Aku dirawat dengan baik oleh Revan. Ia pulang tepat waktu, bahkan, ia tidak berangkat ke kantor jika bukan ada pertemuan penting. Ia membangun ruangan sendiri, yang menyimpan semua pekerjaannya. Fokusnya benar-benar hanya untukku sekarang. Mama sendiri, beliau mau susah payah menghubungi beberapa rekan kerja dan investornya masalah kemungkinan keterlambatan pembangunan, demi membiarkan Revan santai bersamaku. Meski sudah beberapa hari hidup kami damai, jujur saja, aku masih ... takut. Dia sepenuhnya belum menjadi milikku karena, ia masih terikat pernikahan dengan Adelia. "Kamu masih keberatan cerai dari Adelia? Masih ... cinta, ya?" tanyaku hati-hati, ketika Revan tampak luang di ruang keluarga. "Belum ... yakin. Saya masih merasa ... bertanggungjawab ke Adelia." "Bertanggungjawab k

