingat Lea, dulu dia sudah pernah bertanya. Pak Ridwan ini memang termasuk yang paling sering menegurnya. Entah karena ramah, atau hanya ingin tau. Yang jelas Lea tidak pernah berpikir macam-macam. Karena selain bertanya hal-hal umum, Pak Ridwan tidak pernah nampak bergenit-genit ria. Walau keramahan Pak Ridwan kali ini sedikit mengganggu. “Masih di tempat yang sama, pak.” “Yang di Sudirman?” “Iya.” “Oh, iya sudah. Pulang, istirahat.” “Iya, Pak, terimakasih.” Lea melanjutkan langkahnya untuk sampai kerumah. Tapi lagi-lagi, baru saja dia sampai di jalan depan rumah orangtuanya, ada seseorang yang menyiramkan air yang membasahi seluruh tubuh Lea. Ada apa dengan hari ini?! “Sudah kuperingatkan lewat ibumu, tapi kamu kok ya nggak sadar-sadar juga!” bentak Bu Hesti, istri Pak Ridwan. Lea berbalik menghadapi Bu Hesti yang masih memegang ember kecil, tempatnya menampung air untuk menyiram Lea. “Ada apa, Bu?” tanya Lea lelah. Kalau ini masalah Lea sering bertegur sapa dengan Pak Ridwan ketika kebetulan bertemu di depan rumahnya, Lea merasa sungguh keterlaluan. “Aku sudah bilang, kamu jangan suka genit-genitan sama suami orang! Ibu-ibu di sini sudah resah karena kamu!” “Apa salah saya? Saya cuma bertegur sapa dengan tetangga, apa salah? Kalau Bu Hesti ada di depan rumah juga saya sering tegur Ibu, kan?” Mendengar ribut-ribut, orangtua Lea keluar dari rumah. Sean dalam gandengan ibunya memanggil Lea. Entah karena melihat mamanya dibentak-bentak orang, atau memang nalurinya sebagai anak bisa merasakan kalau ibunya sedang sedih, langsung menangis dan dibawa kedalam lagi oleh ibu Lea. Sementara ayah Lea berlari kecil menghampiri. “Ada apa ini, Bu?!” “Anak bapak ini selalu tebar pesona?! Menggoda bapak-bapak di komplek sini!” Tergopoh-gopoh Pak Ridwan menghampiri untuk menarik istrinya pulang. Yang tentu saja, di halau oleh Bu Hesti sendiri. dia belum puas. Lea memejamkan mata, mendengarkan keributan Pak Ridwan dan Bu Hesti. Mencoba menelan air mata yang membuat tenggorokannya sakit. “Sudah cukup…” ujarnya pelan dan tidak ada yang mendengar. “Cukup!!!” bentaknya kehilangan sabar. Bu Hesti dan Pak Ridwan mendadak diam, terkejut. “Memang apa yang salah?! Saya hanya bertegur sapa! Bukan menjajakan diri! Memangnya apa yang membuat ibu-ibu resah?! Apa saya pernah berkeliling menggunakan pakaian sexy? Apa Ibu pernah melihat saya sedang merayu satu orang saja?! Pernah?!” Lea tidak bisa lagi menahan air matanya. “Apa salah saya sehingga harus menjadi ibu tunggal?! Apa ibu-ibu resah karena sering melihat saya pulang malam? Saya bekerja, Bu! Terkadang lembur! Untuk menghidupi anak saya! Apa ibu-ibu yang sering membicarakan saya mau menanggung nafkah saya dan anak saya?!” Teriakan dan isakannya berpadu, memancing orang-orang keluar dari rumah, ingin tau ada ribut-ribut apa di depan. Bu Hesti terpaku, tidak menyangka akan mendapat balasan seperti itu. Lea terus menangis, hampir berjongkok karena kakinya yang tidak memiliki tenaga, tapi ada tangan yang menopangnya dedangan memegangi kedua bahu Lea. Belum sempat Lea menoleh, untuk melihat siapa, orang itu sudah bicara. “Ibu-ibu nggak perlu khawatir lagi.” Suara berwibawa yang tidak ingin Lea dengar. “Saya calon suami Lea. Kami akan menikah. Jadi saya harap tidak ada lagi yang berpikiran macam-macam terhadap Lea!” Keinginan Lea menangis mendadak terhenti. Rasa terkejutnya lebih dari siapapun yang ada di sana. Jangankan untuk menikah, untuk bertemu dengan lelaki yang menjebak Lea menikah dengan adiknya yang gay, sudah dianggapnya musibah!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD