Revan terlihat masih tidak suka dengan informasi yang aku berikan. Ia menjauhiku, dengan fokus ke arah lain. Mendapati bahwa rahangnya diketatkan, aku tahu dengan pasti bahwa ia sedang menahan amarahnya sekarang ini. Aku tersenyum, meraih tangan Revan untuk aku genggam, kemudian kuletakkan di atas pahaku. Kepala turut aku sandarkan di bahu Revan, sembari kami terus menyimak acara. "Nggak usah nangis." Aku berbisik rendah, meledek, walaupun Revan hanya menunjukkan mimik marah tanpa kesedihan sama sekali. "Kamu nggak terlalu rugi, kok. Paling cuman nyesel tinggalin keluarga kamu. Selain itu, kamu harusnya bersyukur, karena setelah merawat Vania, kamu sudah bisa jadi ayah yang baik." Revan menggenggam erat tanganku. Aku pikir, dia sudah luluh. Jadi, aku semakin membuat diriku nyaman bers

