4. Telepati

2423 Words
Semua scene ini terjadi begitu cepat. Rama tak mau melepaskanku. Aku pun tak berusaha melepaskan diri. Bibir kami menyatu, melekat tak ingin lepas. Aku mulai terbiasa dengan suhu panas tubuh Rama. Bahkan jadi menikmatinya. Tak kupusingkan lagi bibir yang mulai berdarah. Aku terus mengikuti apa pun yang Rama perbuat, dan bahkan berinisiatif membalasnya. Kami berdua saling menggigit dan saling menyesap. Lebih tepatnya, aku merasa Rama tengah memakan wajahku dan aku mengikutinya. "Sinta ...," gumam Rama di tengah ciumannya, mengembuskan napas panas yang menebar di wajahku. Dalam hati sempat bertanya, apakah sakit Rama akan menular padaku? Entahlah, aku bahkan tak peduli bila itu terjadi. Aku, hanya ingin melupakan semuanya dan meneruskan permainan ini sejenak. Ciuman Rama semakin berani. Aku pun tak lagi merasa malu. Kami beradu dan lupa diri. Semakin lama, semakin tak terkendali. Tak hanya bibir, Rama pun mulai menyentuhku. "Rama ...," racauku tanpa sadar, saat gelenyar asing menyerangku tatkala Rama menambah intensitasnya sentuhannya. Kurasakan sengatan listrik bertegangan rendah di setiap sentuhan kulit kami. Ini kesalahan, bukan? Bibirku semakin terasa bengkak dan berdarah parah. Namun, Rama masih terus menerus menginvasi mulutku dengan mata terpejam. Bibir Rama terdengar meracau pelan. Sangat pelan hingga aku tak mengerti dia sedang berkata apa. Apakah dia benar-benar tidur? Atau pura-pura tidur? Saat tangan Rama yang tadinya mencengkeram kuat kedua lenganku berpindah ke punggung lagi, dia menyandarkan kepalanya ke bagian depan tubuhku yang rapuh. Melecutkan perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Hatiku berdesir. Darah mudaku terasa mendidih. Jantungku berdegup kencang, tepat di tempat telinga Rama bersandar. Mungkin, saat ini Rama mendengar betapa kacau kondisiku sekarang. Sesaat kemudian, kudengar mulut Rama berbisik dengan suaranya yang serak dan berat, "Mimpi yang indah. Aku enggak akan bangun! Oh, Sayangku!" Kami tetap berada di posisi canggung tersebut hingga beberapa lama. Rama tertidur kembali dengan pulas dalam keadaan memelukku, menjadikanku sebagai sandaran. Bagaikan bantal yang bernapas, aku pun berusaha untuk tidak bergerak agar tidurnya tak terganggu. Badanku mulai berkeringat karena berbagi suhu tubuh dengan Rama yang panas. Pendingin ruangan di kamar ini terasa rusak, tak sedikit pun ada hawa dingin yang membelai lembut kulitku. Kutelan ludah berkali-kali, memikirkan apa yang baru saja terjadi padaku dan sahabat masa kecilku. Dengkuran lembut mulai terdengar kembali dari bibir Rama. Pertanda tidurnya mulai lelap. Tanpa menunggu lagi, aku segera membaringkan Rama ke kasur. Perlahan tentunya, agar dia tidak bangun. Ketegangan di tubuhku akhirnya mereda. Kurentangkan kedua tangan ke atas dan ke samping. Kuputar punggung ke depan dan belakang agar kembali rileks. Terdengar bunyi gertakan sendi yang kaku saat aku melakukannya. Entah hal ini baik atau tidak dari segi kesehatan, tapi melakukannya sungguh membuat badan terasa nyaman. Tak rela rasanya bila harus menghentikan kebiasaan ini. Tiba-tiba, kudengar suara langkah kaki mendekati kamar Rama. Pintu pun terbuka perlahan, menimbulkan bunyi lembut yang tak akan membangunkan Rama. "Eh, ada Sinta disini. Maaf tadi Tante nggak dengar kamu masuk. Kirain Rama sendirian," kata Tante Ratih saat memasuki kamar Rama. Lucu, bukan? Siapa yang menyelonong masuk rumah, siapa yang meminta maaf. Memang begitulah dekatnya hubungan keluarga kami. Aku yang masih belum sepenuhnya sadar karena kejadian memalukan dengan Rama tadi, hanya memandangi Tante Ratih dengan senyuman yang sedikit kupaksakan. Napasku masih memburu. Mukaku masih terasa panas dan agak gatal karena cambang tipis Rama yang baru saja menyapu kulit wajahku. Mungkin dia sudah beberapa hari tidak bercukur. "Kenapa kamu nggak bangunkan Rama, Sin?" tanya Tante Ratih lagi. Beliau mendekati sisi ranjang. Tangannya terulur, hendak membangunkan Rama yang masih tertidur lelap. "Jangan! Eggak usah, Tan! Biar Rama istirahat aja. Lagian Sinta juga udah mau pulang, kok," tolakku sambil memperhatikan muka Rama yang tertidur pulas bagai bayi. Bayi yang tanpa sadar mencuri ciuman pertamaku. Iya! Bayi besar itu tertidur pulas, setelah apa yang dia lakukan barusan tadi? Sulit dipercaya. Apa benar dia mengira tadi itu hanya mimpi? Kalau benar begitu, jangan sampai dia tahu aku sempat berada di kamarnya. Tidak ada saksi yang melihat kejadian tadi, bukan? Kalau begitu, tinggal menghilangkan jejak saja. Aku harus kabur dari sini secepat mungkin. "Oh ya, Tante! Tolong jangan bilang Rama, ya, kalau Sinta main ke sini," pintaku memelas ke Tante Ratih, menangkupkan kedua telapak tanganku. Aku yakin beliau tahu tentang pertengkaran kami beberapa hari yang lalu. Jadi, permintaanku kali ini tak akan terdengar mencurigakan. "Oke, beres, Sinta!" kata Tante Ratih tertawa kecil sambil mengedipkan mata kanan dan mengacungkan jempol. Aku pun lega. Tante Ratih ini memang selalu bisa diandalkan. Bila aku berselisih dengan putranya, beliau tidak pernah ikut campur. Tidak pernah bersikap sok tua dan sok menasihati seperti mamaku. Aku pun tersenyum canggung. "Sinta pamit dulu ya, Tan!" ucapku sambil mencium pipi kanan dan kiri Tante Ratih. "Oh, ya, Tante. Sinta nitip ini buat Rama," kataku sambil memberikan bungkusan berisi beberapa tube vitamin C dosis tinggi. "Tapi, jangan bilang dari Sinta ya, Tan! Pinky promise, please!" tambahku sambil mengacungkan jari kelingking kanan. Tante Ratih pun tertawa geli sambil menyambut dengan kelingking kanannya yang nyaris belum ada kerutan walaupun beliau sudah berumur. "Kamu ini, kayak anak kecil aja!" Tante Ratih menggeleng sambil mencubit pipiku. Panas. "Hanya memastikan, Tante! Gantinya materei sepuluh ribu," ujarku agak sebal karena cubitan beliau masih terasa sakit. "Iya, beres ... tenang aja ...," jawab Tante Ratih sambil menepuk lembut lenganku, memandangku dengan penuh arti. "Makasih, ya, udah ke sini jenguk Rama." Aku menjawabnya dengan anggukan pelan. Aku mengangkat alis dan mengulum bibir bawah, mencoba menelan rasa bersalah atas perbuatan yang baru saja aku lakukan dengan putranya. Apa jadinya kalau Tante Ratih melihat adegan ... err ... adegan apa ya? Rama menciumku? Atau kami berciuman? Tidak mungkin beliau akan setenang ini. Hatiku semakin diliputi perasaan bersalah karena mengkhianati kepercayaan orang tua kami. Takut Rama terbangun bila lebih lama lagi berada di sini, aku segera turun dan memesan taksi untuk kembali ke markas. Jangan sampai Kiki memprotes lagi karena aku meninggalkan pekerjaan. Bisa-bisa dia membalas dendam dengan memperbanyak daftar julukan buruk untukku di kosakatanya. *** "Sin ... Sin ... bangun!" kudengar ada suara sayup-sayup membangunkanku. "Sin, bangun! Sudah pagi. Ya ampun! Kebo banget, sih, ini anak kalau tidur!" omel suara yang sangat familiar di telingaku. Kali ini aku merasa seseorang menggoyangkan badanku agak keras. "Sin, bangun! Kamu ngiler banyak gitu! Banjir Iker! Di depan lagi ada wartawan tabloid Femina mau ngeliput R&S!" Apa? Ngiler ... wartawan ... ngeliput ... R&S .... Kucoba mengumpulkan informasi yang serta merta diterima otakku yang masih belum sepenuhnya sadar. "Apa?" Aku berseru, terperanjat. Badanku otomatis terduduk tegap. Mataku terbelalak menatap Rama di depanku. Kucengkeram lengannya begitu erat, membuat kemejanya yang rapi menjadi kusut di bagian yang aku genggam. Aku memandang bingung ke arah Rama. Kemudian kulihat ke arah pintu depan. Masih tutup. Gorden juga belum dibuka. Sedetik kemudian, barulah kusadari bahwa manusia menyebalkan di depanku telah menipuku. Kutarik badan besar Rama dan kujatuhkan di sofa yang masih hangat karena kutiduri dari semalam. Aku kunci pergerakannya dengan menduduki kedua pahanya. Kupukuli badannya dengan telapak tanganku dan kugelitiki ketiaknya sampai dia tertawa tak tertolong, meminta ampun. Terakhir, kukeluarkan senjata mutakhir. Embusan napas bangun tidur yang super bau! "Rasakan ini! Huf ... huf ... huf!" Embusku sambil memegangi erat kedua lengannya, menempelkan lekat di sofa, agar Rama tak bisa menutup hidung. "No! Ampun, Sin! Bau! Bau banget!" teriaknya sambil berusaha memalingkan mukanya ke kanan dan ke kiri. Semakin kudekatkan mulut ke wajahnya agar semakin menyiksa. Semakin dekat. Sedekat mungkin. Namun, tiba-tiba aku teringat kejadian dua hari lalu di kamarnya. Desiran hati mulai menyerang. Terlebih lagi, saat mata kami tak sengaja bertemu dan saling menatap lekat. Kulihat jakun Rama bergerak naik dan turun, begitu pula dengan diriku–andai saja wanita mempunyai jakun. Muka mulai terasa hangat dan aku pun berhenti melancarkan serangan, terpaku mengamati pahatan sempurna wajah Rama. Rahangnya tegas, berpadu sempurna dengan hidung mancung khas keluarganya. Bibir merah mudanya yang berisi, terbelah maskulin ... Oh! Bibir! Tiba-tiba aku teringat kembali akan sensasi bibir manis itu ketika berpagutan dengan bibirku. Entah berapa lama kami saling bertatapan. Mungkin hanya beberapa detik, tapi terasa begitu lama. Setidaknya untukku. Mata Rama yang tadinya menatapku, tiba-tiba melotot. "Sin, turun! Malu, ada orang!" "Dasar! Memangnya kamu pikir aku akan tertipu lagi? Aku tidak sebod—" Glekhh! Mataku mengarahkan pandangan ke pintu, tercengang mendapati dua orang yang berdiri di sana. Kiki dan seorang yang terlihat seperti ... wartawan! "Aargh!" Aku menjerit, melepaskan Rama dari cengkeraman dan segera berlari ke kamar mandi di dalam ruangan kerja. Ceroboh sekali! Kenapa Kiki tidak mengetuk pintu dulu saat hendak masuk? Apalagi kalau membawa tamu dari luar. Orang tabloid juga! Apa Kiki lupa kalau aku menginap di markas semalam? Kiki mungkin lupa bahwa hal yang paling tabu bagiku adalah terpergok tampil berantakan di depan wartawan. Awas saja nanti, aku akan mengomeli dia habis-habisan! Segera aku mandi dan mengganti baju yang memang aku siapkan kala menginap di markas. Kurapikan penampilanku dengan cepat dan kuaplikasikan make-up kilat, salah satu keahlian yang aku peroleh saat masih berprofesi sebagai model dulu. Aku bercermin sekali lagi untuk memastikan penampilanku baik-baik saja. Kemudian, aku segera menuju ruang meeting, di mana wartawan wanita tadi menunggu untuk mewawancarai aku dan Rama. Ketika masuk ke ruangan, kulihat Rama berbincang santai dengan wartawati itu. Sekilas kulihat penampilan wartawati tersebut. Bisa dibilang cantik dan modis, tidak kalah dengan teman-teman artisku. Kemudian aku amati respons Rama. Apakah dia terlihat kebal terhadap wanita cantik atau tidak, sebagaimana dugaan Rania. Rama terlihat cuek, santai, dan profesional. Ekspresi sahabat tampanku itu tidak menunjukkan ketertarikan kepada lawan jenis cantik di hadapannya. Apakah mungkin karena profesi Rama yang terbiasa bersama wanita-wanita cantik? Apakah hal seperti itu bisa menyebabkan kekebalan khusus? "Ada kabar miring yang beredar, bahwa R&S sebenarnya hanya bisa eksis karena gosip tentang kemesraan Anda berdua. Bagaimana tanggapan Anda tentang hal ini?" tanya wartawati cantik berambut pendek sebahu, yang di tanda pengenalnya bertuliskan Erika. Rama berpikir sejenak, agak kurang senang dengan pertanyaan tersebut. Ini jelas penghinaan besar untuknya yang memang aku akui sangat berbakat di bidangnya. Rahangnya tampak mengeras sejenak. Matanya menatap Erika dengan tajam. Namun, tak lama kemudian, emosinya kembali stabil. Dengan tenang ia menjawab, "Mungkin awalnya bisa jadi pelanggan memang datang karena ingin tahu, entah karena iklan atau gosip. Namun, pada akhirnya mereka sendiri yang akan menentukan seberapa bagus kualitas produk dan pelayanan kami. Lagi pula, sembilan puluh persen pelanggan kami merupakan pelanggan setia. Jadi, Anda bisa simpulkan sendiri apakah gosip tersebut benar atau tidak." Erika tampak tersenyum, mengangkat kedua alisnya, sebagai tanda salut. Lalu, dia kembali mengajukan pertanyaan lain, "Bisakah Anda memberi kami bocoran tentang koleksi R&S bulan depan?" Aku terdiam karena kami berdua belum sempat meeting. Hal-hal bodoh yang tak seharusnya aku lakukan, ternyata berimbas buruk kepada citra bisnis kami. Kurasa, kali ini Rama akan mencoba menyelamatkan muka kami dengan pernyataan semacam: 'silakan ditunggu saja, yang pasti masih seputar couple outfit yang akan membuat Anda ingin memakainya bersama pasangan' atau pernyataan lain yang senada, untuk menyembunyikan ketidaksiapan kami. Namun, jawaban seperti itu tentu tidak akan membantu, mengingat pertanyaan sebelumnya sudah begitu menyerang brand kami yang usianya masih sangat junior. Hal ini membuatku teringat akan suatu hal yang terlewatkan. "Bukan Cinta Biasa," jawabku. Yang membuat kaget Rama dan tentunya aku sendiri. Duh, bagaimana aku akan menjelaskan ke Erika kalau dia bertanya lebih lanjut? Aku kan tidak mempersiapkan materi dengan baik. Mendadak aku menyesali kenekatan karena memaksakan jawaban yang begitu hijau demi terlihat keren. "Bisakah dijelaskan dengan lebih rinci?" kejar Erika sesuai ekspektasi. Aku lagi-lagi terdiam, berpikir dengan mengerahkan kecerdasanku yang paling cerdas. Namun, ternyata aku baru saja menyadari bahwa kemampuan otakku ternyata sangat terbatas. Tak kusangka, tiba-tiba Rama menjawab pertanyaan Erika dengan penuh percaya diri, "Kami akan mencoba menampilkan sisi lain dari cinta dan kasih sayang yang tak biasa dialami oleh setiap pasangan. Bisa jadi, nanti akan ada model baru selain kami sendiri yang akan menjadi brand ambassador R&S." Aku hanya terdiam dan terpana akan jawaban Rama. Erika pun tersenyum puas dan mendoakan kesuksesan untuk kami. Setelah mengantar Erika sampai ke pintu depan, aku pun menoleh ke Rama dengan pandangan tak sabar ingin mengkonfirmasi sesuatu. "Ram, kamu tadi jawab bakal ada model baru? Siapa yang kamu maksud? Kita, 'kan, enggak ada budget sebanyak itu buat bayarin model dari luar," tanyaku menyelidik. Penasaran siapa model yang akan mendapat kehormatan mengenakan busana rancangannya selain kami sendiri. "Ya, siapa lagi coba. Kan, kamu bilang 'Bukan Cinta Biasa'," jawab Rama santai sambil berjalan menuju ruangan kerja kami. Gaya cueknya sedikit membuatku sebal. Namun, tiba-tiba tercetus sebuah pikiran di benakku. "Jangan-jangan yang kita maksud sama?" tanyaku memandang Rama dengan penuh rasa takjub. "Tentu, dong!" jawab Rama sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mata kanannya, mengingatkanku akan kebiasaan Tante Ratih. Hanya saja, Rama melakukannya dengan gaya maskulin. "Rama!" aku berlari dan memeluknya erat penuh sayang, "Aku tadi sempat deg-degan karena takut ketahuan kalau kita belum sepakat tentang hal ini. Takut banget tau!" Aku memeluk Rama dengan manja. Kumainkan kemeja bagian depan sambil memukul lembut dadanya dengan gemas dengan tangan kananku, sementara tanganku yang lain masih bergelayut di lehernya. Rama membelai rambutku dengan penuh rasa sayang. Matanya memandangku dengan lembut, seperti biasa. "Sebenarnya aku juga kepikiran hal yang sama dari kemarin. Tapi kamunya berlagak ngambek segala. Enggak bisa diskusi jadinya," kata Rama sambil menangkup pipi kanan kiriku dengan kedua tangannya. "Untung aku langsung paham waktu kamu jawab tentang tema tadi." Memang, di dunia ini tidak ada yang memahami diriku lebih dari Rama. Sahabat terbaikku, sahabat sejatiku. Apa pun yang terjadi, aku akan terus menjaga persahabatanku dengan Rama. Tak akan kubiarkan sesuatu merusaknya. Begitu juga insiden dua hari lalu di kamarnya. Lebih baik aku terus diam. Berpura-pura tak terjadi apa-apa. Bila sampai Rama mengetahui yang sebenarnya, mungkin kami tak akan bisa lagi bersikap seperti biasa. Kruyuk! Terdengar suara perut seseorang berbunyi–perutku. Rama mengangkat alis. Aku pun segera melepas pelukanku dan bergegas mengambil dompet. "Ram, Ki, aku mau beli sarapan dulu, ya! Enggak lama, kok!" pamitku kemudian. Berlari keluar, aku segera keluar untuk membeli sandwich ayam di seberang jalan. Begitu keluar dari markas, aku melihat Erika yang ternyata masih berada di tempat parkir, terlihat sedang menelepon. Demi kesopanan, aku pun bermaksud mendekatinya, dan berbasa-basi sejenak. Namun, nada serius dalam percakapannya dengan lawan bicara di telepon, membuatku terhenti walau jarak kami tinggal beberapa langkah. "Baik, Bos! Saya pikir, pastinya mereka tak akan lama bertahan," ujarnya seraya mengangguk. Tubuhnya langsingnya duduk di bagian depan mobil, membelakangiku, membuatnya tak menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya. "Baiklah, rencana pertama akan segera dilancarkan. Aku yakin itu akan membuat pengaruh besar. Kita lihat saja nanti!" ujarnya dengan nada sinis, hingga aku yakin saat ini bibirnya pasti sedang tersenyum asimetris. Kakiku mendadak terasa sangat berat. Seolah ada makhluk bawah tanah yang mencengkeram betisku dari bawah, menahanku dari mundur, atau pun maju. Diam kaku di tempat. Berbagai pikiran buruk melintasi benakku. Kira-kira, apa yang Erika maksudkan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD