Bab 18 Rumi ... apakah saya boleh ...? Rumi memberanikan diri mengangkat wajahnya sambil mengerutkan dahi. “Maksud, Abang?” Angkasa menatap Rumi dan mencoba untuk membuka suaranya kembali, tetapi akhirnya ia hanya tersenyum sedikit, lalu membuang muka. “Lupakan saja.” Angkasa bangun dari duduk lalu menekan intercom. “Citra, buatkan jus jambu biji untuk istri saya. Tanpa gula.” Angkasa berpesan pada sekretarisnya untuk membawakan jus kesukaan Rumi, tetapi pria itu terus menatap istrinya. Matanya seolah-olah berbicara bahwa dirinya sudah banyak tahu tentang istrinya itu. “Apakah ini untuk kita makan berdua?” tanya Angkasa saat melihat dua box stereofoam ada di atas mejanya. “Eh? Iya, Bang. Ini saya beli bubur ayam dan ingin sarapan bersama di sini. Bolehkan?” Angkasa tersenyum lebar

