Chapter 1

343 Words
Bab 1 Permintaan Bari “Bagaimana, Pa? Papa mau, kan? Bari tidak akan bisa menikahi Rumi.” “Bari, kamu jangan berkata yang tidak-tidak. Kenapa kamu tidak bisa menikahi Rumi? Kalian saling mencintai dan berpacaran sejak SMA. Sekarang, hanya karena kamu sakit, kamu menyerah. Papa tidak mau kamu seperti ini. Papa akan bayar dokter terbaik untuk menyembuhkanmu. Percayalah, umur, jodoh, rejeki, itu sudah diatur oleh Tuhan.” Angkasa mengusap sayang rambut anak sulungnya yang terbaring lemah, karena sakit kelenjar getah bening yang cukup parah. Air mata pun menetes di kedua pipi Bari. Wajah pemuda berusia dua puluh lima tahun itu sangat pucat dan nampak tak berdaya. Tubuhnya sangat lemas walau sudah ratusan obat masuk ke dalam tenggorokannya. Tidak mungkin Bari bisa menikahi Rumi, umurnya tidak akan lama lagi dan ia tahu hal itu. “Pa, maafin Bari. Rumi saya rusak. Saya berdosa, Pa. Tolong jangan buat saya semakin berdosa dengan meninggalkannya begitu saja tanpa ada yang mau bertanggung jawab. Bagaimana jika nanti dia hamil? Bagaimana jika tidak ada yang mau dengannya? Pa, Bari mohon,” suara Bari kian serak dan terengah. Melihat anaknya semakin payah, Angkasa menekan tombol yang ada di sisi kanan tempat tidur. Wajahnya mendadak sangat khawatir dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Ingin sekali pria dewasa berusia empat puluh lima tahun itu menangis melihat keadaan Bari yang semakin payah, tetapi ia harus terlihat kuat, agar Bari tidak semakin down. Dua orang perawat pun datang dan memeriksa keadaan Bari. Salah seorang dari mereka secepat kilat memasang selang oksigen pada hidung Bari karena tiba-tiba saja ia sesak napas. Padahal sejak tiga hari dirawat, ia tidak mengalami sesak napas sama sekali. “Kami akan panggilkan dokter segera. Tunggu ya, Pak?” kata salah seorang perawat pada Angkasa. “Pa, tolong. Nikahi Rumi,” suara Bari semakin pelan saja. Bintang pun membuang pandangan, untuk menyembunyikan air matanya yang jatuh. Pria dewasa itu meremas rambutnya dengan sangat kuat, karena diminta untuk memilih satu pilihan yang sangat berat untuknya. “Sampaikan maaf Bari pada Tante Lana,” kata Bari lagi sambil meneteskan air mata. “Tolong kabulkan permintaan terakhir Bari, Pa,” ujar Bari sekali lagi dengan napas masih terengah-engah. Angkasa yang menunduk karena ingin menyembunyikan air matanya, dengan sangat terpaksa mengangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD