18. Gladi Resik Tak Terduga

1061 Words
Hening. Tak seorang pun dari kami yang berusaha untuk memecah kesunyian ini. Kuamati wajah Rama yang kusut, pucat, dan berminyak karena ... kurang tidur? Tidak. Itu lebih tampak seperti tidak tidur berhari-hari. Pasti karena dia membuat gaun ini dari nol. Bukan modifikasi, seperti yang dia lakukan ke gaun pengantin Rania saat pemotretan dulu. Rama melangkahkan kaki menuju meja kerjanya. Dia mengeluarkan beberapa kotak manik-manik berwarna putih gading yang bervariasi ukurannya. Manik-manik sebanyak itu ... mataku terbelalak menyadari bahwa dia berencana membuat gaun ini allover beaded. "Lepaskan gaunnya," suruhnya padaku tanpa menatap wajahku seolah kotak manik-maniknya jauh lebih menarik untuk dilihat. "Itu belum selesai." "Ini cantik," tentangku. Aku tak ingin dia begadang lagi hanya untuk memasang manik-manik itu satu persatu di sekujur gaun. "Tidak perlu diberi tambahan manik-manik." "Kurang mewah bila tanpa manik-manik," ujarnya bersikeras. Percayalah, sebagai orang yang seprofesi dengannya, tentu aku paham bahwa manik-manik itu penting. Namun, saat ini tentu bukan itu yang aku khawatirkan. Kalau memang dia menginginkan kesan glamor, mengapa tidak membeli bahan yang premade sehingga dia tak perlu repot-repot memasangnya? Alasannya pasti hanya agar motifnya tidak pasaran. Se-klise itu. "Aku enggak akan mau pakai gaun ini kalau kamu memaksa pakai manik-manik," ancamku, senjata andalanku, berharap dia akan menyerah. Aku selalu mengancamnya bila kami berselisih pendapat. Biasanya, hal ini selalu berhasil. "Aku desainernya!" bentaknya dengan suara makin tinggi. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal, menahan marah. "Apa susahnya nurut?" Oh? Jadi dia sekarang menyuruhku menurut? Sejak kapan aku akan menuruti kemauan orang? Aku tahu dia marah karena aku menurut saja dijodohkan dengan Liam. Tapi itu semua kulakukan demi kebaikannya. Tak bisakah dia memahami perasaanku tanpa harus aku katakan? "Huh? Kapan aku pernah memintamu untuk membuat gaun ini?" serangku dengan nada seketus mungkin. Aku tatap matanya dengan pandangan menantang setajam-tajamnya. Suasana hening kembali. Rama mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya yang lebar. Berusaha meredam amarahnya. "Aku nggak sanggup kalau harus melihatmu memakai gaun yang dirancang sembarangan oleh desainer lain," ucapnya dengan suara pelan, seolah-olah memakai gaun rancangan desainer lain adalah perbuatan selingkuh dari kekasih. Hal ini membuatku tahu betapa berharganya diriku untuknya. Jika mungkin, Rama bahkan akan menenun kainnya sendiri, khusus untukku. Aku pun mendekatinya. Kugenggam telapak tangan kirinya, dan kuremas lembut. "You did a good job. Gaun ini indah sekali dan sangat nyaman dipakai." "...." Tak ada sahutan darinya, pertanda dia belum sependapat. Sehingga aku terpaksa memeras otak, memikirkan segala cara agar dia berhenti membuat gaun sempurna untuk pernikahan bodohku. "Mana yang benar ..." tanyaku dengan nada menantang, "aku terlihat cantik karena gaun rancanganmu, atau gaun rancanganmu yang terlihat cantik karena aku yang memakainya?" Bola mata Rama membulat memandangku seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan. Ini penghinaan. Ini jebakan. Dia harus memilih antara mengatakan aku jelek atau merendahkan talentanya sendiri. Dalam hati aku mencaci diriku sendiri. Bagaimana aku bisa sepercaya diri seperti sekarang ini? Bagaimana kalau dia memilih meledekku seperti yang biasa dia lakukan? Aaahh, tak mungkin. Suasananya sekarang begitu serius. Tak mungkin dia berbuat iseng. Tak lama, Rama tertawa kecil. Jantungku berdegup kencang karena tak mengerti maksud dari perbuatannya. Rasanya aku tak sanggup kalau ada yang mengatakan diriku jelek di saat aku benar-benar percaya bahwa kecantikanku bisa membuat daster buluk terlihat seperti baju pesta. Tatapan Rama yang tadinya meradang, sekarang tampak lembut mengamatiku dari ujung rambut hingga ujung kaki ... mungkin lebih tepatnya, tatapannya sedikit ... apa itu ... nakalkah? Kedua telapak tangannya mencengkeram lembut bahuku yang setengah terbuka karena kain brocade yang tembus pandang. Matanya masih terus memandangiku ... bibir kanannya naik sedikit .... Eh??? Mengapa situasi ini seperti ada di film-film yang sering aku tonton? Dia tidak sedang ingin mengatakan dialog klasik 'kamu paling cantik kalau tidak mengenakan apapun', kan? Hweekk ... dasar pikiran kotor. Bisa-bisanya aku berpikir buruk tentang Rama. Nggak mungkin lah Rama mengatakan hal semacam itu padaku. Kalaupun iya, akan kupastikan dia mendapatkan balasan yang setimpal. "Kalau gitu kita coba sekalian aksesoris dan tudung kepalanya," kata Rama membuyarkan lamunanku yang sudah menjurus ke hal-hal negatif. "Dan tentunya sedikit make-up." Yes! Hatiku bersorak kegirangan. Jauh lebih senang dari senyuman lebar yang kini kutampakkan. Aku selalu percaya kecerdikanku ini berasal dari nenekku yang seorang pengacara. Pasti seperti inilah rasanya memenangkan argumen alot saat persidangan berlangsung. Kemudian, Rama mendudukkanku di meja rias dan sibuk memoleskan make-up ringan. Lipstik warna salem dilengkapi dengan blush-on dan eye shadow dengan warna senada membuat wajahku tampak segar. Rambutku digelung rapi, lalu dipasangnya asesoris pendukung serta tudung kepala yang menambah anggun penampilanku. Kuamati hasil kerja tiga puluh menit ini di depan cermin dengan senyuman puas. Aku menoleh ke arah Rama, menunjukkan bahwa aku sangat senang dan gaun ini sudah cukup untukku, tanpa harus repot-repot memasang hiasan tambahan. Dan lagi-lagi, Rama memandangku tanpa berkata apapun. Hanya kekaguman seperti biasa ... tidak ... sepertinya kali ini tidak seperti biasanya. Benarkah begitu? Rama mendekat ke arahku hingga berdiri tepat di depanku. Seandainya saja bukan karena celana pendek dan kaus oblongnya, tentulah saat ini kami terlihat seperti sepasang pengantin yang akan mengikat janji suci. Mata Rama terus menatap lekat wajahku, lalu dibukanya tudung tipis yang tadinya menutupi wajahku. Eh, bukankah ini adegan? Kutepis lagi pikiran yang bukan-bukan tentang Rama. Terbukti tadi aku telah salah menuduhnya walau tak kuungkapkan dengan terus terang. Mata kami beradu. Lekat menatap. Entah berapa lama seperti itu. Betapa kali ini aku salah menduga, karena sekarang aku tak lagi bisa melihat mata Rama. Telapak tangannya tiba-tiba saja sudah menangkup kedua sisi telingaku. Wajahku sudah tertutup sempurna oleh wajahnya. Di atas semua itu, bibir Rama telah menyentuh bibirku. Kali ini begitu lembut, tidak kasar seperti yang pertama kali. Dia menyentuhku dengan hati-hati, seolah-olah aku adalah benda rapuh yang mudah retak bila disentuh. Dia menarik wajahnya sedikit menjauh, untuk memberiku kesempatan bernafas. Mata kami tetap bertatapan seolah tak berkedip. "Ini yang kedua, bukan?" bisiknya retoris. Jadi, selama ini dia tahu kalau kami pernah berciuman? Aku yang seharusnya marah karena merasa dibohongi, hanya terpaku saat melihat bekas lipstikku yang menempel di bibirnya. Oh, mungkinkah dia tahu kami berciuman karena aku lupa membersihkan bibirnya dari bekas lipstikku? Ceroboh sekali. Bibir kami beradu lagi. Kali ini lebih agresif, mematikan logika kami. Berganti dengan ... entahlah apa itu .... Malam pun makin larut, suasana pun menjadi semakin hening .... *** Note: Hi, Pembaca! Terima kasih sudah mengikuti cerita ini. Jangan lupa tap love, komentar, dan tunggu terus kelanjutannya, ya! Semoga kalian suka dan baca terus kelanjutannya. Terima kasih! Inget, tap love biar nggak hilang. Love you all!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD